J.League musim 2019 disiarkan di Indonesia

Pemirsa Indonesia kini dapat menyaksikan tiga pertandingan pilihan J.League setiap pekan melalui platform siaran streaming Rakuten Sports.

Ini merupakan bagian dari inisiatif J.League untuk menjangkau pasar Asia Tenggara. Bermitra dengan Lagardere Sports, Rakuten Sports akan menayangkan sisa pertandingan musim 2019 ke 140 negara, termasuk delapan negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Filipina.

Tiga pertandingan setiap pekan dapat dinikmati pemirsa sepakbola tanah air setelah melakukan registrasi ke Rakuten Sports yang dapat dilakukan dengan menggunakan akses Facebook maupun Google.

Tiga pertandingan yang dapat dinikmati pekan ini adalah:

Jumat, 14 Juni | 16:00 WIB | Kawasaki Frontale vs Consadole Sapporo
Sabtu, 15 Juni | 16:00 WIB | FC Tokyo vs Vissel Kobe
Minggu, 16 Juni | 16:00 WIB | Oita Trinita vs Nagoya Grampus

Setelah China memberlakukan pajak pendapatan yang sangat tinggi untuk memproteksi perkembangan pemain muda negara mereka, J.League kembali menjadi liga Asia yang paling bergengsi. Bintang veteran seperti Fernando Torres, David Villa, Lukas Podolski, dan Andres Iniesta memilih untuk berkompetisi di sana. Kehadiran para bintang ini diharapkan mendongkrak popularitas J.League.

Bagaimana popularitas J.League di Indonesia? Fans di Indonesia mengetahui hubungan masa lalu J.League dengan liga Indonesia, tetapi tidak banyak mengikuti perkembangan terkini. Tidak banyak pemain J.League yang dikenal fans Indonesia selain nama-nama para legenda antara lain seperti Kazuyoshi Miura, Ryu Ramos, dan Yasuhito Endo, misalnya.

Belakangan muncul nama baru seperti Takefusa Kubo, yang dijuluki Messi-nya Jepang, tetapi praktis hanya itu yang dikenal fans sepakbola Indonesia.

Padahal, J.League membuka slot khusus bagi pemain Asia di luar kuota pemain asing yang dimiliki setiap klub. Slot khusus ini dimanfaatkan sejumlah klub, baik dari aspek sepakbola maupun komersil. Teerasil Dangda, Teerathon Bunmathan, dan Chanathip Songkrasin menjadi tiga pemain Thailand yang bergabung ke klub Jepang — disusul belakangan oleh Thitipan Puangchan.

Kiprah Songkrasin bahkan menuai pujian, dinilai tak ubahnya seperti Kapten Tsubasa. Pemain yang akrab disapa “Messi Jay” itu bahkan masuk ke dalam susunan tim terbaik J.League musim 2018. Prestasi yang berbanding lurus dengan peningkatan nilai komersil J.League di Thailand.

Songkrasin menjadi primadona. Video latihan pertamanya bersama Consadole menuai 3 juta view. Melebihi populasi kota Sapporo, tempat Consadole bermarkas. Televisi Thailand pun tertarik menayangkan langsung J.League. Hasilnya, pertandingan Consadole melawan Kawasaki Frontale pada 2017 mendulang lebih dari 400.000 pemirsa. Jumlah itu bahkan mengalahkan jumlah pemirsa pertandingan Buriram United.

“Kami tidak hanya ingin menarik minat pemirsa Asia, tetapi juga seluruh dunia. Dengan pemain seperti Chanathip rasanya kami berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan hal itu.”

Mitsuru Murai, chairman J.League, dilansir APNews.

Potensi lebih besar tentu saja ada di Indonesia. Sebagai gambaran besarnya minat audiens Indonesia terhadap sepakbola, pertandingan Liga 1 2018 paling laris adalah Persib Bandung vs Persija Jakarta yang sanggup “mendatangkan” 2,6 juta penonton siaran streaming. Jumlah ini enam kali lipat(!) dari pemirsa siaran terlaris liga Thailand.

Hal itu bukannya tidak disadari petinggi J.League. Dalam berbagai kesempatan, J.League selalu berjuang merangkul pasar Indonesia mulai dari memainkan pertandingan eksebisi (FC Tokyo vs Bhayangkara FC awal 2018) hingga melakukan kerja sama kemitraan dengan PSSI maupun klub Liga 1. Namun, tingkat awareness J.League belum juga meningkat.

Pasalnya, tidak ada pemain Indonesia yang berkiprah di J.League. Seperti Songkrasin dkk, kehadiran pemain tentu dapat mendongkrak minat fans untuk menyaksikan J.League. Sejak Irfan Bachdim bergabung ke Bali United awal 2017, praktis fans tanah air mengabaikan J.League sama sekali. Pemain Indonesia lain yang pernah bertualang di Jepang adalah Stefano Lilipaly.

Diam-diam J.League sedang menggali kemungkinan mengajak bergabung sejumlah pemain muda Indonesia.

Berdasarkan sejumlah informasi yang penulis kumpulkan dari beberapa sumber, klub-klub Jepang tidak pernah menutup kemungkinan untuk mendatangkan pemain Indonesia.

Bisa dibilang, setiap tahun mereka menyusun daftar keinginan yang berisi tiga hingga lima nama pemain muda potensial Indonesia.

Namun, apakah pemain yang dilirik itu bersedia main di Jepang? Apakah mereka memiliki kemauan yang cukup untuk merantau ke sana? Itu pembahasan lain yang dapat dibicarakan dalam tulisan terpisah.

Mengevaluasi penting tidaknya UEFA Nations League

 Embed from Getty Images

Narasinya bisa saja berubah total. Seandainya ujung kaki Jesse Lingard tidak melampaui Denzel Dumfries, mungkin saja ajang UEFA Nations League dipuja-puji oleh media Inggris sebagai ajang inovatif yang menambah bobot laga uji coba internasional. Mungkin saja Inggris berjaya di final dan lantas siapa tahu muncul ide menyematkan satu bintang lagi bersanding dengan bintang juara dunia mereka. Mungkin saja…

Jadi, seberapa penting kah ajang Nations League ini? Inggris menjawabnya dengan 240 menit penuh bonus babak adu penalti dan hanya mencetak satu gol — itupun melalui eksekusi penalti. Hampir sama persis dengan Swiss. Belanda menjawabnya dengan sebuah kenyarisan yang lagi-lagi membuahkan keniscayaan: buat mereka tangga tertinggi hanyalah runner-up — meski ajangnya “sekadar” turnamen uji coba internasional.

Portugal tidak ambil pusing. Mereka tuan rumah dan berhasil menjadi juara. Lihat senyum ganjil Cristiano Ronaldo saat membopong trofi juara. Gelar ini mungkin tidak penting, tapi penting-penting saja karena menjamin nilai dagang dan kebanggaan negara. Apalagi 15 tahun lalu Portugal pernah menangis pilu setelah dikandaskan Yunani di final Euro di depan publik sendiri.

Ajang ini dipandang UEFA sebagai ajang revolusioner. Tidak ada lagi ajang uji coba main-main yang biasanya mengundang protes klub-klub besar setelah para pemain pulang dengan kondisi cedera. Dengan memasukkannya ke kalender resmi, bobot pertandingan pun bertambah sehingga tim peserta bisa berlomba-lomba meningkatkan poin peringkat FIFA mereka.

Bahkan, format ini sedang dipertimbangkan CONCACAF untuk meningkatkan gairah kompetisi asosiasi anggota mereka. AFC kabarnya sempat tertarik, tapi saya ragu setelah melihat begitu luasnya ruang geografis yang harus diliput kompetisi ini. Untuk saat ini, turnamen regional masih menjadi solusi terbaik untuk negara-negara Asia.

Embed from Getty Images

Dari empat pertandingan yang terselenggara, tercipta sembilan gol. Tapi adakah inovasi berarti? Karena hanya diikuti empat tim peserta, tidak banyak variasi taktik yang terjadi. Swiss sempat mengejutkan dengan distribusi bola mereka yang mencengangkan ketika menghadapi Portugal. Tetapi, kapasitas mereka sebatas mengejutkan. Mereka mentok di sepertiga akhir lapangan dan akhirnya lengah sehingga kecolongan gol-gol Cristiano Ronaldo pada pengujung pertandingan. Penampilan Swiss tidak terulang saat menghadapi Inggris di laga perebutan tempat ketiga.

Inggris terpaksa menghadiri pertandingan ini setelah dikalahkan Belanda. Sejatinya pertandingan berakhir 1-1 di waktu normal. Seperti yang dijelaskan di awal, Lingard berhasil membobol gawang Jasper Cillessen pada menit ke-84. Tapi, wasit Clement Turpin yang senantiasa tampil tenang sepanjang laga lantas menganulirnya karena off-side.

Jika Lingard tidak bergerak lebih cepat sepersekian detik saja, narasi berikutnya tidak akan terjadi. Dua kali pemain Inggris lalai dalam membangun serangan dari bawah. Akibatnya, Memphis Depay berhasil menginisiasi dua gol tambahan Belanda di babak perpanjangan waktu. John Stones dan Ross Barkley menjadi pesakitan. Tidak hanya itu, muncul kesangsian apakah Gareth Southgate masih harus mempertahankan taktik build-up play dari belakang.

Embed from Getty Images

Belanda pun lolos ke final menantang tuan rumah Portugal, tim yang paling sulit mereka tundukkan sepanjang sejarah. Oranje pernah menang 3-0 pada laga uji coba di Swiss tahun lalu persis ketika pelatih Ronald Koeman untuk kali terakhir menerapkan formasi 3-5-2. Setelah laga itu, Koeman memakai formasi empat bek dan hasilnya tokcer. Dua juara dunia, Prancis dan Jerman, mampu mereka langkahi untuk melangkah ke final four Nations League.

Namun, rupanya Koeman masih meraba bentuk terbaik timnya. Sang pelatih memakai starting XI yang sama persis di laga puncak. Padahal, sebagian besar pemain baru saja tampil 120 menit dua hari sebelumnya. Tuan rumah Portugal diuntungkan. Selain dukungan publik sendiri, mereka juga hanya bermain 90 menit plus waktu istirahat lebih panjang.

Sungguh disayangkan, di luar jadwal yang padat, empat tim peserta terlihat tidak tampil pada performa puncaknya. Kompetisi Eropa rata-rata sudah selesai tiga pekan sebelumnya. Biasanya sebelum terjun ke turnamen sebesar Euro atau Piala Dunia, tim-tim akan menjalani conditioning plus pertandingan uji coba selama dua pekan.

Embed from Getty Images

Empat tim itu mungkin tidak banyak ambil pusing. Final four Nations League tak ubahnya seperti bonus. Ketika tim-tim lain bertarung memperebutkan tiket ke Euro 2020, posisi mereka sudah terjamin di babak play-off — jika gagal lolos otomatis. Namun, UEFA belum memastikan akan menggelar Nations League sekaligus kualifikasi Piala Dunia 2022 selepas Euro mendatang.

Gol Goncalo Guedes akhirnya membuahkan kemenangan buat Portugal. Gelar juara Nations League melengkapi gelar juara Eropa yang mereka raih tiga tahun silam. Gelar juara ke-31 sepanjang karier profesional Cristiano Ronaldo. Gelar juara yang dirayakan dengan penuh suka cita oleh masyarakat Portugal.

Narasinya bisa saja berubah. Seandainya Swiss sukses mencuri gol di semi-final atau seandainya wasit Alberto Undiano Mallenco* tidak malas meninjau VAR, mungkin saja Nations League sudah luput dari perhatian banyak orang hari ini.

*Wasit senior asal Spanyol yang mengakhiri karier perwasitan pada laga final Nations League