Ajax vs Getafe – Apa yang Salah dengan Ajax?

View this post on Instagram

Sorry football fans…⚽️💔 #UEL #ajaget

A post shared by AFC Ajax (@afcajax) on

Sesaat setelah peluit panjang pertandingan berbunyi, akun resmi Ajax Amsterdam mengangkat posting ke media sosial. “Kami tersingkir,” sambil menampilkan skor akhir: 2-1 untuk kemenangan De Godenzonen. Mereka tersingkir dari babak 32 besar Liga Europa karena Getafe unggul agregat 3-2. “Maafkan kami para penggemar sepakbola,” bunyi posting lanjutan.

Sebagai semi-finalis Liga Champions musim lalu, sebenarnya Ajax menjadi salah satu tim unggulan di Liga Europa 2019/20. Bahkan sejatinya banyak orang (termasuk saya) yang menunggu apakah Ajax mampu menyamai pencapaian musim lalu. Mungkin terlalu gila berharap mereka melampauinya, apalagi setelah kepindahan Matthijs de Ligt, Frenkie de Jong, dan Lasse Schone.

Namun, tidak bisa dimungkiri, kehilangan De Ligt dan De Jong sangat terasa pengaruhnya terhadap performa tim. Meski pun Edwin van der Sar dan Marc Overmars sanggup mempertahankan Hakim Ziyech, David Neres, Donny van de Beek, hingga Andre Onana serta mendatangkan calon bintang baru seperti Lisandro Martinez, Edson Alvarez, hingga Razvan Marin; tetap tidak bisa menggantikan keberanian De Ligt dan kreativitas De Jong.

AMSTERDAM, NETHERLANDS – FEBRUARY 27: (L-R) Dakonam Djene of Getafe, Dusan Tadic of Ajax during the UEFA Europa League match between Ajax v Getafe at the Johan Cruijff Arena on February 27, 2020 in Amsterdam Netherlands (Photo by Rico Brouwer/Soccrates/Getty Images)

November lalu, Ajax gagal di fase grup Liga Champions setelah dikalahkan Valencia 1-0. Di kandang sendiri. Padahal bermain di Johan Cruijff ArenA. Padahal jika dibandingkan tim peringkat ketiga grup lain, perolehan poin Ajax adalah yang terbanyak.

Undian Liga Europa mempertemukan mereka dengan Getafe. Tim kuda hitam LaLiga Spanyol yang membangun kekuatan di bawah kepelatihan Jose Bordalas. Klub asal kota Madrid itu tidak boleh diremehkan karena memiliki rekor pertahanan terbaik di kompetisi domestik serta sedang menatap sejarah baru dengan lolos ke Liga Champions musim depan.

Dalam dua pertemuan, Getafe tampil lebih baik. Mereka mencundangi Ajax 2-0 di Colisseum Alfonso Perez lalu mencuri gol cepat saat tandang di Johan Cruijff Arena. Situasi itu menyulitkan Ajax. Meski tuan rumah sukses balik membalas dua gol, tetapi Getafe menciptakan lebih banyak peluang. Tiga kali upaya mereka digagalkan tiang gawang. Ditambah hampir tujuh menit waktu tambahan babak kedua, Ajax tetap tak mampu menambah gol yang dibutuhkan guna menyelamatkan petualangan Eropa mereka.

Apa yang salah? Orang-orang akan dengan mudah menganggap kekalahan Ajax tidak bisa dihindarkan karena mereka melepas banyak pemain bintang. Saya selalu bingung masih ada saja yang menggunakan dalih ini. Melepas pemain bintang dan mendapatkan pemasukan transfer memang merupakan strategi bisnis Ajax — bukan karena terpaksa. Tentunya Van der Sar dan Overmars sudah memiliki strategi: kapan harus menahan pemain dan kapan melepasnya.

Betul, Ajax kehilangan De Ligt yang cepat, nekat, dan kuat saat menghadang serbuan lawan. Komposisi bek yang dimiliki Ajax saat ini tidak ada yang segarang sang mantan kapten. Ajax butuh bek berkarakter seperti ini untuk sukses di Eropa — selain De Ligt, masih ingat Davinson Sanchez yang mengantar mereka ke final Liga Europa 2017?

Kehilangan De Jong mungkin yang paling terasa. Baru sekarang terasa andil besar De Jong dalam keberhasilan Ajax ke semi-final Liga Champions musim lalu. De Jong menjadi fokus permainan tim. Kemampuannya menahan bola, mendistribusikan, dan bergerak vertikal mempermudah Ziyech dan Dusan Tadic berkreasi di area pertahanan lawan. Musim ini, Ziyech lebih sering turun ke belakang dan fans tak tahu ke mana Tadic berada selama 90 menit pertandingan.

Kini, Ajax tinggal mencari gengsi domestik di liga dan piala. Ziyech sudah dipastikan hijrah ke Chelsea musim panas mendatang, sedangkan Van de Beek dikaitkan dengan sejumlah klub tenar Eropa. Ketika Van der Sar dan Overmars mencari pengganti, sebaiknya mereka harus meninjau ulang kebijakan mendatangkan pemain berpengalaman seperti Klaas-Jan Huntelaar atau Ryan Babel. Bukannya memberi tambahan energi saat terjun di Eropa, para pemain itu malah menjadi bintang redup di antara calon bintang muda Ajax yang siap bersinar.

Cerita menerbitkan buku “100+ Fakta Unik Piala Dunia”

Syahdan, pertengahan 2009, muncul sebuah gagasan. Piala Dunia Afrika Selatan di depan mata, masak sebagai jurnalis sepakbola tidak memanfaatkan momentum itu? Lalu, bersama Asep Ginanjar kami menelurkan kumpulan cerita menarik yang pernah terjadi sepanjang sejarah turnamen yang dijuluki “The Greatest Show On Earth” itu.

Masa itu, berbeda seperti sekarang, media sosial masih jarang. Fungsinya lebih sebagai ajang reuni, senda gurau, atau bahkan memperluas pergaulan sosial. Kami sedari awal sadar, fans sepakbola bukan lah kalangan yang gemar membaca. Tapi, sekali lagi, sebagai jurnalis setidaknya mesti punya semacam tanggung jawab sosial untuk menerbitkan karya dalam bentuk buku.

Kenapa harus menulis buku?

Alasan paling mudah adalah dengan menulis buku kamu menunjukkan kalau apa yang kamu tulis adalah sesuatu yang benar-benar kamu kuasai dan sangat penting buatmu. Apalagi di zaman serbadigital yang penuh dengan hiruk-pikuk informasi, menulis buku berarti menulis informasi yang sifatnya minim kebisingan dan bebas gangguan (distraction).

Selain itu, bagi jurnalis menulis buku jelas menciptakan gengsi tersendiri. Seolah kamu “naik kelas” dari sekadar jurnalis menjadi “penulis”.

(Bahkan membuatmu berhak mengklaim status “author” di Goodreads – jaringan sosial khusus katalogisasi buku. Cek profil saya di sini.)

Singkat cerita, naskah awal berupa abstraksi, daftar isi, dan bab pertama kami susun lantas kami kirimkan e-mail penawaran ke tiga penerbit. Alhamdulillah, dua di antaranya membalas. Pilihan jatuh pada penerbit Serambi yang waktu itu digawangi mas Anton Kurnia, yang kemudian bertindak sebagai penyunting buku berjudul “100+ Fakta Unik Piala Dunia“.

Pemilihan judul dengan sadar mendahulukan nominal di awal kalimat sebagai pemikat calon pembaca. Akhir Januari 2010, buku ini resmi diterbitkan bertepatan dengan hari tur trofi Piala Dunia Coca-Cola (yang juga berkenan menjadi sponsor buku — terima kasih pak Arif Mujahidin, semoga sehat selalu).

Penerbitan buku ini membawa kami ke layar televisi dan diskusi bedah buku di kampus almamater, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, sebagai bagian dari kegiatan promosi.
Kami rasa waktu penerbitan benar-benar pas. Mencuri start. Rasanya belum banyak buku tentang sepakbola yang diterbitkan di tanah air saat itu. Lucunya, beberapa waktu setelah penerbitan, muncul buku sejenis yang mengambil judul “101 Fakta Piala Dunia”.

Betul. Anda tidak salah baca. Pembajakan ide bahkan bisa sebrutal itu. Bagi kami, itu justru semacam pujian tersendiri karena ternyata gagasan kami mampu menciptakan gagasan di kepala orang lain.

Sayangnya, sepuluh tahun berlalu, belum ada buku lanjutan yang saya hasilkan. Asep sendiri sudah setidaknya dua kali menelurkan hasil karya susulan. Saya masih saja sibuk tak tentu arah bergulat mewujudkan apa-apa yang niskala menjadi niscaya.

Simak juga dan ikuti kicauan Asep Ginanjar di akun Twitternya!