Buku Piah

Namaku Piah.  Setidaknya aku dipanggil begitu oleh teman-temanku.  Kedengarannya juga sama bagi orang tuaku.  Padahal namaku di surat kelahiran cukup bagus: Sophia.  Kenapa begitu?  Ayahku yang memberinya.  Lama-lama baru kutahu itu nama seorang bintang sinetron yang disukai Ayah.

Aku tinggal di Jatinangor.  Kota kecil yang kata Aki dulunya cuma hutan karet.  Sekarang hutan karet ini ramai.  Apalagi sejak banyak mahasiswa kuliah dan tinggal di sini.  Sehari-harinya banyak kulihat mahasiswa lalu lalang di jalan atau di depan rumah kami.

Rumah?  Ah, terlalu malu bila kuakatakan kalau rumah kami hanyalah gubuk yang gampang dibongkar ini.  Apalagi kami menumpang tinggal di tanah kepunyaan orang besar.  “Bintang dua,” pernah disebut Ayah.  Sejak sawah tempat Ayah biasa bekerja dibeli, digusur, dan dijadikan rumah kos, kami: Ayah, Emak, aku, dan Iki, terpaksa pindah tempat tinggal.  Apes, kata Ayah, soalnya dulu Ayah tidak pernah berpikir membuat surat untuk tanahnya.  Jadinya, tanah tempat kami tinggal dijual murah.

Sekarang Ayah terpaksa bekerja serabutan.  Maksudnya tidak tentu.  Dulu mah masih bisa tani, kata Ayah, sekarang jadi apa aja terima asal bisa makan.  Ayah pernah jadi penjaga kos di daerah Sukawening, tidak jauh dari tempat tinggal kami sekarang.  Tidak lama, cuma hitungan bulanan sudah dipecat gara-gara tempat kosnya kemalingan.  Sekarang cari obyekan lain.  Kalau ada bangunan, jadi kuli.  Kalau tidak, dari pagi hingga sore jadi calo buat angkot coklat. 

Atau pernah kalau lagi ada rezeki beli kupon tebak hasil pertandingan bola.  Biasanya Emak suka ribut sehabis Ayah beli kupon ini.  Aku pernah bertanya kenapa Emak ribut.  Ayah cuma menjawab sambil bersungut-sungut, “Emakmu tidak mau cepat kaya!”

Jangan salah lho!  Meski kerja Ayahku serabutan, aku masih tetap bisa sekolah.  Tapi, biayanya kebanyakan Emak yang mengeluarkan.   Emak seringkali mengingatkan aku soal ini.  Apalagi kalau habis ribut dengan Ayah.  Kalau sudah begini, Emak susah dihentikan.  Biasanya sih lama-lama aku tinggal sendiri saja.  Pernah ketika aku berangkat sekolah dan kemudian ketika aku pulang, Emak masih mengomel panjang.  Entah apa yang dibicarakannya.  Dan entah dengan siapa. 

Tapi untuk urusan cari duit, kuakui memang Emak cukup piawai.  Sering Emak mendekati penjaga kosan di kanan kiri, membantu bersih-bersih, atau terima cucian kalau ada mahasiswa yang meminta.  Kalau duit yang disimpan Emak cukup, Emak lantas membuat keripik lalu dibungkus lantas dijual ke mahasiswa olehku dan Iki. 

Kalau tidak ada rezeki, Emak tidak jadi malas-malasan.  Emak lantas datang ke pengajian saban pagi atau sore hari.  Senangnya kalau sudah pulang, Emak pasti membawa nasi dus yang jarang-jarang dapat aku nikmati.  Tapi, kalau ada kerjaan, Emak tidak datang ke pengajian.

Biaya sekolahku juga dibantu oleh kakak-kakak mahasiswa.  Ada beberapa temanku yang ikut program ‘Kakak Asuh’.  Dari sinilah aku kenal Hermes.  Sebenarnya namanya bukan Hermes, tapi ia ingin dipanggil Hermes olehku.  Alasannya nama Sophia seperti nama tokoh dalam novel yang pertama kali ia baca seumur hidup.  “Memangnya Hermes siapanya Sophia, kak?”, tanyaku saat berkenalan.  Anjingnya, kata kak Hermes.

Tapi Hermes bukanlah kakak asuhku.  Hermes lebih sering terlihat di gerbang kampus dan di jalan-jalan, meskipun di waktu ia, sepertinya, seharusnya kuliah.  Hermes merokok, seperti kebanyakan mahasiswa.  Suka kumpul dengan teman-temannya yang anehnya saling memanggil masing-masing mereka dengan sebutan, ‘Lai’. 

Saat aku sedang berjualan sehabis sekolah, aku bertemu Hermes.  Lantas ia menarikku ke tengah kumpulan teman-temannya sambil berkata lantang, “Inilah korban pemerintah kapitalis!”  Dari sini aku kemudian ditanya-tanya oleh mereka.  Meskipun penampilannya seperti tak terurus, tapi aku senang berada di antara mereka karena aku seperti diperhatikan.  Dari sini pulalah aku akhirnya menjadi akrab dengan mereka.

***

Aku senang menulis.  Apa pun aku tulis.  Padahal waktu aku di kelas satu, aku lama sekali belajar membaca.  Apalagi berhitung.  Aku tidak suka berhitung.  Tapi kalau jualan, aku bisa.  Soalnya kalau aku salah hitung, bisa-bisa aku dihadiahi omelan panjang Emak.

Karena kegemaranku ini, aku gemar menulis di mana-mana.  Buku-buku tulisku hampir habis kutulisi.  Kata-kata mengalir dan lewat saja dalam benakku.  Rasanya gatal kalau tidak segera kutulis.  Dan rasanya kata-kata itu memohon-mohon padaku agar ditulisi di atas kertas.  Tentu aku tidak menolak.  Apalagi kalau ada kata yang baru kukenal dan kutemui dari manapun, reklame, papan nama. Atau dari ucapan orang.

Kutulis ‘M-A-N-D-E’ dalam kertasku.  Kutanya Ayah apa artinya, tapi ia bilang aku salah tulis seharusnya ‘mandi’ bukan ‘mande’.  Aku tak puas.  Lalu kutanya Zel, teman Hermes, dan kudapat artinya, “Ibu, itu bahasa Minang”.  Kebetulan Zel memang orang Minang.  “Berarti kak Zel memanggil ibunya ‘mande’ yah?”  Dia cuma tersenyum.  Dibilangnya aku, “Kamu naif.”  Aku diam saja.  Setelah Zel lewat, segera kutulis, “N-A-I-P”.

Gara-gara tulisanku barusan, Hermes tertawa keras sekali.

“Kenapa kak, kok tertawa?”

Hermes belum berhenti tertawa.

Aku diam saja.  Aku sedang di sebuah rumah kontrakan yang berantakan sekali.  Konon, rumah ini dijadikan tempat mengumpul atau markas teman-teman Hermes.  Makanya di dalam rumah ini dengan mudah ditemukan baju-baju yang ditaruh sembarangan dan ditumpuk-tumpuk bersebelahan dengan buku-buku yang berserakan, rice cooker, kertas warna warni, obat nyamuk bakar untuk mengusir nyamuk yang mulai berkeliaran, selebaran kecil-kecil, dan ada juga pengeras suara dengan merek yang lucu.  Sigap kutulis di atas kertas, “T-O-A”.

“Piah..Piah..”, Hermes baru berhenti rupanya.

Aku diam saja.

“Persis.., persis seperti maksud Gaarder menjadikan gadis ABG sebagai siswi pemula filsafat.”

Aku diam saja.  Hal-hal yang diobrolkannya semakin rumit dan tak kumengerti.

Jimi, teman Hermes, lewat sambil menyela, “Bah! Kau ini..anak tiga eS-De saja diajarin filsafat.”

Aku diam saja.  Diam-diam kutulis, ‘P-I-L-S-A-P-A-T’.

“Coba kulihat apa saja yang sudah kau tulis.”

Aku berikan Hermes buku tulis lusuhku.

“Waahh, sudah banyak juga yang kau tulis.  Dan coba kulihat, banyak kali pun omongan kami kau tulis.  Tak tahu aku apa kau penurut atau pengamat yang baik?!”

Aku diam saja.

“Lihat!  ‘Kapitalis’, ‘modal’, ‘bangsat’, ‘komersil’, ‘rektor’, ‘akuwa’, ‘pakultas’, ‘registrasi’, yang ini lumayan panjang ‘copy jilid skripsi’, sampai yang paling lucu ‘naip’ dan ‘pilsapat’.”

Hermes memandangku.  Entah heran, takjub, kagum, atau ketakutan tampak dari  ungkapan wajahnya.

Aku diam saja.  Jelas aku kebingungan.

“Mau tahu kau barusan apa yang terjadi?”

Aku mengangguk.  Bingung.

“Kau itu sama seperti yang kau tulis, NAIF!  Tapi pake ‘f’ bukan ‘p’.  Lain kali yang benar kau tulis yah!  Bisa dimarahi guru Bahasa-mu nanti.”

“Naip, eh, naif itu apa kak?”, akhirnya aku angkat suara.

Alih-alih menjawab, Hermes malah cekikian lagi.

(Belakangan aku tahu, NAIF itu grup musik terkenal.  Pantas saja aku diketawai habis-habisan malam itu, karena aku dianggap ketinggalan zaman, tidak pernah dengar musik NAIF.  Aku tanya lagi ke Hermes.  Tapi, ia malah menggeleng.  “Yang kumaksud artinya, polos!  Ya, seperti dirimu inilah!”)

Setelah puas tertawa, Hermes bertanya, kali ini lebih serius, “Kelas berapa kau sekarang?”

“Tiga, kak!”

“Rapormu bagus?”

“Belum pernah dapat merah, kak!”

“Baguslah itu! Anak rajin kau, yah?!”

Aku diam saja.

“Bapak kerja?”

“Iya, kak.  Sekarang lagi ngojek, bawa motor Pak Amir yang lagi sakit.”

“Yang kecelakaan kemarin yah?  Kasihan Pak Amir itu.”

Aku mengangguk pelan.

“Sudah makan kau?”

“Eeee…. Belum kak.”

“Ini jatahku habis seminar tadi makan sajalah.  Maaf, sudah agak dingin.”

Aku tidak menolak.  Tapi, sebelum mulai makan, aku tulis di bukuku, ‘S-E-M-I-N-A-R’.  Setelah menulis, kulihat sekilas wajah heran Hermes.  Ungkapannya sama saja seperti habis tertawa tadi.

Belum juga kusentuh makananku, tiba-tiba ia bertanya, “Kalau kuajak kau sewaktu-waktu ikut rame-rame, mau kau?”

Rame-rame ngapain, kak?”

“Ikut demo.”

Aku diam saja.  Kuambil pensilku lagi, lalu kutulis, ‘D-E-M-O’.  Kulihat lagi wajah heran Hermes usai aku menulis.  Kurang, katanya, tambahkan jadi ‘D-E-M-O-N-S-T-R-A-S-I’, sambil mengejanya.  Setelah menulis kata yang lumayan banyak deretan hurufnya itu, barulah terbuka jalan bagiku untuk menikmati nasi ‘seminar’ yang telah dingin ini.

Baru sampai menggumpal nasi untuk disuapkan ke dalam mulutku.  Tiba-tiba Jimi keluar dari dalam kamar dan bertanya sesuatu kepada Hermes.  Seperti yang kudengar, Hermes cuma menjawab, sudah kukembalikan dari kemarin. 

Tapi, mendadak aku teringat lagi kata-kata yang sering diucapkan kawan-kawan Hermes ini.  Susah sekali mengingatnya.  Terlebih memindahkannya ke atas kertas.  Mumpung diingatkan sekali lagi, takkan kubiarkan ia lewat kali ini.  Kusisihkan nasi dinginku, kuambil pensil dan kutulis, ‘K-A-L-R-M-A-R-K-S’.  Seperti nama orang, pikirku.

Lalu dipenuhi kepuasan seakan sehabis kenaikan kelas, aku makan nasi ‘seminar’ yang dingin dengan berhias senyum kemenangan.

***

Hari itu datang juga.  Aku diajak ‘demonstrasi’ di Bandung.  Menumpang bus kampus yang kuning dan berkarat di sana sini, aku jadi primadona sepanjang perjalanan.  Semua mahasiswa yang memenuhi bus itu seolah-olah merelakan waktunya hanya untuk memperhatikanku.  Cukup begini, aku sudah senang.  Apalagi, ketika ‘demonstrasi’-nya dimulai, aku diperbolehkan menulis sepuasku. 

Kak Tiya memberikanku sebatang spidol dan selembar karton ukuran paling besar yang pernah kulihat.  Wah, pikirku, ini pertama kalinya aku menulis dengan spidol.  Kak Tiya seperti tahu kalau di sekolah aku belum diperbolehkan menulis selain dengan pensil.  Lalu, aku diajari banyak kata baru. 

Hermes memintaku menirukan sebuah demi sebuah kata dari karton atau spanduk lain, lantas kutulis berturut-turut, ‘K-O-L-U-S-I’, ‘K-O-R-U-P-S-I’, ‘N-E-P-O-T-I-S-M-E’, ‘M-I-L-I-T-E-R-I-S-A-S-I’, ‘P-R-I-V-A-T-I-S-A-S-I’, ‘C-I-V-I-L-S-O-C-I-E-T-Y’, dan banyak lagi. 

Begitu bangganya aku ketika hasil tulisanku diangkat tinggi-tinggi oleh mahasiswa yang memegang pengeras suara bermerek ‘T-O-A’ itu, kemudian namaku (secara tidak langsung sebenarnya) diteriaki lantang dan bergema ke mana-mana, “LIHAT ANAK KELAS TIGA ESDE SAJA MENGERTI!!!” (Walaupun kakak dengan pengeras suara ini mengatakannya dengan nada sepeti marah kepada seseorang yang tidak pernah kelihatan selama ‘demonstrasi’).

Lebih bahagia lagi seusai ‘demonstrasi’ aku dihadiahi karton yang habis kutulisi tadi dan karton-karton lain yang ditulisi mahasiswa.  Buat belajar di rumah, alasan Hermes.

***

Ingin kubagi pengalamanku ini dengan Ayah dan Emak.  Tapi, ketika aku pulang yang kudapati keduanya bermuka muram.  Aku jadi tidak enak hati bercerita.  Lantas kutanya, kenapa Emak tampak sedih.  Emak tidak menjawab.  Ayah yang menjawab, besok kita pulang ke Kuningan, tempat Abah. 

Aku justru heran, bukankah kalau begitu ini kabar baik yang mestinya tidak disertai dengan wajah muram.  Tapi, aku takut membuat Ayah marah lagi.  Kalau Ayah marah pasti akan selalu keluar, “Kamu masih kecil!  Jig…sare!”

Sepertinya Ayah tidak tahan melihat air kebingungan di mukaku.  Ia menjawab tanpa diminta, “Pak Jendral mau bangun kos-kosan”.  Tentulah yang dimaksud Ayah barusan itu si Bapak ‘Bintang Dua’ yang memiliki tanah.  Memangnya tidak bisa tetap tinggal di sini saja, Yah, aku memberanikan diri bertanya.  Ayah tersenyum kecut, “Tentu tidak, Piah.  Memangnya kamu mau kita di-buldoser?”.

Lagi-lagi dengan sejuta kebingungan aku menggeleng saja, seolah-olah paham dan sepakat dengan pendapat Ayah untuk pulang ke Kuningan.  Lalu aku berbaring di atas kasur kapuk bekas yang dibeli Emak dari mahasiswa yang sedang pindah kos, menatap atap gubuk yang ditopang oleh balok kayu yang saling bersilangan.

Lama kuterlamun.  Kemudian, aku ingat sesuatu!  Segera kuambil lagi buku tulisku yang mulai penuh akan coretan.  Kuambil spidol hadiah Kak Tiya waktu ikut ‘demonstrasi’ tadi.  Kubuka tutupnya, kemudian cairan hitam berbau harum mengalir dari ujung spidol, menuliskan huruf demi huruf membentuk sebaris kata di atas putihnya kertas.

‘D-I-B-U-L-D-O-S-E-R’.

Terpampang besar dan tampak jelas sehalaman di dalam buku tulisku.  Besok pagi-pagi sekali sebelum berangkat, akan kutanya pada Hermes.  Mudah-mudahan kali ini Hermes tidak tertawa keras-keras seperti waktu itu lagi.

***

(hawe: 250103, 01:24, untuk Jatinangor yang selalu kesepian)