Close

Buku Piah

Namaku Piah.  Setidaknya aku dipanggil begitu oleh teman-temanku.  Kedengarannya juga sama bagi orang tuaku.  Padahal namaku di surat kelahiran cukup bagus: Sophia.  Kenapa begitu?  Ayahku yang memberinya.  Lama-lama baru kutahu itu nama seorang bintang sinetron yang disukai Ayah.

Aku tinggal di Jatinangor.  Kota kecil yang kata Aki dulunya cuma hutan karet.  Sekarang hutan karet ini ramai.  Apalagi sejak banyak mahasiswa kuliah dan tinggal di sini.  Sehari-harinya banyak kulihat mahasiswa lalu lalang di jalan atau di depan rumah kami.

Rumah?  Ah, terlalu malu bila kuakatakan kalau rumah kami hanyalah gubuk yang gampang dibongkar ini.  Apalagi kami menumpang tinggal di tanah kepunyaan orang besar.  “Bintang dua,” pernah disebut Ayah.  Sejak sawah tempat Ayah biasa bekerja dibeli, digusur, dan dijadikan rumah kos, kami: Ayah, Emak, aku, dan Iki, terpaksa pindah tempat tinggal.  Apes, kata Ayah, soalnya dulu Ayah tidak pernah berpikir membuat surat untuk tanahnya.  Jadinya, tanah tempat kami tinggal dijual murah.

Sekarang Ayah terpaksa bekerja serabutan.  Maksudnya tidak tentu.  Dulu mah masih bisa tani, kata Ayah, sekarang jadi apa aja terima asal bisa makan.  Ayah pernah jadi penjaga kos di daerah Sukawening, tidak jauh dari tempat tinggal kami sekarang.  Tidak lama, cuma hitungan bulanan sudah dipecat gara-gara tempat kosnya kemalingan.  Sekarang cari obyekan lain.  Kalau ada bangunan, jadi kuli.  Kalau tidak, dari pagi hingga sore jadi calo buat angkot coklat. 

Atau pernah kalau lagi ada rezeki beli kupon tebak hasil pertandingan bola.  Biasanya Emak suka ribut sehabis Ayah beli kupon ini.  Aku pernah bertanya kenapa Emak ribut.  Ayah cuma menjawab sambil bersungut-sungut, “Emakmu tidak mau cepat kaya!”

Jangan salah lho!  Meski kerja Ayahku serabutan, aku masih tetap bisa sekolah.  Tapi, biayanya kebanyakan Emak yang mengeluarkan.   Emak seringkali mengingatkan aku soal ini.  Apalagi kalau habis ribut dengan Ayah.  Kalau sudah begini, Emak susah dihentikan.  Biasanya sih lama-lama aku tinggal sendiri saja.  Pernah ketika aku berangkat sekolah dan kemudian ketika aku pulang, Emak masih mengomel panjang.  Entah apa yang dibicarakannya.  Dan entah dengan siapa. 

Tapi untuk urusan cari duit, kuakui memang Emak cukup piawai.  Sering Emak mendekati penjaga kosan di kanan kiri, membantu bersih-bersih, atau terima cucian kalau ada mahasiswa yang meminta.  Kalau duit yang disimpan Emak cukup, Emak lantas membuat keripik lalu dibungkus lantas dijual ke mahasiswa olehku dan Iki. 

Kalau tidak ada rezeki, Emak tidak jadi malas-malasan.  Emak lantas datang ke pengajian saban pagi atau sore hari.  Senangnya kalau sudah pulang, Emak pasti membawa nasi dus yang jarang-jarang dapat aku nikmati.  Tapi, kalau ada kerjaan, Emak tidak datang ke pengajian.

Biaya sekolahku juga dibantu oleh kakak-kakak mahasiswa.  Ada beberapa temanku yang ikut program ‘Kakak Asuh’.  Dari sinilah aku kenal Hermes.  Sebenarnya namanya bukan Hermes, tapi ia ingin dipanggil Hermes olehku.  Alasannya nama Sophia seperti nama tokoh dalam novel yang pertama kali ia baca seumur hidup.  “Memangnya Hermes siapanya Sophia, kak?”, tanyaku saat berkenalan.  Anjingnya, kata kak Hermes.

Tapi Hermes bukanlah kakak asuhku.  Hermes lebih sering terlihat di gerbang kampus dan di jalan-jalan, meskipun di waktu ia, sepertinya, seharusnya kuliah.  Hermes merokok, seperti kebanyakan mahasiswa.  Suka kumpul dengan teman-temannya yang anehnya saling memanggil masing-masing mereka dengan sebutan, ‘Lai’. 

Saat aku sedang berjualan sehabis sekolah, aku bertemu Hermes.  Lantas ia menarikku ke tengah kumpulan teman-temannya sambil berkata lantang, “Inilah korban pemerintah kapitalis!”  Dari sini aku kemudian ditanya-tanya oleh mereka.  Meskipun penampilannya seperti tak terurus, tapi aku senang berada di antara mereka karena aku seperti diperhatikan.  Dari sini pulalah aku akhirnya menjadi akrab dengan mereka.

***

Aku senang menulis.  Apa pun aku tulis.  Padahal waktu aku di kelas satu, aku lama sekali belajar membaca.  Apalagi berhitung.  Aku tidak suka berhitung.  Tapi kalau jualan, aku bisa.  Soalnya kalau aku salah hitung, bisa-bisa aku dihadiahi omelan panjang Emak.

Karena kegemaranku ini, aku gemar menulis di mana-mana.  Buku-buku tulisku hampir habis kutulisi.  Kata-kata mengalir dan lewat saja dalam benakku.  Rasanya gatal kalau tidak segera kutulis.  Dan rasanya kata-kata itu memohon-mohon padaku agar ditulisi di atas kertas.  Tentu aku tidak menolak.  Apalagi kalau ada kata yang baru kukenal dan kutemui dari manapun, reklame, papan nama. Atau dari ucapan orang.

Kutulis ‘M-A-N-D-E’ dalam kertasku.  Kutanya Ayah apa artinya, tapi ia bilang aku salah tulis seharusnya ‘mandi’ bukan ‘mande’.  Aku tak puas.  Lalu kutanya Zel, teman Hermes, dan kudapat artinya, “Ibu, itu bahasa Minang”.  Kebetulan Zel memang orang Minang.  “Berarti kak Zel memanggil ibunya ‘mande’ yah?”  Dia cuma tersenyum.  Dibilangnya aku, “Kamu naif.”  Aku diam saja.  Setelah Zel lewat, segera kutulis, “N-A-I-P”.

Gara-gara tulisanku barusan, Hermes tertawa keras sekali.

“Kenapa kak, kok tertawa?”

Hermes belum berhenti tertawa.

Aku diam saja.  Aku sedang di sebuah rumah kontrakan yang berantakan sekali.  Konon, rumah ini dijadikan tempat mengumpul atau markas teman-teman Hermes.  Makanya di dalam rumah ini dengan mudah ditemukan baju-baju yang ditaruh sembarangan dan ditumpuk-tumpuk bersebelahan dengan buku-buku yang berserakan, rice cooker, kertas warna warni, obat nyamuk bakar untuk mengusir nyamuk yang mulai berkeliaran, selebaran kecil-kecil, dan ada juga pengeras suara dengan merek yang lucu.  Sigap kutulis di atas kertas, “T-O-A”.

“Piah..Piah..”, Hermes baru berhenti rupanya.

Aku diam saja.

“Persis.., persis seperti maksud Gaarder menjadikan gadis ABG sebagai siswi pemula filsafat.”

Aku diam saja.  Hal-hal yang diobrolkannya semakin rumit dan tak kumengerti.

Jimi, teman Hermes, lewat sambil menyela, “Bah! Kau ini..anak tiga eS-De saja diajarin filsafat.”

Aku diam saja.  Diam-diam kutulis, ‘P-I-L-S-A-P-A-T’.

“Coba kulihat apa saja yang sudah kau tulis.”

Aku berikan Hermes buku tulis lusuhku.

“Waahh, sudah banyak juga yang kau tulis.  Dan coba kulihat, banyak kali pun omongan kami kau tulis.  Tak tahu aku apa kau penurut atau pengamat yang baik?!”

Aku diam saja.

“Lihat!  ‘Kapitalis’, ‘modal’, ‘bangsat’, ‘komersil’, ‘rektor’, ‘akuwa’, ‘pakultas’, ‘registrasi’, yang ini lumayan panjang ‘copy jilid skripsi’, sampai yang paling lucu ‘naip’ dan ‘pilsapat’.”

Hermes memandangku.  Entah heran, takjub, kagum, atau ketakutan tampak dari  ungkapan wajahnya.

Aku diam saja.  Jelas aku kebingungan.

“Mau tahu kau barusan apa yang terjadi?”

Aku mengangguk.  Bingung.

“Kau itu sama seperti yang kau tulis, NAIF!  Tapi pake ‘f’ bukan ‘p’.  Lain kali yang benar kau tulis yah!  Bisa dimarahi guru Bahasa-mu nanti.”

“Naip, eh, naif itu apa kak?”, akhirnya aku angkat suara.

Alih-alih menjawab, Hermes malah cekikian lagi.

(Belakangan aku tahu, NAIF itu grup musik terkenal.  Pantas saja aku diketawai habis-habisan malam itu, karena aku dianggap ketinggalan zaman, tidak pernah dengar musik NAIF.  Aku tanya lagi ke Hermes.  Tapi, ia malah menggeleng.  “Yang kumaksud artinya, polos!  Ya, seperti dirimu inilah!”)

Setelah puas tertawa, Hermes bertanya, kali ini lebih serius, “Kelas berapa kau sekarang?”

“Tiga, kak!”

“Rapormu bagus?”

“Belum pernah dapat merah, kak!”

“Baguslah itu! Anak rajin kau, yah?!”

Aku diam saja.

“Bapak kerja?”

“Iya, kak.  Sekarang lagi ngojek, bawa motor Pak Amir yang lagi sakit.”

“Yang kecelakaan kemarin yah?  Kasihan Pak Amir itu.”

Aku mengangguk pelan.

“Sudah makan kau?”

“Eeee…. Belum kak.”

“Ini jatahku habis seminar tadi makan sajalah.  Maaf, sudah agak dingin.”

Aku tidak menolak.  Tapi, sebelum mulai makan, aku tulis di bukuku, ‘S-E-M-I-N-A-R’.  Setelah menulis, kulihat sekilas wajah heran Hermes.  Ungkapannya sama saja seperti habis tertawa tadi.

Belum juga kusentuh makananku, tiba-tiba ia bertanya, “Kalau kuajak kau sewaktu-waktu ikut rame-rame, mau kau?”

Rame-rame ngapain, kak?”

“Ikut demo.”

Aku diam saja.  Kuambil pensilku lagi, lalu kutulis, ‘D-E-M-O’.  Kulihat lagi wajah heran Hermes usai aku menulis.  Kurang, katanya, tambahkan jadi ‘D-E-M-O-N-S-T-R-A-S-I’, sambil mengejanya.  Setelah menulis kata yang lumayan banyak deretan hurufnya itu, barulah terbuka jalan bagiku untuk menikmati nasi ‘seminar’ yang telah dingin ini.

Baru sampai menggumpal nasi untuk disuapkan ke dalam mulutku.  Tiba-tiba Jimi keluar dari dalam kamar dan bertanya sesuatu kepada Hermes.  Seperti yang kudengar, Hermes cuma menjawab, sudah kukembalikan dari kemarin. 

Tapi, mendadak aku teringat lagi kata-kata yang sering diucapkan kawan-kawan Hermes ini.  Susah sekali mengingatnya.  Terlebih memindahkannya ke atas kertas.  Mumpung diingatkan sekali lagi, takkan kubiarkan ia lewat kali ini.  Kusisihkan nasi dinginku, kuambil pensil dan kutulis, ‘K-A-L-R-M-A-R-K-S’.  Seperti nama orang, pikirku.

Lalu dipenuhi kepuasan seakan sehabis kenaikan kelas, aku makan nasi ‘seminar’ yang dingin dengan berhias senyum kemenangan.

***

Hari itu datang juga.  Aku diajak ‘demonstrasi’ di Bandung.  Menumpang bus kampus yang kuning dan berkarat di sana sini, aku jadi primadona sepanjang perjalanan.  Semua mahasiswa yang memenuhi bus itu seolah-olah merelakan waktunya hanya untuk memperhatikanku.  Cukup begini, aku sudah senang.  Apalagi, ketika ‘demonstrasi’-nya dimulai, aku diperbolehkan menulis sepuasku. 

Kak Tiya memberikanku sebatang spidol dan selembar karton ukuran paling besar yang pernah kulihat.  Wah, pikirku, ini pertama kalinya aku menulis dengan spidol.  Kak Tiya seperti tahu kalau di sekolah aku belum diperbolehkan menulis selain dengan pensil.  Lalu, aku diajari banyak kata baru. 

Hermes memintaku menirukan sebuah demi sebuah kata dari karton atau spanduk lain, lantas kutulis berturut-turut, ‘K-O-L-U-S-I’, ‘K-O-R-U-P-S-I’, ‘N-E-P-O-T-I-S-M-E’, ‘M-I-L-I-T-E-R-I-S-A-S-I’, ‘P-R-I-V-A-T-I-S-A-S-I’, ‘C-I-V-I-L-S-O-C-I-E-T-Y’, dan banyak lagi. 

Begitu bangganya aku ketika hasil tulisanku diangkat tinggi-tinggi oleh mahasiswa yang memegang pengeras suara bermerek ‘T-O-A’ itu, kemudian namaku (secara tidak langsung sebenarnya) diteriaki lantang dan bergema ke mana-mana, “LIHAT ANAK KELAS TIGA ESDE SAJA MENGERTI!!!” (Walaupun kakak dengan pengeras suara ini mengatakannya dengan nada sepeti marah kepada seseorang yang tidak pernah kelihatan selama ‘demonstrasi’).

Lebih bahagia lagi seusai ‘demonstrasi’ aku dihadiahi karton yang habis kutulisi tadi dan karton-karton lain yang ditulisi mahasiswa.  Buat belajar di rumah, alasan Hermes.

***

Ingin kubagi pengalamanku ini dengan Ayah dan Emak.  Tapi, ketika aku pulang yang kudapati keduanya bermuka muram.  Aku jadi tidak enak hati bercerita.  Lantas kutanya, kenapa Emak tampak sedih.  Emak tidak menjawab.  Ayah yang menjawab, besok kita pulang ke Kuningan, tempat Abah. 

Aku justru heran, bukankah kalau begitu ini kabar baik yang mestinya tidak disertai dengan wajah muram.  Tapi, aku takut membuat Ayah marah lagi.  Kalau Ayah marah pasti akan selalu keluar, “Kamu masih kecil!  Jig…sare!”

Sepertinya Ayah tidak tahan melihat air kebingungan di mukaku.  Ia menjawab tanpa diminta, “Pak Jendral mau bangun kos-kosan”.  Tentulah yang dimaksud Ayah barusan itu si Bapak ‘Bintang Dua’ yang memiliki tanah.  Memangnya tidak bisa tetap tinggal di sini saja, Yah, aku memberanikan diri bertanya.  Ayah tersenyum kecut, “Tentu tidak, Piah.  Memangnya kamu mau kita di-buldoser?”.

Lagi-lagi dengan sejuta kebingungan aku menggeleng saja, seolah-olah paham dan sepakat dengan pendapat Ayah untuk pulang ke Kuningan.  Lalu aku berbaring di atas kasur kapuk bekas yang dibeli Emak dari mahasiswa yang sedang pindah kos, menatap atap gubuk yang ditopang oleh balok kayu yang saling bersilangan.

Lama kuterlamun.  Kemudian, aku ingat sesuatu!  Segera kuambil lagi buku tulisku yang mulai penuh akan coretan.  Kuambil spidol hadiah Kak Tiya waktu ikut ‘demonstrasi’ tadi.  Kubuka tutupnya, kemudian cairan hitam berbau harum mengalir dari ujung spidol, menuliskan huruf demi huruf membentuk sebaris kata di atas putihnya kertas.

‘D-I-B-U-L-D-O-S-E-R’.

Terpampang besar dan tampak jelas sehalaman di dalam buku tulisku.  Besok pagi-pagi sekali sebelum berangkat, akan kutanya pada Hermes.  Mudah-mudahan kali ini Hermes tidak tertawa keras-keras seperti waktu itu lagi.

***

(hawe: 250103, 01:24, untuk Jatinangor yang selalu kesepian)

J.League musim 2019 disiarkan di Indonesia

Pemirsa Indonesia kini dapat menyaksikan tiga pertandingan pilihan J.League setiap pekan melalui platform siaran streaming Rakuten Sports.

Ini merupakan bagian dari inisiatif J.League untuk menjangkau pasar Asia Tenggara. Bermitra dengan Lagardere Sports, Rakuten Sports akan menayangkan sisa pertandingan musim 2019 ke 140 negara, termasuk delapan negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Filipina.

Tiga pertandingan setiap pekan dapat dinikmati pemirsa sepakbola tanah air setelah melakukan registrasi ke Rakuten Sports yang dapat dilakukan dengan menggunakan akses Facebook maupun Google.

Tiga pertandingan yang dapat dinikmati pekan ini adalah:

Jumat, 14 Juni | 16:00 WIB | Kawasaki Frontale vs Consadole Sapporo
Sabtu, 15 Juni | 16:00 WIB | FC Tokyo vs Vissel Kobe
Minggu, 16 Juni | 16:00 WIB | Oita Trinita vs Nagoya Grampus

Setelah China memberlakukan pajak pendapatan yang sangat tinggi untuk memproteksi perkembangan pemain muda negara mereka, J.League kembali menjadi liga Asia yang paling bergengsi. Bintang veteran seperti Fernando Torres, David Villa, Lukas Podolski, dan Andres Iniesta memilih untuk berkompetisi di sana. Kehadiran para bintang ini diharapkan mendongkrak popularitas J.League.

Bagaimana popularitas J.League di Indonesia? Fans di Indonesia mengetahui hubungan masa lalu J.League dengan liga Indonesia, tetapi tidak banyak mengikuti perkembangan terkini. Tidak banyak pemain J.League yang dikenal fans Indonesia selain nama-nama para legenda antara lain seperti Kazuyoshi Miura, Ryu Ramos, dan Yasuhito Endo, misalnya.

Belakangan muncul nama baru seperti Takefusa Kubo, yang dijuluki Messi-nya Jepang, tetapi praktis hanya itu yang dikenal fans sepakbola Indonesia.

Padahal, J.League membuka slot khusus bagi pemain Asia di luar kuota pemain asing yang dimiliki setiap klub. Slot khusus ini dimanfaatkan sejumlah klub, baik dari aspek sepakbola maupun komersil. Teerasil Dangda, Teerathon Bunmathan, dan Chanathip Songkrasin menjadi tiga pemain Thailand yang bergabung ke klub Jepang — disusul belakangan oleh Thitipan Puangchan.

Kiprah Songkrasin bahkan menuai pujian, dinilai tak ubahnya seperti Kapten Tsubasa. Pemain yang akrab disapa “Messi Jay” itu bahkan masuk ke dalam susunan tim terbaik J.League musim 2018. Prestasi yang berbanding lurus dengan peningkatan nilai komersil J.League di Thailand.

Songkrasin menjadi primadona. Video latihan pertamanya bersama Consadole menuai 3 juta view. Melebihi populasi kota Sapporo, tempat Consadole bermarkas. Televisi Thailand pun tertarik menayangkan langsung J.League. Hasilnya, pertandingan Consadole melawan Kawasaki Frontale pada 2017 mendulang lebih dari 400.000 pemirsa. Jumlah itu bahkan mengalahkan jumlah pemirsa pertandingan Buriram United.

“Kami tidak hanya ingin menarik minat pemirsa Asia, tetapi juga seluruh dunia. Dengan pemain seperti Chanathip rasanya kami berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan hal itu.”

Mitsuru Murai, chairman J.League, dilansir APNews.

Potensi lebih besar tentu saja ada di Indonesia. Sebagai gambaran besarnya minat audiens Indonesia terhadap sepakbola, pertandingan Liga 1 2018 paling laris adalah Persib Bandung vs Persija Jakarta yang sanggup “mendatangkan” 2,6 juta penonton siaran streaming. Jumlah ini enam kali lipat(!) dari pemirsa siaran terlaris liga Thailand.

Hal itu bukannya tidak disadari petinggi J.League. Dalam berbagai kesempatan, J.League selalu berjuang merangkul pasar Indonesia mulai dari memainkan pertandingan eksebisi (FC Tokyo vs Bhayangkara FC awal 2018) hingga melakukan kerja sama kemitraan dengan PSSI maupun klub Liga 1. Namun, tingkat awareness J.League belum juga meningkat.

Pasalnya, tidak ada pemain Indonesia yang berkiprah di J.League. Seperti Songkrasin dkk, kehadiran pemain tentu dapat mendongkrak minat fans untuk menyaksikan J.League. Sejak Irfan Bachdim bergabung ke Bali United awal 2017, praktis fans tanah air mengabaikan J.League sama sekali. Pemain Indonesia lain yang pernah bertualang di Jepang adalah Stefano Lilipaly.

Diam-diam J.League sedang menggali kemungkinan mengajak bergabung sejumlah pemain muda Indonesia.

Berdasarkan sejumlah informasi yang penulis kumpulkan dari beberapa sumber, klub-klub Jepang tidak pernah menutup kemungkinan untuk mendatangkan pemain Indonesia.

Bisa dibilang, setiap tahun mereka menyusun daftar keinginan yang berisi tiga hingga lima nama pemain muda potensial Indonesia.

Namun, apakah pemain yang dilirik itu bersedia main di Jepang? Apakah mereka memiliki kemauan yang cukup untuk merantau ke sana? Itu pembahasan lain yang dapat dibicarakan dalam tulisan terpisah.

Mengevaluasi penting tidaknya UEFA Nations League

 Embed from Getty Images

Narasinya bisa saja berubah total. Seandainya ujung kaki Jesse Lingard tidak melampaui Denzel Dumfries, mungkin saja ajang UEFA Nations League dipuja-puji oleh media Inggris sebagai ajang inovatif yang menambah bobot laga uji coba internasional. Mungkin saja Inggris berjaya di final dan lantas siapa tahu muncul ide menyematkan satu bintang lagi bersanding dengan bintang juara dunia mereka. Mungkin saja…

Jadi, seberapa penting kah ajang Nations League ini? Inggris menjawabnya dengan 240 menit penuh bonus babak adu penalti dan hanya mencetak satu gol — itupun melalui eksekusi penalti. Hampir sama persis dengan Swiss. Belanda menjawabnya dengan sebuah kenyarisan yang lagi-lagi membuahkan keniscayaan: buat mereka tangga tertinggi hanyalah runner-up — meski ajangnya “sekadar” turnamen uji coba internasional.

Portugal tidak ambil pusing. Mereka tuan rumah dan berhasil menjadi juara. Lihat senyum ganjil Cristiano Ronaldo saat membopong trofi juara. Gelar ini mungkin tidak penting, tapi penting-penting saja karena menjamin nilai dagang dan kebanggaan negara. Apalagi 15 tahun lalu Portugal pernah menangis pilu setelah dikandaskan Yunani di final Euro di depan publik sendiri.

Ajang ini dipandang UEFA sebagai ajang revolusioner. Tidak ada lagi ajang uji coba main-main yang biasanya mengundang protes klub-klub besar setelah para pemain pulang dengan kondisi cedera. Dengan memasukkannya ke kalender resmi, bobot pertandingan pun bertambah sehingga tim peserta bisa berlomba-lomba meningkatkan poin peringkat FIFA mereka.

Bahkan, format ini sedang dipertimbangkan CONCACAF untuk meningkatkan gairah kompetisi asosiasi anggota mereka. AFC kabarnya sempat tertarik, tapi saya ragu setelah melihat begitu luasnya ruang geografis yang harus diliput kompetisi ini. Untuk saat ini, turnamen regional masih menjadi solusi terbaik untuk negara-negara Asia.

Embed from Getty Images

Dari empat pertandingan yang terselenggara, tercipta sembilan gol. Tapi adakah inovasi berarti? Karena hanya diikuti empat tim peserta, tidak banyak variasi taktik yang terjadi. Swiss sempat mengejutkan dengan distribusi bola mereka yang mencengangkan ketika menghadapi Portugal. Tetapi, kapasitas mereka sebatas mengejutkan. Mereka mentok di sepertiga akhir lapangan dan akhirnya lengah sehingga kecolongan gol-gol Cristiano Ronaldo pada pengujung pertandingan. Penampilan Swiss tidak terulang saat menghadapi Inggris di laga perebutan tempat ketiga.

Inggris terpaksa menghadiri pertandingan ini setelah dikalahkan Belanda. Sejatinya pertandingan berakhir 1-1 di waktu normal. Seperti yang dijelaskan di awal, Lingard berhasil membobol gawang Jasper Cillessen pada menit ke-84. Tapi, wasit Clement Turpin yang senantiasa tampil tenang sepanjang laga lantas menganulirnya karena off-side.

Jika Lingard tidak bergerak lebih cepat sepersekian detik saja, narasi berikutnya tidak akan terjadi. Dua kali pemain Inggris lalai dalam membangun serangan dari bawah. Akibatnya, Memphis Depay berhasil menginisiasi dua gol tambahan Belanda di babak perpanjangan waktu. John Stones dan Ross Barkley menjadi pesakitan. Tidak hanya itu, muncul kesangsian apakah Gareth Southgate masih harus mempertahankan taktik build-up play dari belakang.

Embed from Getty Images

Belanda pun lolos ke final menantang tuan rumah Portugal, tim yang paling sulit mereka tundukkan sepanjang sejarah. Oranje pernah menang 3-0 pada laga uji coba di Swiss tahun lalu persis ketika pelatih Ronald Koeman untuk kali terakhir menerapkan formasi 3-5-2. Setelah laga itu, Koeman memakai formasi empat bek dan hasilnya tokcer. Dua juara dunia, Prancis dan Jerman, mampu mereka langkahi untuk melangkah ke final four Nations League.

Namun, rupanya Koeman masih meraba bentuk terbaik timnya. Sang pelatih memakai starting XI yang sama persis di laga puncak. Padahal, sebagian besar pemain baru saja tampil 120 menit dua hari sebelumnya. Tuan rumah Portugal diuntungkan. Selain dukungan publik sendiri, mereka juga hanya bermain 90 menit plus waktu istirahat lebih panjang.

Sungguh disayangkan, di luar jadwal yang padat, empat tim peserta terlihat tidak tampil pada performa puncaknya. Kompetisi Eropa rata-rata sudah selesai tiga pekan sebelumnya. Biasanya sebelum terjun ke turnamen sebesar Euro atau Piala Dunia, tim-tim akan menjalani conditioning plus pertandingan uji coba selama dua pekan.

Embed from Getty Images

Empat tim itu mungkin tidak banyak ambil pusing. Final four Nations League tak ubahnya seperti bonus. Ketika tim-tim lain bertarung memperebutkan tiket ke Euro 2020, posisi mereka sudah terjamin di babak play-off — jika gagal lolos otomatis. Namun, UEFA belum memastikan akan menggelar Nations League sekaligus kualifikasi Piala Dunia 2022 selepas Euro mendatang.

Gol Goncalo Guedes akhirnya membuahkan kemenangan buat Portugal. Gelar juara Nations League melengkapi gelar juara Eropa yang mereka raih tiga tahun silam. Gelar juara ke-31 sepanjang karier profesional Cristiano Ronaldo. Gelar juara yang dirayakan dengan penuh suka cita oleh masyarakat Portugal.

Narasinya bisa saja berubah. Seandainya Swiss sukses mencuri gol di semi-final atau seandainya wasit Alberto Undiano Mallenco* tidak malas meninjau VAR, mungkin saja Nations League sudah luput dari perhatian banyak orang hari ini.

*Wasit senior asal Spanyol yang mengakhiri karier perwasitan pada laga final Nations League

Sepakbola Indonesia perlu VAR?

Embed from Getty Images

VAR atau tidak VAR. Inilah pertanyaan emas yang menghiasi sepakbola Indonesia beberapa kurun waktu terakhir. Terutama setelah Liga 1 Indonesia 2019 baru berjalan dua pekan saja. VAR dianggap mampu mengenyahkan kontroversi dalam sepakbola.

Sebagai informasi, kalau kebetulan kalian bukan penggemar sepakbola, VAR adalah kosa kata baru yang menyeruak masuk kamus si kulit bulat. VAR merupakan kependekan dari Video Assistant Referee (VAR). Seperti apa operasional VAR dalam sepakbola? Mungkin lebih baik lihat cuplikannya di sini.

Kemajuan teknologi mendorong sepakbola beradaptasi. Dalam sidang IFAB 2018, VAR mulai dipakai luas oleh kompetisi sepakbola berbagai negara. Panggung utamanya adalah Piala Dunia 2018 Rusia. Di final, VAR bahkan membantu Prancis mendapat penalti setelah wasit Nestor Pitana dibisiki bahwa Ivan Perisic melakukan handball di area terlarang.

Setelah pertandingan PSS Sleman vs Semen Padang yang kontroversial, raungan menggunakan VAR kembali bergaung di Indonesia. Bukankah VAR juga digunakan di liga Thailand? Kalau negara tetangga sudah menggunakan, kenapa Indonesia selalu ketinggalan? Kapan majunya sepakbola kita?

Apakah sudah saatnya sepakbola Indonesia menerapkan VAR? Mari menganalisisnya dengan tiga pertanyaan kunci: apakah sudah perlu, mampu, dan siap?

Perlu – Hampir tidak ada yang menyangsikan, VAR memang diperlukan jika melihat keadaan sepakbola tanah air kiwari. Wasit membuat kesalahan di sana-sini, kepercayaan publik rendah, apalagi setelah pecahnya skandal pengaturan skor pertandingan. Kalau seperti ini, teknologi VAR menjadi solusi.

Sepertinya komite eksekutif PSSI juga setuju, teknologi VAR bisa menjawab kebutuhan sepakbola Indonesia dan Liga 1 akan menerapkan VAR. Tapi, jangan senang dulu… Syarat dan ketentuan berlaku.

Embed from Getty Images

Mampu – Untuk memasang seperangkat teknologi VAR biayanya tidak lah murah. Tahun lalu, Serie A Brasil sempat mencetuskan gagasan penerapan VAR, tetapi begitu mengetahui biaya yang dibutuhkan memakan hingga US$6,2 juta (setara Rp89 miliar) semusim, klub-klub mundur teratur.

Sementara, A-League Australia merupakan kompetisi pertama di dunia yang menerapkan VAR dan setiap klub harus merogoh kocek sedalam AU$500 ribu (setara Rp4,9 miliar) untuk memasang teknologi itu di kandang masing-masing.

Apakah ada klub Indonesia yang mau mengeluarkan Rp5 miliar untuk memasang VAR? Tapi, kata Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, biaya VAR tidak semahal yang dibayangkan.

“Ternyata VAR murah, hanya 25 juta, tetapi akurasinya membuat tingkat kepercayaan semua pihak terhadap putusan wasit sangat tinggi, saatnya semua liga di Indonesia pakai VAR,” kata Imam.

Sumber: Indosport

Semangat nasionalisme Imam layak dipuji, apalagi memanfaatkan hasil teknologi negeri sendiri, tapi… Mari saya jelaskan pandangan saya dengan masuk ke aspek berikutnya.

Embed from Getty Images

Siap – Ini pertanyaan paling penting, apakah kita siap? Pada dasarnya, VAR hanya lah perangkat teknologi yang sifatnya membantu para wasit dalam mengambil keputusan. Jadi, VAR bukan lah keputusan itu sendiri. Pengambil keputusan tentang kejadian apa pun yang terjadi di atas lapangan tetap berada di tangan wasit.

Menurut saya, kualitas perwasitan yang semestinya menjadi sorotan utama dalam memperbaiki sepakbola tanah air. Memasang VAR tidak lantas menyelesaikan problem. Malah bisa jadi memperparah. Anggap saja Liga 1 telah menerapkan VAR di setiap pertandingan. Apa sudah menjadi jaminan tidak ada lagi protes yang berlebihan kepada wasit? Apalagi jika wasit itu tidak mau mengambil keputusan berdasarkan VAR? (Pada praktiknya, wasit berhak melakukan tinjauan VAR atau sebaliknya).

Kericuhan macam apa lagi yang akan terjadi?

Ketaatan dan kepatuhan adalah kunci. Selama pemain, pelatih, manajer, penonton, serta pegiat mana pun memahami dan memegang teguh Laws of the Game, sepakbola akan berjalan dengan baik.

Kalimat itu terdengar sangat klise. Tapi, tidak pernah diimplementasikan dengan sebenar-benarnya. Kita seperti bangsa yang dilahirkan untuk tidak siap kalah. Terkadang kita mesti berbesar hati mengakui keunggulan orang lain. Lalu, untuk mencapai level supremasi itu, diperlukan kerja keras dan ketekunan luar biasa.

Bukan dengan semata-mata memasang VAR. Sebelum memasang VAR pun kita semua harus tahu prosedur sertifikasi dari FIFA/AFC yang harus dijalani sebelum teknologi itu benar-benar diterapkan di dalam pertandingan. Tentu ada standar yang dipasang FIFA/AFC agar penerapan VAR di Indonesia dan Vanuatu, misalnya, sama derajatnya.

Belum lagi pelatihan untuk wasit operator VAR. Delapan bulan sebelum Piala Dunia 2018 digelar, FIFA sibuk mengumpulkan wasit andalan dari lima benua untuk menggelar pelatihan. Dari pelatihan ini bermunculan wasit-wasit dengan spesialisasi operator VAR. Lalu, sebanyak 13 orang wasit VAR ditugasi FIFA untuk memelototi monitor pertandingan sepanjang turnamen digelar.

Pertanyaannya, berapa jumlah wasit VAR bersertifikat FIFA/AFC di Indonesia? Jumlah wasit FIFA asal Indonesia saja hanya tiga.

Presiden FIFA Gianni Infantino berujar, dengan VAR sepakbola menjadi “bersih”. Sayangnya, harus berani diakui Indonesia belum sampai level itu. Sekadar Laws of the Game atau pedoman kompetisi saja masih kerap kita langgar…

All English Final di Liga Champions dan Liga Europa, Big Bang Fase 2 Liga Primer Inggris

All England Final

Musim 2018/19 adalah musim pertama final Liga Champions tanpa Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi sejak 2013. Musim ini juga musim pertama dalam sejarah ketika Liga Champions dan Liga Europa menampilkan seluruh finalis asal Inggris. Sebuah kebetulan sekaligus paradoks.

Madrid, 6 Juli 2009. Sebanyak 80.000 orang memenuhi Stadion Santiago Bernabeu bukan untuk menonton pertandingan. Mereka datang guna menyambut seorang megabintang yang baru saja didatangkan Real Madrid dengan rekor transfer £80 juta dan kontrak enam tahun. Kepindahan Cristiano Ronaldo ke klub top LaLiga Spanyol itu merupakan pukulan telak bagi Liga Primer Inggris yang mengklaim diri sebagai liga sepakbola terbaik dunia.

Selama hampir sepuluh tahun lamanya Liga Primer tidak memiliki megabintang yang bisa dijadikan senjata marketing mumpuni. Sejak 2009 pula, mereka juga tidak mampu memunculkan (dan juga membeli) pemain nominator Ballon d’Or. Bayangkan, liga dengan perputaran uang paling besar serta nilai hak siar tertinggi di dunia, tetapi malah tidak menampilkan deretan pemain terbaik?

Musim ini, keberhasilan empat klub Inggris menembus babak puncak Liga Champions dan Liga Europa dapat membalikkan keadaan. Dalam rentang waktu tiga hari, Liverpool dan Tottenham Hotspur menyegel tiket final Liga Champions; disusul Arsenal dan Chelsea di final Liga Europa. Pernahkah terjadi liga kompetisi sepakbola Eropa dikuasai satu negara saja? Tidak pernah. Bagi liga-liga top Eropa lain, skema ini hanya bisa terjadi di dalam mimpi terliar mereka.

Ini adalah kemenangan Liga Primer. Kemenangan yang mereka dambakan sejak 22 tim berkumpul di sebuah hotel London merundingkan deal hak siar televisi yang baru, 1992 silam. Tidak hanya deal baru yang mereka dapatkan, tetapi juga sebuah breakaway league yang membuka tirai era komersialisasi sepakbola modern. Sebuah big bang, cetus media massa Inggris.

Sejak pertemuan di Royal Lancaster Hotel itu, Liga Primer melakukan rebranding sepakbola Inggris yang penuh hooliganisme menjadi wajah yang lebih modern, terstruktur, dan ramah marketing. Padahal, tujuh tahun sebelumnya, klub Inggris dipermalukan dengan sanksi memalukan dari UEFA menyusul Tragedi Heysel. Selama lima tahun lamanya mereka dilarang mengikuti kompetisi antarklub Eropa mana pun.

Dekrit Bosman dan penyelenggaraan Euro 1996 menjadi momentum dalam mendorong klub-klub peserta untuk berlomba-lomba mendatangkan pemain asing. Mereka sudah mengantungi jutaan pounds hasil pemasukan hak siar televisi domestik maupun internasional. Tidak perlu risau, sepanjang nama si pemain sulit diucapkan kebanyakan fans Inggris, mereka sudah memiliki daya tarik yang cukup.

broadcast rights

Mungkin bukan kebetulan jika mulai musim depan Liga Primer memasuki siklus baru hak siar internasional mereka. Biasanya, jangka waktu kontrak ini berlangsung selama setiap tiga tahun. Valuasi siklus baru 2019-2022 untuk kali pertama menembus angka £4,5 milyar. Tanpa harus menjual tiket pertandingan musim baru, klub Liga Primer dimungkinkan sudah mengantungi keuntungan sebelum dikurangi pajak. Fantastis.

Bandingkan dengan LaLiga. Satu hari setelah Tottenham dan Liverpool memastikan tempat di final Liga Champions, LaLiga melansir kenaikan pemasukan sebesar 20,6 persen untuk musim 2017/18. Secara total, LaLiga menangguk €4,4 milyar (setara £3,7 milyar) yang merupakan rekor pendapatan mereka sepanjang sejarah. Jumlah itu merupakan akumulasi antara lain deal sponsor, hak siar televisi, dan transfer pemain.

Itu saja belum mampu menandingi pemasukan hak siar internasional Liga Primer. Catat, hanya hak siar internasional. Ditambah hak siar domestik, Liga Primer berpotensi meraup lebih dari £9 milyar untuk periode 2019-2022.

Selamat datang di big bang Liga Primer fase kedua. Kita berada di ambang dasawarsa baru 2020-an yang masih akan diwarnai hegemoni sepakbola Inggris. Pertanyaannya sekarang, apakah Liga Primer masih membutuhkan Liga Champions dan Liga Europa? Tentu saja masih. Keberhasilan klub mencapai final kejuaraan internasional akan meningkatkan valuasi serta daya tawar mereka saat merundingkan banyak deal baru.

Di sisi lain, para klub elite berpikiran lebih jauh. European Club Association (ECA) pernah menggulirkan gagasan sebuah liga super yang hanya diikuti jajaran klub elite Eropa. Gagasan itu sulit mendapatkan restu UEFA yang masih memandang sepakbola adalah milik segala lapisan.

Kini, gagasan baru ECA adalah menerapkan aturan promosi dan degradasi mulai Liga Champions musim 2024/25. Sekilas aturan ini tampak kompetitif, tetapi masih berpandangan elitis karena klub bisa mengikuti Liga Champions terlepas dari posisi mereka di klasemen akhir kompetisi domestik masing-masing.

stadion baru tottenham

Tantangan lain bagi Liga Primer, mungkin kedengaran janggal, adalah memenuhi stadion dengan penonton. Nilai hak siar dan deal marketing internasional akan terus menjulang selama audiens mendapatkan atmosfer stadion yang mereka inginkan, salah satunya adalah stadion yang terisi penuh.

Persoalannya, bagi klub Liga Primer yang dimanjakan dengan pendapatan hak siar tinggi, penjualan tiket pertandingan bukan lagi sumber utama pemasukan. Kehadiran fans tandang juga dipandang penting. Liga Primer menerapkan batasan harga tertinggi £30 untuk setiap lembar tiket yang dialokasikan untuk pendukung tim tamu. Aturan itu diterapkan mulai musim 2017/18.

Tantangan berikutnya adalah pemain bintang. Jika sepakbola modern adalah bisnis hiburan, Liga Primer membutuhkan megabintang untuk mengisi sorotan utama. Ronaldo dan Messi sudah berusia 30-an tahun dan sudah saatnya mencari idola baru. Sanksi larangan transfer yang dijatuhkan FIFA kepada Chelsea berlangsung hingga Januari 2020. Ketika sanksi itu berakhir, semestinya Chelsea sudah memiliki rasa lapar yang besar untuk memburu pemain bernama besar.

Tidak ada klub Inggris yang lebih bahagia dengan situasi terkini selain Tottenham. Mereka baru saja pindah ke stadion baru akhir Maret lalu dan paket layanan matchday hospitality mereka sangat nyaman, yang diklaim mampu mendatangkan pemasukan mencapai £800 ribu hanya dalam sekali pertandingan kandang.

Final Liga Champions adalah pencapaian luar biasa bagi klub yang menahan nafsu tidak berbelanja pemain selama jendela transfer musim panas lalu. Hat-trick Lucas Moura ke gawang Ajax Amsterdam lebih dari sekadar gol-gol kemenangan, tetapi juga dapat membuka lembaran sejarah baru. Siapa tahu salah satu klub yang getol mengampanyekan ide Liga Primer pada 1992 silam ini lah yang akan mendominasi top tier sepakbola Inggris era 2020-an.

Jackie Groenen, Lahirnya Idola Baru

Pernah mencoba menonton film di bioskop tanpa lebih dahulu menyaksikan trailer, preview atau review, kecuali hanya tahu bintang utama film tersebut? Sejauh yang saya ingat, saya melakukannya ketika memilih menonton Collateral. Saya hanya tahu Tom Cruise menjadi aktor utama film keluaran 2004 lalu; saya bahkan tidak sadar Michael Mann menjadi sutradaranya. Hasilnya, jika kamu menemukan film yang tepat, adalah sebuah keseruan yang murni.

Situasi hampir serupa saya alami tiga pekan lalu. Saya menyaksikan Euro Wanita 2017 semata-mata karena timnas Belanda berpartisipasi di turnamen empat tahunan itu. Oranjeleeuwinnen sekaligus menjadi tim tuan rumah. Pada laga perdana yang saya tonton, Belanda menghadapi Norwegia yang lebih berpengalaman.

Saya tidak membekali diri dengan informasi yang cukup saat menyaksikannya. Saya tidak tahu sebagian besar para pemain Belanda (apalagi Norwegia), kecuali misalnya yang sudah populer seperti Vivianne Miedema. Atau Lieke Martens yang baru saja meresmikan transfer ke Barcelona sebelum turnamen dimulai.

Pada laga itu, Belanda memiliki kelemahan yang mencolok di sektor belakang. Beruntung, Norwegia tidak memiliki lini ofensif yang mumpuni kecuali mengandalkan kemampuan Ada Hegerberg (satu-satunya nama pemain Norwegia yang sering saya dengar). Shanice van de Sanden memecah kebuntuan pada menit ke-66 setelah menyongsong umpan silang Martens dengan sundulan kepala terarah. Belanda menang 1-0.

Tapi, bukan Van de Sanden, Miedema, atau Martens yang berhasil memukau perhatian saya, melainkan gelandang energik bernomor punggung 14. Langkah-langkah kakinya begitu ringan saat mengolah bola. Dia memutar badan dengan keanggunan bak Johan Cruyff. Operan-operan dari kakinya berkali-kali menjadi awal serangan Belanda. Jika saya seorang fans pemula yang baru mengikuti sepakbola saat Euro Wanita 2017 digelar, dia sudah pasti menjadi idola pertama saya. Namanya Jackie Groenen, usianya 22 tahun.

***

Embed from Getty Images

Groenen bermain untuk klub top Bundesliga Jerman, FFC Frankfurt. Di sana, Groenen bermain sebagai gelandang serang. Namun, di timnas Belanda, dia diberi peran lebih bertahan oleh pelatih Sarina Wiegman dalam formasi andalan 4-3-3. Fungsi itu dijalaninya dengan sangat baik. Groenen berhasil mencuri hati masyarakat Belanda, meski tidak pernah tampil di kompetisi dalam negeri dan baru menghuni skuat Oranjeleeuwinnen selama setahun belakangan.

Peran orang tua sangat besar dalam perkembangan karier Groenen. Sang ayah, Jack, melatih sendiri kemampuan Jackie kecil dan kakaknya, Merel, di halaman rumah mereka. Jack membuat gawang kecil lengkap dengan jaringnya dan saban sore menghabiskan waktu mengolah si kulit bulat.

“Saya sadar anak seusia mereka, antara lima hingga sepuluh tahun, butuh banyak latihan. Tidak hanya satu setengah jam setiap pekan, tetapi lima sampai sepuluh jam setiap pekan. Mereka dalam usia optimal untuk belajar,” terang Jack kepada Michiel de Hoog dari De Correspondent.

Ketika Jackie dan Merel mendapat kesempatan bergabung dengan SG Essen di Jerman, Jack rela mengantar mereka jauh-jauh dari kota domisili mereka di Tilburg dengan berkendara mobil. Di bangku belakang, Jackie kerap dengan tekun menyimak rekaman video penampilan Dennis Bergkamp dan Johan Cruyff.

“Di rumah, ayah saya selalu memberi contoh permainan Cruyff. Saya selalu menyaksikan video permainannya di mana pun berada. Terkadang bahkan di bangku belakang mobil,” ceritanya kepada Frankfurter Rundschau, yang tak ragu menjulukinya “Cruyff wanita”. Tidak heran jika ini menjadi alasan Groenen memilih mengenakan nomor punggung 14.

Seperti halnya kutipan tenar Cruyff, di dalam ketidakuntungan ada keuntungan. Tubuh mungil Groenen (bertinggi badan hanya 1,63 meter) bukan halangan baginya dalam menjawab keraguan. Saat membela Chelsea pada 2014 hingga 2015, dia dijuluki “Si Semut” karena kemampuannya dalam menggerakkan lini tengah seakan dengan kekuatan dua pemain sekaligus.

“Masalahnya bukan terletak pada postur, tapi perhitungan. Kapan seharusnya saya mencegat bola? Kapan saya harus menghalangi lawan? Terkadang saya membiarkan lawan mendapatkan bola dan kemudian setelahnya saya rebut. Kalau harus berkonfrontasi, peluang saya lebih kecil daripada pemain lain yang bertinggi badan 1,8 meter,” bebernya kepada Metronieuws.

Embed from Getty Images

Keluwesan Groenen di lapangan hijau terbantu berkat cabang olahraga lain yang ditekuninya, yaitu judo. Dia bahkan pernah tiga kali menjuarai kejuaraan judo kelompok usia di bawah 15 tahun di Belanda. Pada 2010, Groenen merebut medali perunggu kejuaraan di bawah usia 17 tahun Eropa.

“Saya banyak belajar dari judo. Mengambil waktu yang tepat, keseimbangan yang tepat. Saya tahu kapan harus melompat menghindari tekel supaya tidak melukai diri sendiri,” ujarnya dilansir FFussball.

Karier judo Groenen terhenti saat berusia 17 tahun karena klubnya saat itu, FCR Duisburg, keberatan akibat pemain mereka mengalami cedera pinggul sehari sebelum pertandingan. Sepakbola lantas menjadi pilihan utama Groenen.

“Kedua olahraga itu saling mengisi, tapi pada akhirnya judo terlalu berisiko. Saya harus memilih dan sepakbola selalu menjadi cinta pertama saya,” bilangnya seperti dikutip Trouw.

***

Penampilan Groenen terus meningkat sepanjang turnamen. Groenen tampil sangat dominan pada laga ketiga menghadapi Belgia. Itu merupakan laga penuh ironi bagi Groenen. Dia hampir saja membela timnas Belgia ketika ada masalah antara orang tuanya dan KNVB. Namun, berkat campur tangan FIFA, Groenen tidak dapat berpindah timnas karena tidak memegang paspor Belgia saat memperkuat timnas junior Belanda. Akhirnya, Groenen memutuskan tetap berseragam jingga.

Tinggal di Tilburg yang dekat dengan perbatasan Belgia, Groenen memiliki banyak kerabat di negara tetangga itu. Keluarga dan teman datang menyaksikan pertandingan pamungkas Grup A yang kebetulan pula diselenggarakan di Stadion Willem II, Tilburg. Groenen tampil impresif malam itu.

Groenen berkontribusi pada seluruh gol yang memenangkan Belanda, 2-1. Pada menit ke-26, akselarasinya di kotak penalti dijegal oleh Maud Coutereels. Hadiah penalti pun sukses dimanfaatkan kapten Sherida Spitse. Belgia sempat menyamakan kedudukan, tetapi Groenen kembali mengubah keadaan. Umpan panjangnya diterima Lieke Martens, yang kemudian menendang bola membentur Heleen Jaques sehingga kiper Justien Odeurs terpedaya.

Belanda maju ke perempat-final. Groenen dapat merasakan, atensi publik kian tumbuh termasuk kepada dirinya. Kini dirinya kian dikenal luas oleh media maupun penggemar sepakbola Belanda. Groenen menjadi idola baru yang selalu mendapat prioritas dalam publikasi. Sebelum turnamen digelar, majalah Voetbal International memasang wajahnya sebagai sampul bersama dengan Vivianne Miedema, Jill Roord, dan Shanice van de Sanden.

Embed from Getty Images

Media juga penasaran dengan hobinya di luar sepakbola. Salah satu episode “Oranje Taxi”, sebuah program dalam kanal OnsOranje, secara khusus menampilkan sosok Groenen. Lalu, kepada Metronieuws misalnya, Groenen membeberkan selera musiknya. Ketimbang musik kontemporer, dia lebih suka mendengarkan Ray Charles, Fleetwood Mac, Stevie Wonder, dan Michael Jackson dari piringan hitam. “Selera musik saya bukan selera yang lazim,” selorohnya.

“Antusiasme di Belanda makin besar [terhadap sepakbola wanita], tapi bagi saya itu bukan sesuatu yang baru. Saya sudah enam tahun di Bundesliga Jerman dan ribuan orang datang menonton setiap pekan. Saya juga terbiasa diwawancara secara reguler,” katanya kepada Metronieuws.

Namun, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Tilburg ini tidak melupakan fokus di atas lapangan. Selain ingin menikmati turnamen, Groenen berkeinginan “menghadapi Jerman di final dan menang 2-1”. Keinginan itu tidak terwujud setelah Jerman ditumbangkan Denmark pada perempat-final. Denmark pula yang menjadi lawan Belanda di final Euro Wanita 2017, Minggu (6/8).

Sebelum laga puncak, Belanda lebih dahulu menyingkirkan Swedia dan Inggris secara berturut-turut pada perempat dan semi-final. Pada dua pertandingan itu, Belanda melesakkan lima gol dan tidak kebobolan. Lagi-lagi Groenen berperan penting.

Lini tengah Belanda begitu dinamis dengan kehadiran Groenen. Kegigihannya terbayar pada pertandingan melawan Swedia. Gol kedua Belanda melalui kaki Miedema diawali upaya Groenen mencuri penguasaan bola lawan. Tim Studi Teknik UEFA pun mengganjar penampilan Groenen dengan penghargaan pemain terbaik pertandingan.

Begitu juga saat menghadapi Inggris. Groenen berada di banyak tempat dan seolah tak tertandingi. Dia memberikan assist yang memudahkan Miedema membuka keunggulan Belanda. Dominasi lini tengah menjadi kunci kemenangan Belanda untuk menembus final Euro Wanita pertama dalam sejarah.

***

Sejarah baru lahir pada final Euro Wanita 2017. Lahir juara baru setelah kejuaraan terus menerus didominasi Jerman selama 22 tahun terakhir. Kedua finalis, Denmark dan Belanda, menjadi negara keenam dan ketujuh yang mampu tampil di babak puncak. Belanda, yang menaklukkan Denmark 4-2 lewat laga yang berjalan seru, tampil sebagai juara keempat dalam sejarah turnamen setelah Jerman, Norwegia, dan Swedia.

Groenen menjadi bagian dari sejarah itu. Ketika Belanda tertinggal setelah Nadia Nadim sukses mengeksekusi penalti ke gawang Sari van Veenendaal pada menit keenam, Groenen menginisiasi sebuah serangan balik. Kombinasi visi dan akurasi umpan Groenen memberikan Van de Sanden ruang yang dibutuhkan untuk mendobrak pertahanan Denmark. Umpan silang yang disodorkan Van de Sanden dimaksimalkan Miedema menjadi gol balasan.

Berkat penampilannya yang mencerahkan turnamen, UEFA tak ragu memasukkan Groenen ke dalam susunan tim terbaik Euro Wanita 2017.

Laga final yang seru itu melahirkan harapan besar atas berkembangnya sepakbola wanita. Laga final Euro Wanita 2017 mencetak rekor jumlah rata-rata 4 juta pemirsa televisi Belanda. Negara Tulip itu juga menjadi tuan rumah Euro Wanita pertama yang selalu menjual habis tiket pertandingan sepanjang turnamen berlangsung.

“Saya pikir tugas penting yang baru saja kami capai adalah memberi inspirasi kepada para anak wanita untuk menekuni sepakbola,” ujar Groenen dilansir FCUpdate.

Sepakbola tidak hanya menjadi milik kaum pria. Sukses Euro Wanita 2017 memberikan anak-anak Belanda, pria dan wanita, idola baru. Akan banyak orang tua yang ingin agar anaknya menjadi Groenen, Miedema, Van de Sanden, dan lain-lain. Jumlah pemain wanita Belanda pun diprediksi bakal meningkat dari catatan musim 2016/17, yaitu 153.001 orang. Hanya Inggris dan Jerman yang memiliki jumlah pemain wanita lebih banyak daripada Belanda.

Meski hanya menikmati dari jauh, pengalaman menyaksikan penampilan Belanda selama Euro Wanita 2017 telah memberikan saya keseruan yang murni dan seorang idola baru.

Embed from Getty Images

Ke Mana Wesley Sneijder Menyambung Karier?

Wesley Sneijder telah resmi memutus kontrak kerja sama dengan Galatasaray 14 Juli lalu, tapi hingga hampir dua pekan berjalan belum diketahui klub tujuan berikutnya gelandang internasional Belanda 33 tahun itu.

Sneijder jelas membutuhkan klub baru yang kompetitif mengingat tahun depan adalah tahun Piala Dunia. Meski timnas Belanda masih terseok-seok di babak kualifikasi, namun Sneijder masih menjadi andalan. Jika Oranje lolos ke Rusia, mereka pasti membutuhkan tenaga sang pengukir rekor caps internasional sepanjang masa.

Lalu, apa saja opsi yang dimiliki Sneijder saat ini?

Bertahan Di Eropa

Mengingat Piala Dunia ada di depan mata, niat awal Sneijder adalah bertahan di Eropa. Serie A Italia menjadi salah satu pertimbangan tujuan. Namun, di antara banyak klub Italia, hanya Sampdoria yang mengajaknya bergabung. Itu pun gagal lantaran pelatih Marco Giampaolo lebih tertarik merekrut Josip Ilicic dari Fiorentina. Meski transfer itu pun gagal terlaksana.

Sempat muncul rumor pendekatan dengan AC Milan, yang sedang giat membangun kekuatan pada pergantian musim ini. Namun, Milan tidak tertarik menjadikan Sneijder sebagai pemain inti. Rumor itu pun menguap begitu saja.

Kembali Ke Eredivisie

FC Utrecht menjadi klub Eredivisie yang paling berminat mendapatkan Sneijder. Untuk diketahui, Utrecht adalah kota kelahiran Sneijder. Menambah kekuatan dengan mendatangkan pemain berpengalaman seperti Sneijder sangat penting karena Utrecht juga berkompetisi di Liga Europa musim 2017/18.

Sementara, mantan klub sang pemain, Ajax Amsterdam bereaksi dingin. Mungkin karena pelatih Marcel Keizer sudah memiliki Hakim Ziyech untuk berperan di posisi bermain Sneijder. Belum lagi memperhitungkan Frenkie de Jong yang siap unjuk gigi musim 2017/18. Sebenarnya ada slot tersedia di dalam skuat Ajax setelah musibah yang menimpa Abdelhak Nouri, tapi tampaknya Keizer memilih mengakomodasi stok yang dimilikinya, termasuk para pemain muda yang ada di skuat Jong Ajax.

Namun, setelah sempat dikabarkan melakukan pendekatan serius, Utrecht kini tampaknya tak lagi menjadi klub terdepan dalam antrean tanda tangan Sneijder. Seperti yang dilansir Voetbal International, presiden Frans van Seumeren menyatakan nilai gaji Sneijder terlalu tinggi buat Utrecht. Di Galatasaray saja, Sneijder menerima bayaran €14 juta per tahun.

MLS

Liga utama Amerika Serikat ini diyakini menjadi tujuan sesungguhnya Sneijder. Bukan hanya karena rumor yang mengaitkannya dengan Montreal Impact atau Los Angeles FC (LAFC), tetapi ada pula faktor keinginan sang istri. Yolanthe Cabau, seorang model jelita, ingin merintis karier di dunia hiburan Amerika Serikat. Tentu niat itu akan kesampaian jika Sneijder setuju menjadi salah satu designated player MLS.

Montreal sudah mengajukan tawaran bergabung kepada Sneijder. Jurnalis beIN SPORTS, Tancredi Palmeri, pernah menyiratkan kemungkinan Sneijder bergabung lebih dahulu dengan klub saudari Montreal di Serie A, Bologna, sebelum akhirnya pindah sepenuhnya ke MLS.

Los Angeles diyakini menjadi tempat yang paling diinginkan Sneijder (dan istri) jika pindah ke Amerika Serikat, tetapi LAFC baru akan aktif di MLS musim 2018.

Liga Tiongkok

Sneijder pernah menampik godaan wah dari Jiangsu Suning tahun lalu, tetapi terbuka kemungkinan dia berpikir lagi jika ada tawaran serupa dari klub-klub liga Tiongkok yang beberapa tahun terakhir dikenal royal dalam belanja pemain. Meski ada penerapan aturan baru yang memperketat transfer pemain asing di Tiongkok, setidaknya status bebas transfer meringankan langkah klub peminat untuk mendapatkan Sneijder. Dengan usia yang sudah tidak muda, tentu tidak banyak kesempatan bagi Sneijder mencari klub yang bersedia menganggarkan gaji mahal untuknya.

Back to top