Mengevaluasi penting tidaknya UEFA Nations League

 Embed from Getty Images

Narasinya bisa saja berubah total. Seandainya ujung kaki Jesse Lingard tidak melampaui Denzel Dumfries, mungkin saja ajang UEFA Nations League dipuja-puji oleh media Inggris sebagai ajang inovatif yang menambah bobot laga uji coba internasional. Mungkin saja Inggris berjaya di final dan lantas siapa tahu muncul ide menyematkan satu bintang lagi bersanding dengan bintang juara dunia mereka. Mungkin saja…

Jadi, seberapa penting kah ajang Nations League ini? Inggris menjawabnya dengan 240 menit penuh bonus babak adu penalti dan hanya mencetak satu gol — itupun melalui eksekusi penalti. Hampir sama persis dengan Swiss. Belanda menjawabnya dengan sebuah kenyarisan yang lagi-lagi membuahkan keniscayaan: buat mereka tangga tertinggi hanyalah runner-up — meski ajangnya “sekadar” turnamen uji coba internasional.

Portugal tidak ambil pusing. Mereka tuan rumah dan berhasil menjadi juara. Lihat senyum ganjil Cristiano Ronaldo saat membopong trofi juara. Gelar ini mungkin tidak penting, tapi penting-penting saja karena menjamin nilai dagang dan kebanggaan negara. Apalagi 15 tahun lalu Portugal pernah menangis pilu setelah dikandaskan Yunani di final Euro di depan publik sendiri.

Ajang ini dipandang UEFA sebagai ajang revolusioner. Tidak ada lagi ajang uji coba main-main yang biasanya mengundang protes klub-klub besar setelah para pemain pulang dengan kondisi cedera. Dengan memasukkannya ke kalender resmi, bobot pertandingan pun bertambah sehingga tim peserta bisa berlomba-lomba meningkatkan poin peringkat FIFA mereka.

Bahkan, format ini sedang dipertimbangkan CONCACAF untuk meningkatkan gairah kompetisi asosiasi anggota mereka. AFC kabarnya sempat tertarik, tapi saya ragu setelah melihat begitu luasnya ruang geografis yang harus diliput kompetisi ini. Untuk saat ini, turnamen regional masih menjadi solusi terbaik untuk negara-negara Asia.

Embed from Getty Images

Dari empat pertandingan yang terselenggara, tercipta sembilan gol. Tapi adakah inovasi berarti? Karena hanya diikuti empat tim peserta, tidak banyak variasi taktik yang terjadi. Swiss sempat mengejutkan dengan distribusi bola mereka yang mencengangkan ketika menghadapi Portugal. Tetapi, kapasitas mereka sebatas mengejutkan. Mereka mentok di sepertiga akhir lapangan dan akhirnya lengah sehingga kecolongan gol-gol Cristiano Ronaldo pada pengujung pertandingan. Penampilan Swiss tidak terulang saat menghadapi Inggris di laga perebutan tempat ketiga.

Inggris terpaksa menghadiri pertandingan ini setelah dikalahkan Belanda. Sejatinya pertandingan berakhir 1-1 di waktu normal. Seperti yang dijelaskan di awal, Lingard berhasil membobol gawang Jasper Cillessen pada menit ke-84. Tapi, wasit Clement Turpin yang senantiasa tampil tenang sepanjang laga lantas menganulirnya karena off-side.

Jika Lingard tidak bergerak lebih cepat sepersekian detik saja, narasi berikutnya tidak akan terjadi. Dua kali pemain Inggris lalai dalam membangun serangan dari bawah. Akibatnya, Memphis Depay berhasil menginisiasi dua gol tambahan Belanda di babak perpanjangan waktu. John Stones dan Ross Barkley menjadi pesakitan. Tidak hanya itu, muncul kesangsian apakah Gareth Southgate masih harus mempertahankan taktik build-up play dari belakang.

Embed from Getty Images

Belanda pun lolos ke final menantang tuan rumah Portugal, tim yang paling sulit mereka tundukkan sepanjang sejarah. Oranje pernah menang 3-0 pada laga uji coba di Swiss tahun lalu persis ketika pelatih Ronald Koeman untuk kali terakhir menerapkan formasi 3-5-2. Setelah laga itu, Koeman memakai formasi empat bek dan hasilnya tokcer. Dua juara dunia, Prancis dan Jerman, mampu mereka langkahi untuk melangkah ke final four Nations League.

Namun, rupanya Koeman masih meraba bentuk terbaik timnya. Sang pelatih memakai starting XI yang sama persis di laga puncak. Padahal, sebagian besar pemain baru saja tampil 120 menit dua hari sebelumnya. Tuan rumah Portugal diuntungkan. Selain dukungan publik sendiri, mereka juga hanya bermain 90 menit plus waktu istirahat lebih panjang.

Sungguh disayangkan, di luar jadwal yang padat, empat tim peserta terlihat tidak tampil pada performa puncaknya. Kompetisi Eropa rata-rata sudah selesai tiga pekan sebelumnya. Biasanya sebelum terjun ke turnamen sebesar Euro atau Piala Dunia, tim-tim akan menjalani conditioning plus pertandingan uji coba selama dua pekan.

Embed from Getty Images

Empat tim itu mungkin tidak banyak ambil pusing. Final four Nations League tak ubahnya seperti bonus. Ketika tim-tim lain bertarung memperebutkan tiket ke Euro 2020, posisi mereka sudah terjamin di babak play-off — jika gagal lolos otomatis. Namun, UEFA belum memastikan akan menggelar Nations League sekaligus kualifikasi Piala Dunia 2022 selepas Euro mendatang.

Gol Goncalo Guedes akhirnya membuahkan kemenangan buat Portugal. Gelar juara Nations League melengkapi gelar juara Eropa yang mereka raih tiga tahun silam. Gelar juara ke-31 sepanjang karier profesional Cristiano Ronaldo. Gelar juara yang dirayakan dengan penuh suka cita oleh masyarakat Portugal.

Narasinya bisa saja berubah. Seandainya Swiss sukses mencuri gol di semi-final atau seandainya wasit Alberto Undiano Mallenco* tidak malas meninjau VAR, mungkin saja Nations League sudah luput dari perhatian banyak orang hari ini.

*Wasit senior asal Spanyol yang mengakhiri karier perwasitan pada laga final Nations League

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s