Ajax vs Getafe – Apa yang Salah dengan Ajax?

View this post on Instagram

Sorry football fans…⚽️💔 #UEL #ajaget

A post shared by AFC Ajax (@afcajax) on

Sesaat setelah peluit panjang pertandingan berbunyi, akun resmi Ajax Amsterdam mengangkat posting ke media sosial. “Kami tersingkir,” sambil menampilkan skor akhir: 2-1 untuk kemenangan De Godenzonen. Mereka tersingkir dari babak 32 besar Liga Europa karena Getafe unggul agregat 3-2. “Maafkan kami para penggemar sepakbola,” bunyi posting lanjutan.

Sebagai semi-finalis Liga Champions musim lalu, sebenarnya Ajax menjadi salah satu tim unggulan di Liga Europa 2019/20. Bahkan sejatinya banyak orang (termasuk saya) yang menunggu apakah Ajax mampu menyamai pencapaian musim lalu. Mungkin terlalu gila berharap mereka melampauinya, apalagi setelah kepindahan Matthijs de Ligt, Frenkie de Jong, dan Lasse Schone.

Namun, tidak bisa dimungkiri, kehilangan De Ligt dan De Jong sangat terasa pengaruhnya terhadap performa tim. Meski pun Edwin van der Sar dan Marc Overmars sanggup mempertahankan Hakim Ziyech, David Neres, Donny van de Beek, hingga Andre Onana serta mendatangkan calon bintang baru seperti Lisandro Martinez, Edson Alvarez, hingga Razvan Marin; tetap tidak bisa menggantikan keberanian De Ligt dan kreativitas De Jong.

AMSTERDAM, NETHERLANDS – FEBRUARY 27: (L-R) Dakonam Djene of Getafe, Dusan Tadic of Ajax during the UEFA Europa League match between Ajax v Getafe at the Johan Cruijff Arena on February 27, 2020 in Amsterdam Netherlands (Photo by Rico Brouwer/Soccrates/Getty Images)

November lalu, Ajax gagal di fase grup Liga Champions setelah dikalahkan Valencia 1-0. Di kandang sendiri. Padahal bermain di Johan Cruijff ArenA. Padahal jika dibandingkan tim peringkat ketiga grup lain, perolehan poin Ajax adalah yang terbanyak.

Undian Liga Europa mempertemukan mereka dengan Getafe. Tim kuda hitam LaLiga Spanyol yang membangun kekuatan di bawah kepelatihan Jose Bordalas. Klub asal kota Madrid itu tidak boleh diremehkan karena memiliki rekor pertahanan terbaik di kompetisi domestik serta sedang menatap sejarah baru dengan lolos ke Liga Champions musim depan.

Dalam dua pertemuan, Getafe tampil lebih baik. Mereka mencundangi Ajax 2-0 di Colisseum Alfonso Perez lalu mencuri gol cepat saat tandang di Johan Cruijff Arena. Situasi itu menyulitkan Ajax. Meski tuan rumah sukses balik membalas dua gol, tetapi Getafe menciptakan lebih banyak peluang. Tiga kali upaya mereka digagalkan tiang gawang. Ditambah hampir tujuh menit waktu tambahan babak kedua, Ajax tetap tak mampu menambah gol yang dibutuhkan guna menyelamatkan petualangan Eropa mereka.

Apa yang salah? Orang-orang akan dengan mudah menganggap kekalahan Ajax tidak bisa dihindarkan karena mereka melepas banyak pemain bintang. Saya selalu bingung masih ada saja yang menggunakan dalih ini. Melepas pemain bintang dan mendapatkan pemasukan transfer memang merupakan strategi bisnis Ajax — bukan karena terpaksa. Tentunya Van der Sar dan Overmars sudah memiliki strategi: kapan harus menahan pemain dan kapan melepasnya.

Betul, Ajax kehilangan De Ligt yang cepat, nekat, dan kuat saat menghadang serbuan lawan. Komposisi bek yang dimiliki Ajax saat ini tidak ada yang segarang sang mantan kapten. Ajax butuh bek berkarakter seperti ini untuk sukses di Eropa — selain De Ligt, masih ingat Davinson Sanchez yang mengantar mereka ke final Liga Europa 2017?

Kehilangan De Jong mungkin yang paling terasa. Baru sekarang terasa andil besar De Jong dalam keberhasilan Ajax ke semi-final Liga Champions musim lalu. De Jong menjadi fokus permainan tim. Kemampuannya menahan bola, mendistribusikan, dan bergerak vertikal mempermudah Ziyech dan Dusan Tadic berkreasi di area pertahanan lawan. Musim ini, Ziyech lebih sering turun ke belakang dan fans tak tahu ke mana Tadic berada selama 90 menit pertandingan.

Kini, Ajax tinggal mencari gengsi domestik di liga dan piala. Ziyech sudah dipastikan hijrah ke Chelsea musim panas mendatang, sedangkan Van de Beek dikaitkan dengan sejumlah klub tenar Eropa. Ketika Van der Sar dan Overmars mencari pengganti, sebaiknya mereka harus meninjau ulang kebijakan mendatangkan pemain berpengalaman seperti Klaas-Jan Huntelaar atau Ryan Babel. Bukannya memberi tambahan energi saat terjun di Eropa, para pemain itu malah menjadi bintang redup di antara calon bintang muda Ajax yang siap bersinar.

Cerita menerbitkan buku “100+ Fakta Unik Piala Dunia”

Syahdan, pertengahan 2009, muncul sebuah gagasan. Piala Dunia Afrika Selatan di depan mata, masak sebagai jurnalis sepakbola tidak memanfaatkan momentum itu? Lalu, bersama Asep Ginanjar kami menelurkan kumpulan cerita menarik yang pernah terjadi sepanjang sejarah turnamen yang dijuluki “The Greatest Show On Earth” itu.

Masa itu, berbeda seperti sekarang, media sosial masih jarang. Fungsinya lebih sebagai ajang reuni, senda gurau, atau bahkan memperluas pergaulan sosial. Kami sedari awal sadar, fans sepakbola bukan lah kalangan yang gemar membaca. Tapi, sekali lagi, sebagai jurnalis setidaknya mesti punya semacam tanggung jawab sosial untuk menerbitkan karya dalam bentuk buku.

Kenapa harus menulis buku?

Alasan paling mudah adalah dengan menulis buku kamu menunjukkan kalau apa yang kamu tulis adalah sesuatu yang benar-benar kamu kuasai dan sangat penting buatmu. Apalagi di zaman serbadigital yang penuh dengan hiruk-pikuk informasi, menulis buku berarti menulis informasi yang sifatnya minim kebisingan dan bebas gangguan (distraction).

Selain itu, bagi jurnalis menulis buku jelas menciptakan gengsi tersendiri. Seolah kamu “naik kelas” dari sekadar jurnalis menjadi “penulis”.

(Bahkan membuatmu berhak mengklaim status “author” di Goodreads – jaringan sosial khusus katalogisasi buku. Cek profil saya di sini.)

Singkat cerita, naskah awal berupa abstraksi, daftar isi, dan bab pertama kami susun lantas kami kirimkan e-mail penawaran ke tiga penerbit. Alhamdulillah, dua di antaranya membalas. Pilihan jatuh pada penerbit Serambi yang waktu itu digawangi mas Anton Kurnia, yang kemudian bertindak sebagai penyunting buku berjudul “100+ Fakta Unik Piala Dunia“.

Pemilihan judul dengan sadar mendahulukan nominal di awal kalimat sebagai pemikat calon pembaca. Akhir Januari 2010, buku ini resmi diterbitkan bertepatan dengan hari tur trofi Piala Dunia Coca-Cola (yang juga berkenan menjadi sponsor buku — terima kasih pak Arif Mujahidin, semoga sehat selalu).

Penerbitan buku ini membawa kami ke layar televisi dan diskusi bedah buku di kampus almamater, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, sebagai bagian dari kegiatan promosi.
Kami rasa waktu penerbitan benar-benar pas. Mencuri start. Rasanya belum banyak buku tentang sepakbola yang diterbitkan di tanah air saat itu. Lucunya, beberapa waktu setelah penerbitan, muncul buku sejenis yang mengambil judul “101 Fakta Piala Dunia”.

Betul. Anda tidak salah baca. Pembajakan ide bahkan bisa sebrutal itu. Bagi kami, itu justru semacam pujian tersendiri karena ternyata gagasan kami mampu menciptakan gagasan di kepala orang lain.

Sayangnya, sepuluh tahun berlalu, belum ada buku lanjutan yang saya hasilkan. Asep sendiri sudah setidaknya dua kali menelurkan hasil karya susulan. Saya masih saja sibuk tak tentu arah bergulat mewujudkan apa-apa yang niskala menjadi niscaya.

Simak juga dan ikuti kicauan Asep Ginanjar di akun Twitternya!

Memahami Arthur Fleck Tanpa Perlu Merasa Bersalah

SPOILER ALERT. Resensi film “Joker” (Todd Phillips, 2019). Lebih baik dibaca setelah menonton.

Komedi sudah mati, terang Todd Phillips dalam sebuah wawancara dengan Vanity Fair beberapa waktu lalu. Hal yang membunuhnya adalah gerakan woke culture yang membuat pelaku komedi ramai-ramai menjauhi materi yang dianggap dapat menyinggung perasaan orang lain.

Kiprah Phillips sebagai sutradara dikenal dengan segudang judul film komedi. Paling terkenal adalah trilogi “The Hangover”, menyusul sejumlah titel lain seperti “Due Date”, “Road Trip”, “Old School”, dan “Starsky and Hutch”. Kesuksesan “The Hangover” membentuk pertemanan Phillips dengan Bradley Cooper. Sejak itu, kolaborasi keduanya sebagai sutradara dan produser secara bergantian melahirkan “War Dogs” (2016) dan “A Star Is Born” (2018). Tahun ini, Phillips meluncurkan karya terbaru, “Joker”, yang turut diproduseri Cooper.

Gagasan membesut “Joker” sudah mendekam lama di dalam pikiran Phillips. Dalam sebuah kesempatan, Phillips mendekati Warner Bros untuk melakukan pitching gagasan tersebut. “Kalau tidak bisa menaklukkan raksasa seperti Marvel,” bilangnya kepada Empire tentang isi pertemuan itu, “lakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa mereka lakukan.”

Gagasan kisah orisinil Joker, tokoh villain dalam komik Batman, disambut baik oleh Warner Bros. Gagasan lain, yaitu membentuk semacam entitas baru dengan nama “DC Black”, mungkin ditangguhkan. Tetapi, “Joker” adalah peluang memaksimalkan potensi yang dimiliki DC Universe. Sebuah unique selling proposition yang mungkin tidak pernah bisa disamai oleh Marvel, termasuk oleh “Logan”.

Sejak awal, “Joker” tidak pernah diniatkan sebagai film superhero dengan efek visual bombastis dan anggaran setinggi langit. Setting film terbilang sederhana: Gotham City tahun 1981 ketika jurang kemiskinan merajalela, tingginya angka kriminalitas serta pengangguran, dan ketidakberpihakan pemerintah. Phillips merefleksikan setting kondisi Gotham saat itu dengan New York pada periode waktu yang sama.

Arthur Fleck adalah bujangan yang bekerja serabutan sebagai badut jalanan dan masih tinggal bersama Penny, ibunya yang sakit-sakitan. Penny senantiasa meminta agar Happy, demikian ia memanggil putra tunggalnya, untuk terus berpikiran positif dan berbahagia. Arthur mengidap sindrom pseudobulber yang membuatnya tak bisa mengendalikan tawa saat tertekan.

Karakter Joker merupakan arch-villain atau musuh utama Batman yang pernah dimainkan berbagai aktor. Dimulai dari Cesar Romero yang komikal, sesuai dengan pendekatan serial Batman tahun 1960-an, lalu Jack Nicholson, Mark Hamill selaku pengisi suara dalam serial animasi Batman, hingga Heath Ledger. Sejauh ini, pendekatan karakter yang dilakukan Christopher Nolan dan Heath Ladger dianggap yang paling berhasil, lalu buat apa lagi Warner Bros/DC/Phillips mempersembahkan cerita orisinil Joker?

Meski mengambil setting 1981, banyak kesesuaian isi cerita dengan kondisi kiwari. Sutradara dokumenter merangkap aktivis, Michael Moore, dengan bersemangat mengajak orang menonton “Joker”. “Film ini memberikan alasan kenapa orang-orang tidak mau mencari akar permasalahan,” tulisnya di Facebook, “atau mencoba memahami kenapa orang-orang tak berdosa berubah menjadi Joker ketika mereka tak sanggup lagi menahan diri.”

Menonton “Joker”, saya sendiri dipenuhi perasaan emosional yang berkecamuk. Kesulitan yang dihadapi Arthur dengan mudah memancing rasa iba dan simpati. Tetapi, pijakan moral penonton mulai diuji ketika dia menarik pelatuk pistol yang menewaskan tiga orang di kereta api. Di mana seharusnya penonton berpihak, merasa geram dengan pelanggaran hukum atau justru memaklumi dan bersimpati?

“Komedi adalah sesuatu yang subyektif,” jelas Arthur ketika diundang menghadiri program bincang televisi populer Murray Franklin. Sesuatu yang dianggap lucu belum tentu dianggap sama oleh orang lain. Begitu pula dengan review yang terbelah. Rating review “Joker” terus menurun karena dianggap membenarkan tindakan kekerasan. Padahal, publik Amerika Serikat tengah membangun kesadaran untuk mengendalikan penjualan senjata api menyusul berbagai insiden penembakan di negara adidaya itu.

“Joker” juga dianggap menjadi ajang pembenaran. Seorang kulit putih penyendiri yang membawa-bawa senjata api akan dianggap sebagai pengidap kelainan emosional yang butuh bantuan. Sementara, warga kulit berwarna akan dituduh sebagai teroris.

Buat sang sutradara pribadi, “Joker” merupakan sarana memperkenalkan kemampuannya membesut film di luar genre komedi. Ditambah dengan komentar kontroversial yang menyinggung woke culture, yaitu kesadaran untuk menegakkan keadilan sosial dan rasial), Phillips seolah menjadikan “Joker” untuk menertawakan kehidupan era digital dengan segala macam opini dan persepsi yang bersliweran baik di media mainstream maupun media sosial.

Situasi Amerika Serikat barangkali tak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Demonstrasi massa, ketidakadilan, dan kekerasan kerap menghiasi pemberitaan media maupun lini masa media sosial. “Joker” dapat dengan mudah dipersepsi sebagai simbol perlawanan.

Mirip seperti warga Gotham yang memilih bersimpati kepada Arthur. Setelah bersikeras dipanggil dengan nama Joker ketika diperkenalkan Franklin, dia menarik pelatuk terakhir yang mengambil nyawa sang pembawa acara. Franklin diperankan oleh Robert De Niro, yang secara sengaja dipilih Phillips untuk terlibat dalam film ini. De Niro pernah tampil dalam film bertipe sejenis, seperti “Taxi Driver” dan “King of Comedy”, sehingga tema sociopath kian teresonansi dalam “Joker”.

“Sebelumnya aku menganggap hidupku adalah tragedi. Ternyata aku sadar, hidupku sebenarnya adalah komedi,” ujar Arthur.

Namun, pelatuk terakhir di dalam “Joker” tidak dilakukan oleh sang karakter utama. Ada peluru-peluru lain yang dimuntahkan setelahnya. Korbannya, Thomas dan Martha — orangtua Bruce Wayne. Trauma yang tak terkendalikan hanya akan melahirkan trauma baru. Sebuah butterfly effect.

Saya percaya, reaksi penonton saat klimaks “Joker” akan berbeda-beda mencerminkan persepsi mereka terhadap kehidupan yang sedang dijalani. Perasaan saya bergemuruh ketika Joker bangkit dan dirayakan oleh para pendukungnya. Namun, pada saat bersamaan, Phillips menampilkan scene Bruce kecil berdiri tertegun di atas tubuh kedua orangtuanya yang terbujur kaku.

Detik ini, pijakan moral saya berhasil dikembalikan. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Meski seperti yang kita semua ketahui dari kelanjutan hidup Bruce Wayne, batas kewarasan dan kegilaan terletak di zona abu-abu.

Buku Piah

Namaku Piah.  Setidaknya aku dipanggil begitu oleh teman-temanku.  Kedengarannya juga sama bagi orang tuaku.  Padahal namaku di surat kelahiran cukup bagus: Sophia.  Kenapa begitu?  Ayahku yang memberinya.  Lama-lama baru kutahu itu nama seorang bintang sinetron yang disukai Ayah.

Aku tinggal di Jatinangor.  Kota kecil yang kata Aki dulunya cuma hutan karet.  Sekarang hutan karet ini ramai.  Apalagi sejak banyak mahasiswa kuliah dan tinggal di sini.  Sehari-harinya banyak kulihat mahasiswa lalu lalang di jalan atau di depan rumah kami.

Rumah?  Ah, terlalu malu bila kuakatakan kalau rumah kami hanyalah gubuk yang gampang dibongkar ini.  Apalagi kami menumpang tinggal di tanah kepunyaan orang besar.  “Bintang dua,” pernah disebut Ayah.  Sejak sawah tempat Ayah biasa bekerja dibeli, digusur, dan dijadikan rumah kos, kami: Ayah, Emak, aku, dan Iki, terpaksa pindah tempat tinggal.  Apes, kata Ayah, soalnya dulu Ayah tidak pernah berpikir membuat surat untuk tanahnya.  Jadinya, tanah tempat kami tinggal dijual murah.

Sekarang Ayah terpaksa bekerja serabutan.  Maksudnya tidak tentu.  Dulu mah masih bisa tani, kata Ayah, sekarang jadi apa aja terima asal bisa makan.  Ayah pernah jadi penjaga kos di daerah Sukawening, tidak jauh dari tempat tinggal kami sekarang.  Tidak lama, cuma hitungan bulanan sudah dipecat gara-gara tempat kosnya kemalingan.  Sekarang cari obyekan lain.  Kalau ada bangunan, jadi kuli.  Kalau tidak, dari pagi hingga sore jadi calo buat angkot coklat. 

Atau pernah kalau lagi ada rezeki beli kupon tebak hasil pertandingan bola.  Biasanya Emak suka ribut sehabis Ayah beli kupon ini.  Aku pernah bertanya kenapa Emak ribut.  Ayah cuma menjawab sambil bersungut-sungut, “Emakmu tidak mau cepat kaya!”

Jangan salah lho!  Meski kerja Ayahku serabutan, aku masih tetap bisa sekolah.  Tapi, biayanya kebanyakan Emak yang mengeluarkan.   Emak seringkali mengingatkan aku soal ini.  Apalagi kalau habis ribut dengan Ayah.  Kalau sudah begini, Emak susah dihentikan.  Biasanya sih lama-lama aku tinggal sendiri saja.  Pernah ketika aku berangkat sekolah dan kemudian ketika aku pulang, Emak masih mengomel panjang.  Entah apa yang dibicarakannya.  Dan entah dengan siapa. 

Tapi untuk urusan cari duit, kuakui memang Emak cukup piawai.  Sering Emak mendekati penjaga kosan di kanan kiri, membantu bersih-bersih, atau terima cucian kalau ada mahasiswa yang meminta.  Kalau duit yang disimpan Emak cukup, Emak lantas membuat keripik lalu dibungkus lantas dijual ke mahasiswa olehku dan Iki. 

Kalau tidak ada rezeki, Emak tidak jadi malas-malasan.  Emak lantas datang ke pengajian saban pagi atau sore hari.  Senangnya kalau sudah pulang, Emak pasti membawa nasi dus yang jarang-jarang dapat aku nikmati.  Tapi, kalau ada kerjaan, Emak tidak datang ke pengajian.

Biaya sekolahku juga dibantu oleh kakak-kakak mahasiswa.  Ada beberapa temanku yang ikut program ‘Kakak Asuh’.  Dari sinilah aku kenal Hermes.  Sebenarnya namanya bukan Hermes, tapi ia ingin dipanggil Hermes olehku.  Alasannya nama Sophia seperti nama tokoh dalam novel yang pertama kali ia baca seumur hidup.  “Memangnya Hermes siapanya Sophia, kak?”, tanyaku saat berkenalan.  Anjingnya, kata kak Hermes.

Tapi Hermes bukanlah kakak asuhku.  Hermes lebih sering terlihat di gerbang kampus dan di jalan-jalan, meskipun di waktu ia, sepertinya, seharusnya kuliah.  Hermes merokok, seperti kebanyakan mahasiswa.  Suka kumpul dengan teman-temannya yang anehnya saling memanggil masing-masing mereka dengan sebutan, ‘Lai’. 

Saat aku sedang berjualan sehabis sekolah, aku bertemu Hermes.  Lantas ia menarikku ke tengah kumpulan teman-temannya sambil berkata lantang, “Inilah korban pemerintah kapitalis!”  Dari sini aku kemudian ditanya-tanya oleh mereka.  Meskipun penampilannya seperti tak terurus, tapi aku senang berada di antara mereka karena aku seperti diperhatikan.  Dari sini pulalah aku akhirnya menjadi akrab dengan mereka.

***

Aku senang menulis.  Apa pun aku tulis.  Padahal waktu aku di kelas satu, aku lama sekali belajar membaca.  Apalagi berhitung.  Aku tidak suka berhitung.  Tapi kalau jualan, aku bisa.  Soalnya kalau aku salah hitung, bisa-bisa aku dihadiahi omelan panjang Emak.

Karena kegemaranku ini, aku gemar menulis di mana-mana.  Buku-buku tulisku hampir habis kutulisi.  Kata-kata mengalir dan lewat saja dalam benakku.  Rasanya gatal kalau tidak segera kutulis.  Dan rasanya kata-kata itu memohon-mohon padaku agar ditulisi di atas kertas.  Tentu aku tidak menolak.  Apalagi kalau ada kata yang baru kukenal dan kutemui dari manapun, reklame, papan nama. Atau dari ucapan orang.

Kutulis ‘M-A-N-D-E’ dalam kertasku.  Kutanya Ayah apa artinya, tapi ia bilang aku salah tulis seharusnya ‘mandi’ bukan ‘mande’.  Aku tak puas.  Lalu kutanya Zel, teman Hermes, dan kudapat artinya, “Ibu, itu bahasa Minang”.  Kebetulan Zel memang orang Minang.  “Berarti kak Zel memanggil ibunya ‘mande’ yah?”  Dia cuma tersenyum.  Dibilangnya aku, “Kamu naif.”  Aku diam saja.  Setelah Zel lewat, segera kutulis, “N-A-I-P”.

Gara-gara tulisanku barusan, Hermes tertawa keras sekali.

“Kenapa kak, kok tertawa?”

Hermes belum berhenti tertawa.

Aku diam saja.  Aku sedang di sebuah rumah kontrakan yang berantakan sekali.  Konon, rumah ini dijadikan tempat mengumpul atau markas teman-teman Hermes.  Makanya di dalam rumah ini dengan mudah ditemukan baju-baju yang ditaruh sembarangan dan ditumpuk-tumpuk bersebelahan dengan buku-buku yang berserakan, rice cooker, kertas warna warni, obat nyamuk bakar untuk mengusir nyamuk yang mulai berkeliaran, selebaran kecil-kecil, dan ada juga pengeras suara dengan merek yang lucu.  Sigap kutulis di atas kertas, “T-O-A”.

“Piah..Piah..”, Hermes baru berhenti rupanya.

Aku diam saja.

“Persis.., persis seperti maksud Gaarder menjadikan gadis ABG sebagai siswi pemula filsafat.”

Aku diam saja.  Hal-hal yang diobrolkannya semakin rumit dan tak kumengerti.

Jimi, teman Hermes, lewat sambil menyela, “Bah! Kau ini..anak tiga eS-De saja diajarin filsafat.”

Aku diam saja.  Diam-diam kutulis, ‘P-I-L-S-A-P-A-T’.

“Coba kulihat apa saja yang sudah kau tulis.”

Aku berikan Hermes buku tulis lusuhku.

“Waahh, sudah banyak juga yang kau tulis.  Dan coba kulihat, banyak kali pun omongan kami kau tulis.  Tak tahu aku apa kau penurut atau pengamat yang baik?!”

Aku diam saja.

“Lihat!  ‘Kapitalis’, ‘modal’, ‘bangsat’, ‘komersil’, ‘rektor’, ‘akuwa’, ‘pakultas’, ‘registrasi’, yang ini lumayan panjang ‘copy jilid skripsi’, sampai yang paling lucu ‘naip’ dan ‘pilsapat’.”

Hermes memandangku.  Entah heran, takjub, kagum, atau ketakutan tampak dari  ungkapan wajahnya.

Aku diam saja.  Jelas aku kebingungan.

“Mau tahu kau barusan apa yang terjadi?”

Aku mengangguk.  Bingung.

“Kau itu sama seperti yang kau tulis, NAIF!  Tapi pake ‘f’ bukan ‘p’.  Lain kali yang benar kau tulis yah!  Bisa dimarahi guru Bahasa-mu nanti.”

“Naip, eh, naif itu apa kak?”, akhirnya aku angkat suara.

Alih-alih menjawab, Hermes malah cekikian lagi.

(Belakangan aku tahu, NAIF itu grup musik terkenal.  Pantas saja aku diketawai habis-habisan malam itu, karena aku dianggap ketinggalan zaman, tidak pernah dengar musik NAIF.  Aku tanya lagi ke Hermes.  Tapi, ia malah menggeleng.  “Yang kumaksud artinya, polos!  Ya, seperti dirimu inilah!”)

Setelah puas tertawa, Hermes bertanya, kali ini lebih serius, “Kelas berapa kau sekarang?”

“Tiga, kak!”

“Rapormu bagus?”

“Belum pernah dapat merah, kak!”

“Baguslah itu! Anak rajin kau, yah?!”

Aku diam saja.

“Bapak kerja?”

“Iya, kak.  Sekarang lagi ngojek, bawa motor Pak Amir yang lagi sakit.”

“Yang kecelakaan kemarin yah?  Kasihan Pak Amir itu.”

Aku mengangguk pelan.

“Sudah makan kau?”

“Eeee…. Belum kak.”

“Ini jatahku habis seminar tadi makan sajalah.  Maaf, sudah agak dingin.”

Aku tidak menolak.  Tapi, sebelum mulai makan, aku tulis di bukuku, ‘S-E-M-I-N-A-R’.  Setelah menulis, kulihat sekilas wajah heran Hermes.  Ungkapannya sama saja seperti habis tertawa tadi.

Belum juga kusentuh makananku, tiba-tiba ia bertanya, “Kalau kuajak kau sewaktu-waktu ikut rame-rame, mau kau?”

Rame-rame ngapain, kak?”

“Ikut demo.”

Aku diam saja.  Kuambil pensilku lagi, lalu kutulis, ‘D-E-M-O’.  Kulihat lagi wajah heran Hermes usai aku menulis.  Kurang, katanya, tambahkan jadi ‘D-E-M-O-N-S-T-R-A-S-I’, sambil mengejanya.  Setelah menulis kata yang lumayan banyak deretan hurufnya itu, barulah terbuka jalan bagiku untuk menikmati nasi ‘seminar’ yang telah dingin ini.

Baru sampai menggumpal nasi untuk disuapkan ke dalam mulutku.  Tiba-tiba Jimi keluar dari dalam kamar dan bertanya sesuatu kepada Hermes.  Seperti yang kudengar, Hermes cuma menjawab, sudah kukembalikan dari kemarin. 

Tapi, mendadak aku teringat lagi kata-kata yang sering diucapkan kawan-kawan Hermes ini.  Susah sekali mengingatnya.  Terlebih memindahkannya ke atas kertas.  Mumpung diingatkan sekali lagi, takkan kubiarkan ia lewat kali ini.  Kusisihkan nasi dinginku, kuambil pensil dan kutulis, ‘K-A-L-R-M-A-R-K-S’.  Seperti nama orang, pikirku.

Lalu dipenuhi kepuasan seakan sehabis kenaikan kelas, aku makan nasi ‘seminar’ yang dingin dengan berhias senyum kemenangan.

***

Hari itu datang juga.  Aku diajak ‘demonstrasi’ di Bandung.  Menumpang bus kampus yang kuning dan berkarat di sana sini, aku jadi primadona sepanjang perjalanan.  Semua mahasiswa yang memenuhi bus itu seolah-olah merelakan waktunya hanya untuk memperhatikanku.  Cukup begini, aku sudah senang.  Apalagi, ketika ‘demonstrasi’-nya dimulai, aku diperbolehkan menulis sepuasku. 

Kak Tiya memberikanku sebatang spidol dan selembar karton ukuran paling besar yang pernah kulihat.  Wah, pikirku, ini pertama kalinya aku menulis dengan spidol.  Kak Tiya seperti tahu kalau di sekolah aku belum diperbolehkan menulis selain dengan pensil.  Lalu, aku diajari banyak kata baru. 

Hermes memintaku menirukan sebuah demi sebuah kata dari karton atau spanduk lain, lantas kutulis berturut-turut, ‘K-O-L-U-S-I’, ‘K-O-R-U-P-S-I’, ‘N-E-P-O-T-I-S-M-E’, ‘M-I-L-I-T-E-R-I-S-A-S-I’, ‘P-R-I-V-A-T-I-S-A-S-I’, ‘C-I-V-I-L-S-O-C-I-E-T-Y’, dan banyak lagi. 

Begitu bangganya aku ketika hasil tulisanku diangkat tinggi-tinggi oleh mahasiswa yang memegang pengeras suara bermerek ‘T-O-A’ itu, kemudian namaku (secara tidak langsung sebenarnya) diteriaki lantang dan bergema ke mana-mana, “LIHAT ANAK KELAS TIGA ESDE SAJA MENGERTI!!!” (Walaupun kakak dengan pengeras suara ini mengatakannya dengan nada sepeti marah kepada seseorang yang tidak pernah kelihatan selama ‘demonstrasi’).

Lebih bahagia lagi seusai ‘demonstrasi’ aku dihadiahi karton yang habis kutulisi tadi dan karton-karton lain yang ditulisi mahasiswa.  Buat belajar di rumah, alasan Hermes.

***

Ingin kubagi pengalamanku ini dengan Ayah dan Emak.  Tapi, ketika aku pulang yang kudapati keduanya bermuka muram.  Aku jadi tidak enak hati bercerita.  Lantas kutanya, kenapa Emak tampak sedih.  Emak tidak menjawab.  Ayah yang menjawab, besok kita pulang ke Kuningan, tempat Abah. 

Aku justru heran, bukankah kalau begitu ini kabar baik yang mestinya tidak disertai dengan wajah muram.  Tapi, aku takut membuat Ayah marah lagi.  Kalau Ayah marah pasti akan selalu keluar, “Kamu masih kecil!  Jig…sare!”

Sepertinya Ayah tidak tahan melihat air kebingungan di mukaku.  Ia menjawab tanpa diminta, “Pak Jendral mau bangun kos-kosan”.  Tentulah yang dimaksud Ayah barusan itu si Bapak ‘Bintang Dua’ yang memiliki tanah.  Memangnya tidak bisa tetap tinggal di sini saja, Yah, aku memberanikan diri bertanya.  Ayah tersenyum kecut, “Tentu tidak, Piah.  Memangnya kamu mau kita di-buldoser?”.

Lagi-lagi dengan sejuta kebingungan aku menggeleng saja, seolah-olah paham dan sepakat dengan pendapat Ayah untuk pulang ke Kuningan.  Lalu aku berbaring di atas kasur kapuk bekas yang dibeli Emak dari mahasiswa yang sedang pindah kos, menatap atap gubuk yang ditopang oleh balok kayu yang saling bersilangan.

Lama kuterlamun.  Kemudian, aku ingat sesuatu!  Segera kuambil lagi buku tulisku yang mulai penuh akan coretan.  Kuambil spidol hadiah Kak Tiya waktu ikut ‘demonstrasi’ tadi.  Kubuka tutupnya, kemudian cairan hitam berbau harum mengalir dari ujung spidol, menuliskan huruf demi huruf membentuk sebaris kata di atas putihnya kertas.

‘D-I-B-U-L-D-O-S-E-R’.

Terpampang besar dan tampak jelas sehalaman di dalam buku tulisku.  Besok pagi-pagi sekali sebelum berangkat, akan kutanya pada Hermes.  Mudah-mudahan kali ini Hermes tidak tertawa keras-keras seperti waktu itu lagi.

***

(hawe: 250103, 01:24, untuk Jatinangor yang selalu kesepian)

J.League musim 2019 disiarkan di Indonesia

Pemirsa Indonesia kini dapat menyaksikan tiga pertandingan pilihan J.League setiap pekan melalui platform siaran streaming Rakuten Sports.

Ini merupakan bagian dari inisiatif J.League untuk menjangkau pasar Asia Tenggara. Bermitra dengan Lagardere Sports, Rakuten Sports akan menayangkan sisa pertandingan musim 2019 ke 140 negara, termasuk delapan negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Filipina.

Tiga pertandingan setiap pekan dapat dinikmati pemirsa sepakbola tanah air setelah melakukan registrasi ke Rakuten Sports yang dapat dilakukan dengan menggunakan akses Facebook maupun Google.

Tiga pertandingan yang dapat dinikmati pekan ini adalah:

Jumat, 14 Juni | 16:00 WIB | Kawasaki Frontale vs Consadole Sapporo
Sabtu, 15 Juni | 16:00 WIB | FC Tokyo vs Vissel Kobe
Minggu, 16 Juni | 16:00 WIB | Oita Trinita vs Nagoya Grampus

Setelah China memberlakukan pajak pendapatan yang sangat tinggi untuk memproteksi perkembangan pemain muda negara mereka, J.League kembali menjadi liga Asia yang paling bergengsi. Bintang veteran seperti Fernando Torres, David Villa, Lukas Podolski, dan Andres Iniesta memilih untuk berkompetisi di sana. Kehadiran para bintang ini diharapkan mendongkrak popularitas J.League.

Bagaimana popularitas J.League di Indonesia? Fans di Indonesia mengetahui hubungan masa lalu J.League dengan liga Indonesia, tetapi tidak banyak mengikuti perkembangan terkini. Tidak banyak pemain J.League yang dikenal fans Indonesia selain nama-nama para legenda antara lain seperti Kazuyoshi Miura, Ryu Ramos, dan Yasuhito Endo, misalnya.

Belakangan muncul nama baru seperti Takefusa Kubo, yang dijuluki Messi-nya Jepang, tetapi praktis hanya itu yang dikenal fans sepakbola Indonesia.

Padahal, J.League membuka slot khusus bagi pemain Asia di luar kuota pemain asing yang dimiliki setiap klub. Slot khusus ini dimanfaatkan sejumlah klub, baik dari aspek sepakbola maupun komersil. Teerasil Dangda, Teerathon Bunmathan, dan Chanathip Songkrasin menjadi tiga pemain Thailand yang bergabung ke klub Jepang — disusul belakangan oleh Thitipan Puangchan.

Kiprah Songkrasin bahkan menuai pujian, dinilai tak ubahnya seperti Kapten Tsubasa. Pemain yang akrab disapa “Messi Jay” itu bahkan masuk ke dalam susunan tim terbaik J.League musim 2018. Prestasi yang berbanding lurus dengan peningkatan nilai komersil J.League di Thailand.

Songkrasin menjadi primadona. Video latihan pertamanya bersama Consadole menuai 3 juta view. Melebihi populasi kota Sapporo, tempat Consadole bermarkas. Televisi Thailand pun tertarik menayangkan langsung J.League. Hasilnya, pertandingan Consadole melawan Kawasaki Frontale pada 2017 mendulang lebih dari 400.000 pemirsa. Jumlah itu bahkan mengalahkan jumlah pemirsa pertandingan Buriram United.

“Kami tidak hanya ingin menarik minat pemirsa Asia, tetapi juga seluruh dunia. Dengan pemain seperti Chanathip rasanya kami berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan hal itu.”

Mitsuru Murai, chairman J.League, dilansir APNews.

Potensi lebih besar tentu saja ada di Indonesia. Sebagai gambaran besarnya minat audiens Indonesia terhadap sepakbola, pertandingan Liga 1 2018 paling laris adalah Persib Bandung vs Persija Jakarta yang sanggup “mendatangkan” 2,6 juta penonton siaran streaming. Jumlah ini enam kali lipat(!) dari pemirsa siaran terlaris liga Thailand.

Hal itu bukannya tidak disadari petinggi J.League. Dalam berbagai kesempatan, J.League selalu berjuang merangkul pasar Indonesia mulai dari memainkan pertandingan eksebisi (FC Tokyo vs Bhayangkara FC awal 2018) hingga melakukan kerja sama kemitraan dengan PSSI maupun klub Liga 1. Namun, tingkat awareness J.League belum juga meningkat.

Pasalnya, tidak ada pemain Indonesia yang berkiprah di J.League. Seperti Songkrasin dkk, kehadiran pemain tentu dapat mendongkrak minat fans untuk menyaksikan J.League. Sejak Irfan Bachdim bergabung ke Bali United awal 2017, praktis fans tanah air mengabaikan J.League sama sekali. Pemain Indonesia lain yang pernah bertualang di Jepang adalah Stefano Lilipaly.

Diam-diam J.League sedang menggali kemungkinan mengajak bergabung sejumlah pemain muda Indonesia.

Berdasarkan sejumlah informasi yang penulis kumpulkan dari beberapa sumber, klub-klub Jepang tidak pernah menutup kemungkinan untuk mendatangkan pemain Indonesia.

Bisa dibilang, setiap tahun mereka menyusun daftar keinginan yang berisi tiga hingga lima nama pemain muda potensial Indonesia.

Namun, apakah pemain yang dilirik itu bersedia main di Jepang? Apakah mereka memiliki kemauan yang cukup untuk merantau ke sana? Itu pembahasan lain yang dapat dibicarakan dalam tulisan terpisah.

Mengevaluasi penting tidaknya UEFA Nations League

 Embed from Getty Images

Narasinya bisa saja berubah total. Seandainya ujung kaki Jesse Lingard tidak melampaui Denzel Dumfries, mungkin saja ajang UEFA Nations League dipuja-puji oleh media Inggris sebagai ajang inovatif yang menambah bobot laga uji coba internasional. Mungkin saja Inggris berjaya di final dan lantas siapa tahu muncul ide menyematkan satu bintang lagi bersanding dengan bintang juara dunia mereka. Mungkin saja…

Jadi, seberapa penting kah ajang Nations League ini? Inggris menjawabnya dengan 240 menit penuh bonus babak adu penalti dan hanya mencetak satu gol — itupun melalui eksekusi penalti. Hampir sama persis dengan Swiss. Belanda menjawabnya dengan sebuah kenyarisan yang lagi-lagi membuahkan keniscayaan: buat mereka tangga tertinggi hanyalah runner-up — meski ajangnya “sekadar” turnamen uji coba internasional.

Portugal tidak ambil pusing. Mereka tuan rumah dan berhasil menjadi juara. Lihat senyum ganjil Cristiano Ronaldo saat membopong trofi juara. Gelar ini mungkin tidak penting, tapi penting-penting saja karena menjamin nilai dagang dan kebanggaan negara. Apalagi 15 tahun lalu Portugal pernah menangis pilu setelah dikandaskan Yunani di final Euro di depan publik sendiri.

Ajang ini dipandang UEFA sebagai ajang revolusioner. Tidak ada lagi ajang uji coba main-main yang biasanya mengundang protes klub-klub besar setelah para pemain pulang dengan kondisi cedera. Dengan memasukkannya ke kalender resmi, bobot pertandingan pun bertambah sehingga tim peserta bisa berlomba-lomba meningkatkan poin peringkat FIFA mereka.

Bahkan, format ini sedang dipertimbangkan CONCACAF untuk meningkatkan gairah kompetisi asosiasi anggota mereka. AFC kabarnya sempat tertarik, tapi saya ragu setelah melihat begitu luasnya ruang geografis yang harus diliput kompetisi ini. Untuk saat ini, turnamen regional masih menjadi solusi terbaik untuk negara-negara Asia.

Embed from Getty Images

Dari empat pertandingan yang terselenggara, tercipta sembilan gol. Tapi adakah inovasi berarti? Karena hanya diikuti empat tim peserta, tidak banyak variasi taktik yang terjadi. Swiss sempat mengejutkan dengan distribusi bola mereka yang mencengangkan ketika menghadapi Portugal. Tetapi, kapasitas mereka sebatas mengejutkan. Mereka mentok di sepertiga akhir lapangan dan akhirnya lengah sehingga kecolongan gol-gol Cristiano Ronaldo pada pengujung pertandingan. Penampilan Swiss tidak terulang saat menghadapi Inggris di laga perebutan tempat ketiga.

Inggris terpaksa menghadiri pertandingan ini setelah dikalahkan Belanda. Sejatinya pertandingan berakhir 1-1 di waktu normal. Seperti yang dijelaskan di awal, Lingard berhasil membobol gawang Jasper Cillessen pada menit ke-84. Tapi, wasit Clement Turpin yang senantiasa tampil tenang sepanjang laga lantas menganulirnya karena off-side.

Jika Lingard tidak bergerak lebih cepat sepersekian detik saja, narasi berikutnya tidak akan terjadi. Dua kali pemain Inggris lalai dalam membangun serangan dari bawah. Akibatnya, Memphis Depay berhasil menginisiasi dua gol tambahan Belanda di babak perpanjangan waktu. John Stones dan Ross Barkley menjadi pesakitan. Tidak hanya itu, muncul kesangsian apakah Gareth Southgate masih harus mempertahankan taktik build-up play dari belakang.

Embed from Getty Images

Belanda pun lolos ke final menantang tuan rumah Portugal, tim yang paling sulit mereka tundukkan sepanjang sejarah. Oranje pernah menang 3-0 pada laga uji coba di Swiss tahun lalu persis ketika pelatih Ronald Koeman untuk kali terakhir menerapkan formasi 3-5-2. Setelah laga itu, Koeman memakai formasi empat bek dan hasilnya tokcer. Dua juara dunia, Prancis dan Jerman, mampu mereka langkahi untuk melangkah ke final four Nations League.

Namun, rupanya Koeman masih meraba bentuk terbaik timnya. Sang pelatih memakai starting XI yang sama persis di laga puncak. Padahal, sebagian besar pemain baru saja tampil 120 menit dua hari sebelumnya. Tuan rumah Portugal diuntungkan. Selain dukungan publik sendiri, mereka juga hanya bermain 90 menit plus waktu istirahat lebih panjang.

Sungguh disayangkan, di luar jadwal yang padat, empat tim peserta terlihat tidak tampil pada performa puncaknya. Kompetisi Eropa rata-rata sudah selesai tiga pekan sebelumnya. Biasanya sebelum terjun ke turnamen sebesar Euro atau Piala Dunia, tim-tim akan menjalani conditioning plus pertandingan uji coba selama dua pekan.

Embed from Getty Images

Empat tim itu mungkin tidak banyak ambil pusing. Final four Nations League tak ubahnya seperti bonus. Ketika tim-tim lain bertarung memperebutkan tiket ke Euro 2020, posisi mereka sudah terjamin di babak play-off — jika gagal lolos otomatis. Namun, UEFA belum memastikan akan menggelar Nations League sekaligus kualifikasi Piala Dunia 2022 selepas Euro mendatang.

Gol Goncalo Guedes akhirnya membuahkan kemenangan buat Portugal. Gelar juara Nations League melengkapi gelar juara Eropa yang mereka raih tiga tahun silam. Gelar juara ke-31 sepanjang karier profesional Cristiano Ronaldo. Gelar juara yang dirayakan dengan penuh suka cita oleh masyarakat Portugal.

Narasinya bisa saja berubah. Seandainya Swiss sukses mencuri gol di semi-final atau seandainya wasit Alberto Undiano Mallenco* tidak malas meninjau VAR, mungkin saja Nations League sudah luput dari perhatian banyak orang hari ini.

*Wasit senior asal Spanyol yang mengakhiri karier perwasitan pada laga final Nations League

Sepakbola Indonesia perlu VAR?

Embed from Getty Images

VAR atau tidak VAR. Inilah pertanyaan emas yang menghiasi sepakbola Indonesia beberapa kurun waktu terakhir. Terutama setelah Liga 1 Indonesia 2019 baru berjalan dua pekan saja. VAR dianggap mampu mengenyahkan kontroversi dalam sepakbola.

Sebagai informasi, kalau kebetulan kalian bukan penggemar sepakbola, VAR adalah kosa kata baru yang menyeruak masuk kamus si kulit bulat. VAR merupakan kependekan dari Video Assistant Referee (VAR). Seperti apa operasional VAR dalam sepakbola? Mungkin lebih baik lihat cuplikannya di sini.

Kemajuan teknologi mendorong sepakbola beradaptasi. Dalam sidang IFAB 2018, VAR mulai dipakai luas oleh kompetisi sepakbola berbagai negara. Panggung utamanya adalah Piala Dunia 2018 Rusia. Di final, VAR bahkan membantu Prancis mendapat penalti setelah wasit Nestor Pitana dibisiki bahwa Ivan Perisic melakukan handball di area terlarang.

Setelah pertandingan PSS Sleman vs Semen Padang yang kontroversial, raungan menggunakan VAR kembali bergaung di Indonesia. Bukankah VAR juga digunakan di liga Thailand? Kalau negara tetangga sudah menggunakan, kenapa Indonesia selalu ketinggalan? Kapan majunya sepakbola kita?

Apakah sudah saatnya sepakbola Indonesia menerapkan VAR? Mari menganalisisnya dengan tiga pertanyaan kunci: apakah sudah perlu, mampu, dan siap?

Perlu – Hampir tidak ada yang menyangsikan, VAR memang diperlukan jika melihat keadaan sepakbola tanah air kiwari. Wasit membuat kesalahan di sana-sini, kepercayaan publik rendah, apalagi setelah pecahnya skandal pengaturan skor pertandingan. Kalau seperti ini, teknologi VAR menjadi solusi.

Sepertinya komite eksekutif PSSI juga setuju, teknologi VAR bisa menjawab kebutuhan sepakbola Indonesia dan Liga 1 akan menerapkan VAR. Tapi, jangan senang dulu… Syarat dan ketentuan berlaku.

Embed from Getty Images

Mampu – Untuk memasang seperangkat teknologi VAR biayanya tidak lah murah. Tahun lalu, Serie A Brasil sempat mencetuskan gagasan penerapan VAR, tetapi begitu mengetahui biaya yang dibutuhkan memakan hingga US$6,2 juta (setara Rp89 miliar) semusim, klub-klub mundur teratur.

Sementara, A-League Australia merupakan kompetisi pertama di dunia yang menerapkan VAR dan setiap klub harus merogoh kocek sedalam AU$500 ribu (setara Rp4,9 miliar) untuk memasang teknologi itu di kandang masing-masing.

Apakah ada klub Indonesia yang mau mengeluarkan Rp5 miliar untuk memasang VAR? Tapi, kata Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, biaya VAR tidak semahal yang dibayangkan.

“Ternyata VAR murah, hanya 25 juta, tetapi akurasinya membuat tingkat kepercayaan semua pihak terhadap putusan wasit sangat tinggi, saatnya semua liga di Indonesia pakai VAR,” kata Imam.

Sumber: Indosport

Semangat nasionalisme Imam layak dipuji, apalagi memanfaatkan hasil teknologi negeri sendiri, tapi… Mari saya jelaskan pandangan saya dengan masuk ke aspek berikutnya.

Embed from Getty Images

Siap – Ini pertanyaan paling penting, apakah kita siap? Pada dasarnya, VAR hanya lah perangkat teknologi yang sifatnya membantu para wasit dalam mengambil keputusan. Jadi, VAR bukan lah keputusan itu sendiri. Pengambil keputusan tentang kejadian apa pun yang terjadi di atas lapangan tetap berada di tangan wasit.

Menurut saya, kualitas perwasitan yang semestinya menjadi sorotan utama dalam memperbaiki sepakbola tanah air. Memasang VAR tidak lantas menyelesaikan problem. Malah bisa jadi memperparah. Anggap saja Liga 1 telah menerapkan VAR di setiap pertandingan. Apa sudah menjadi jaminan tidak ada lagi protes yang berlebihan kepada wasit? Apalagi jika wasit itu tidak mau mengambil keputusan berdasarkan VAR? (Pada praktiknya, wasit berhak melakukan tinjauan VAR atau sebaliknya).

Kericuhan macam apa lagi yang akan terjadi?

Ketaatan dan kepatuhan adalah kunci. Selama pemain, pelatih, manajer, penonton, serta pegiat mana pun memahami dan memegang teguh Laws of the Game, sepakbola akan berjalan dengan baik.

Kalimat itu terdengar sangat klise. Tapi, tidak pernah diimplementasikan dengan sebenar-benarnya. Kita seperti bangsa yang dilahirkan untuk tidak siap kalah. Terkadang kita mesti berbesar hati mengakui keunggulan orang lain. Lalu, untuk mencapai level supremasi itu, diperlukan kerja keras dan ketekunan luar biasa.

Bukan dengan semata-mata memasang VAR. Sebelum memasang VAR pun kita semua harus tahu prosedur sertifikasi dari FIFA/AFC yang harus dijalani sebelum teknologi itu benar-benar diterapkan di dalam pertandingan. Tentu ada standar yang dipasang FIFA/AFC agar penerapan VAR di Indonesia dan Vanuatu, misalnya, sama derajatnya.

Belum lagi pelatihan untuk wasit operator VAR. Delapan bulan sebelum Piala Dunia 2018 digelar, FIFA sibuk mengumpulkan wasit andalan dari lima benua untuk menggelar pelatihan. Dari pelatihan ini bermunculan wasit-wasit dengan spesialisasi operator VAR. Lalu, sebanyak 13 orang wasit VAR ditugasi FIFA untuk memelototi monitor pertandingan sepanjang turnamen digelar.

Pertanyaannya, berapa jumlah wasit VAR bersertifikat FIFA/AFC di Indonesia? Jumlah wasit FIFA asal Indonesia saja hanya tiga.

Presiden FIFA Gianni Infantino berujar, dengan VAR sepakbola menjadi “bersih”. Sayangnya, harus berani diakui Indonesia belum sampai level itu. Sekadar Laws of the Game atau pedoman kompetisi saja masih kerap kita langgar…

All English Final di Liga Champions dan Liga Europa, Big Bang Fase 2 Liga Primer Inggris

All England Final

Musim 2018/19 adalah musim pertama final Liga Champions tanpa Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi sejak 2013. Musim ini juga musim pertama dalam sejarah ketika Liga Champions dan Liga Europa menampilkan seluruh finalis asal Inggris. Sebuah kebetulan sekaligus paradoks.

Madrid, 6 Juli 2009. Sebanyak 80.000 orang memenuhi Stadion Santiago Bernabeu bukan untuk menonton pertandingan. Mereka datang guna menyambut seorang megabintang yang baru saja didatangkan Real Madrid dengan rekor transfer £80 juta dan kontrak enam tahun. Kepindahan Cristiano Ronaldo ke klub top LaLiga Spanyol itu merupakan pukulan telak bagi Liga Primer Inggris yang mengklaim diri sebagai liga sepakbola terbaik dunia.

Selama hampir sepuluh tahun lamanya Liga Primer tidak memiliki megabintang yang bisa dijadikan senjata marketing mumpuni. Sejak 2009 pula, mereka juga tidak mampu memunculkan (dan juga membeli) pemain nominator Ballon d’Or. Bayangkan, liga dengan perputaran uang paling besar serta nilai hak siar tertinggi di dunia, tetapi malah tidak menampilkan deretan pemain terbaik?

Musim ini, keberhasilan empat klub Inggris menembus babak puncak Liga Champions dan Liga Europa dapat membalikkan keadaan. Dalam rentang waktu tiga hari, Liverpool dan Tottenham Hotspur menyegel tiket final Liga Champions; disusul Arsenal dan Chelsea di final Liga Europa. Pernahkah terjadi liga kompetisi sepakbola Eropa dikuasai satu negara saja? Tidak pernah. Bagi liga-liga top Eropa lain, skema ini hanya bisa terjadi di dalam mimpi terliar mereka.

Ini adalah kemenangan Liga Primer. Kemenangan yang mereka dambakan sejak 22 tim berkumpul di sebuah hotel London merundingkan deal hak siar televisi yang baru, 1992 silam. Tidak hanya deal baru yang mereka dapatkan, tetapi juga sebuah breakaway league yang membuka tirai era komersialisasi sepakbola modern. Sebuah big bang, cetus media massa Inggris.

Sejak pertemuan di Royal Lancaster Hotel itu, Liga Primer melakukan rebranding sepakbola Inggris yang penuh hooliganisme menjadi wajah yang lebih modern, terstruktur, dan ramah marketing. Padahal, tujuh tahun sebelumnya, klub Inggris dipermalukan dengan sanksi memalukan dari UEFA menyusul Tragedi Heysel. Selama lima tahun lamanya mereka dilarang mengikuti kompetisi antarklub Eropa mana pun.

Dekrit Bosman dan penyelenggaraan Euro 1996 menjadi momentum dalam mendorong klub-klub peserta untuk berlomba-lomba mendatangkan pemain asing. Mereka sudah mengantungi jutaan pounds hasil pemasukan hak siar televisi domestik maupun internasional. Tidak perlu risau, sepanjang nama si pemain sulit diucapkan kebanyakan fans Inggris, mereka sudah memiliki daya tarik yang cukup.

broadcast rights

Mungkin bukan kebetulan jika mulai musim depan Liga Primer memasuki siklus baru hak siar internasional mereka. Biasanya, jangka waktu kontrak ini berlangsung selama setiap tiga tahun. Valuasi siklus baru 2019-2022 untuk kali pertama menembus angka £4,5 milyar. Tanpa harus menjual tiket pertandingan musim baru, klub Liga Primer dimungkinkan sudah mengantungi keuntungan sebelum dikurangi pajak. Fantastis.

Bandingkan dengan LaLiga. Satu hari setelah Tottenham dan Liverpool memastikan tempat di final Liga Champions, LaLiga melansir kenaikan pemasukan sebesar 20,6 persen untuk musim 2017/18. Secara total, LaLiga menangguk €4,4 milyar (setara £3,7 milyar) yang merupakan rekor pendapatan mereka sepanjang sejarah. Jumlah itu merupakan akumulasi antara lain deal sponsor, hak siar televisi, dan transfer pemain.

Itu saja belum mampu menandingi pemasukan hak siar internasional Liga Primer. Catat, hanya hak siar internasional. Ditambah hak siar domestik, Liga Primer berpotensi meraup lebih dari £9 milyar untuk periode 2019-2022.

Selamat datang di big bang Liga Primer fase kedua. Kita berada di ambang dasawarsa baru 2020-an yang masih akan diwarnai hegemoni sepakbola Inggris. Pertanyaannya sekarang, apakah Liga Primer masih membutuhkan Liga Champions dan Liga Europa? Tentu saja masih. Keberhasilan klub mencapai final kejuaraan internasional akan meningkatkan valuasi serta daya tawar mereka saat merundingkan banyak deal baru.

Di sisi lain, para klub elite berpikiran lebih jauh. European Club Association (ECA) pernah menggulirkan gagasan sebuah liga super yang hanya diikuti jajaran klub elite Eropa. Gagasan itu sulit mendapatkan restu UEFA yang masih memandang sepakbola adalah milik segala lapisan.

Kini, gagasan baru ECA adalah menerapkan aturan promosi dan degradasi mulai Liga Champions musim 2024/25. Sekilas aturan ini tampak kompetitif, tetapi masih berpandangan elitis karena klub bisa mengikuti Liga Champions terlepas dari posisi mereka di klasemen akhir kompetisi domestik masing-masing.

stadion baru tottenham

Tantangan lain bagi Liga Primer, mungkin kedengaran janggal, adalah memenuhi stadion dengan penonton. Nilai hak siar dan deal marketing internasional akan terus menjulang selama audiens mendapatkan atmosfer stadion yang mereka inginkan, salah satunya adalah stadion yang terisi penuh.

Persoalannya, bagi klub Liga Primer yang dimanjakan dengan pendapatan hak siar tinggi, penjualan tiket pertandingan bukan lagi sumber utama pemasukan. Kehadiran fans tandang juga dipandang penting. Liga Primer menerapkan batasan harga tertinggi £30 untuk setiap lembar tiket yang dialokasikan untuk pendukung tim tamu. Aturan itu diterapkan mulai musim 2017/18.

Tantangan berikutnya adalah pemain bintang. Jika sepakbola modern adalah bisnis hiburan, Liga Primer membutuhkan megabintang untuk mengisi sorotan utama. Ronaldo dan Messi sudah berusia 30-an tahun dan sudah saatnya mencari idola baru. Sanksi larangan transfer yang dijatuhkan FIFA kepada Chelsea berlangsung hingga Januari 2020. Ketika sanksi itu berakhir, semestinya Chelsea sudah memiliki rasa lapar yang besar untuk memburu pemain bernama besar.

Tidak ada klub Inggris yang lebih bahagia dengan situasi terkini selain Tottenham. Mereka baru saja pindah ke stadion baru akhir Maret lalu dan paket layanan matchday hospitality mereka sangat nyaman, yang diklaim mampu mendatangkan pemasukan mencapai £800 ribu hanya dalam sekali pertandingan kandang.

Final Liga Champions adalah pencapaian luar biasa bagi klub yang menahan nafsu tidak berbelanja pemain selama jendela transfer musim panas lalu. Hat-trick Lucas Moura ke gawang Ajax Amsterdam lebih dari sekadar gol-gol kemenangan, tetapi juga dapat membuka lembaran sejarah baru. Siapa tahu salah satu klub yang getol mengampanyekan ide Liga Primer pada 1992 silam ini lah yang akan mendominasi top tier sepakbola Inggris era 2020-an.