Sinema Indonesia Mesti Angkat Topi Buat “Turah”

Resensi film “Turah” (2016), perwakilan Indonesia ke ajang Academy Award 2018, yang sarat makna sosial.

Kampung Tirang adalah tanah terkutuk. Tanah jahanam. Tanah tak bertuan. Konon dimiliki oleh Juragan Darso. Meski tak jelas juga asal usul kepemilikannya. Jadag bilang, itu tanah timbul sehingga mestinya adalah tanah pemerintah. Tapi, pemerintah pun menghiraukan. Petugas sensus datang menjelang musim pilkada, tetapi listrik dan air bersih yang dijanjikan tak kunjung tiba.

Meski Kampung Tirang adalah tanah terkutuk yang dihiraukan semua orang, Turah memerhatikannya seperti anak sendiri. Anak tetangga yang baru meninggal pernah dibuatkannya layang-layang sampai ayah kandungnya sendiri merasa jengkel. Dia juga merasa iba kepada seorang gadis kecil yang terpaksa menjaga sendirian neneknya yang sakit-sakitan.

Turah bekerja di pelelangan ikan. Mendadak, oleh Juragan Darso dia diminta menjaga tambak sekalian mengawasi kampung. Tugasnya, memerhatikan segala kebutuhan warga dan melaporkan apa-apa yang diperlukan kepada Juragan Darso. “Kalau ada yang sedikit mengeluh, kamu hadapi saja. Langsung. Tapi kalau masalahnya besar, bicara dengan saya,” bilang sang juragan kepadanya.

Karakter utama Turah (kiri), seturut judul film, dan Jadag, yang sangat mencuri perhatian

“Turah” adalah film keluaran 2017 sekaligus menjadi film feature panjang pertama bagi sutradara Wicaksono Wisnu Legowo. Dalam wawancara dengan Metrotvnews, 24 September 2017, Wisnu mengaku sudah lama memendam ide membesut film ini. Termasuk mengambil setting tempat di Kampung Tirang, sebuah perkampungan sungguhan di atas tanah timbul dekat Pelabuhan Tegalsari, Kota Tegal. Selain itu, dialog “Turah” hampir seluruhnya menggunakan bahasa Jawa dialek lokal.

Mayoritas aktor film adalah para pemain Teater RSPD, yang didirikan oleh Yono Daryono — ikut bermain sebagai Juragan Darso dalam film sekaligus ayah kandung Wisnu. Turah diperankan oleh Ubaidillah, sedangkan karakter Jadag yang sangat mencuri perhatian, dimainkan dengan apik oleh Slamet Ambari, aktor teater kawakan yang tutup usia 2019 lalu.

Meski wajah para pemeran asing bagi pemirsa film Indonesia, tapi kualitas akting mereka tidak kalah — malah kalau boleh jujur, otentik dan nyata.

“Turah” diputuskan menjadi film perwakilan Indonesia untuk bertarung di nominasi film berbahasa asing di ajang Academy Award atau Oscar 2018. Kendati statusnya mentereng, tapi film berdurasi 83 menit ini tidak terlalu laku dipasaran. Hanya beredar dua minggu di layar bioskop tanah air dan dipirsa oleh kurang lebih 5.000 orang.

Beruntung lah orang seperti saya yang ketinggalan menyaksikannya di layar lebar, karena film “Turah” dapat disaksikan melalui saluran streaming berlangganan, GoPlay.

(Gambar hasil screenshot, hanya untuk ilustrasi yang mendukung isi resensi serta tidak bertujuan menduplikasi atau melanggar hak cipta film)

Meski baru menyaksikannya sekarang, nyaris tiga tahun setelah beredar, namun “Turah” tetap relevan. Ia begitu dekat, tapi pada saat yang bersamaan, begitu jauh. Lihat foto di atas yang muncul di pengujung film. Betapa pesan kampanye di spanduk yang dipampangkan di latar belakang, bertolak belakang dengan kondisi karakter Jadag, yang SELALU bertelanjang dada sepanjang durasi film.

Sebuah jukstaposisi yang mengagumkan. Ia begitu dekat, tapi pada saat yang bersamaan, begitu jauh. Seperti lokasi Kampung Tirang sendiri yang dekat dengan peradaban modern, tetapi juga terpinggirkan. Seperti pulau yang terisolasi di dalam dunianya sendiri. Orang yang datang ke sana harus menyeberang dengan menggunakan getek. Saat malam tiba, listrik hanya dapat dinyalakan dengan mesin diesel.

Saban beberapa hari, Juragan Darso datang ke kampung mengecek apa saja yang bisa dibantunya. Karakter itu seperti pemilik modal tanpa keterikatan tanggung jawab terhadap orang-orang yang dibantu. Tangan tak terlihat yang menguasai sendi kehidupan warga kampung. Misalnya, kambing yang ada di kandang warga bernama Kandar bukan lah kambing miliknya. Tapi, kambing yang dititipkan Juragan Darso. Jika masuk musim Lebaran Haji, kambing itu dijual Juragan Darso dan Kandar menerima upah pemeliharaan tanpa mengetahui harga jualnya.

Karakter Jadag hadir sebagai pemantik kesadaran. Dia memancing nalar warga kampung kalau mereka tak bisa lepas dari ketergantungan terhadap Juragan Darso. Tapi, tak ada yang mendengarnya. Jadag tak punya integritas. Pemabuk, penjudi, dan kerap mengabaikan anak serta istri yang sedang mengandung.

Turah melawan paradoks, tapi memilih berkompromi. Tidak seperti Jadag.

Satu-satunya karakter yang memiliki integritas cukup dalam mengubah narasi adalah Turah. Namun, sang karakter utama menghadapi konflik sendiri. Di usianya yang sudah setengah abad, Turah tidak punya anak kandung. Istrinya, Kanti, menolak punya keturunan karena merasa akan membebani sang anak dengan kehidupan orangtuanya yang serbakekurangan.

Apalah artinya masa depan jika tidak ada harapan untuk membina masa depan itu sendiri? Turah melawan paradoks, tapi memilih berkompromi dengan masa kini. Termasuk hubungannya dengan Juragan Darso dan Jadag.

Mungkin tak pernah disiratkan secara gamblang, baik di dalam narasi film maupun dalam wawancara sutradara kepada media, bahwa “Turah” membisikkan pesan tentang kemiskinan adalah problem struktural. Taraf kemakmuran masyarakat tidak serta-merta terwujud hanya dengan giat bekerja bertahun-tahun lamanya, tetapi juga memerlukan banyak penunjang, mulai dari akses dan pendidikan.

Sebagai pemantik kesadaran, Jadag berkali-kali tidak menyembunyikan kecemburuannya kepada Pakel, yang baru bekerja tiga tahun untuk Juragan Darso tapi sudah dipercaya sebagai tangan kanan. Bandingkan dengan dirinya yang sudah belasan tahun membanting tulang, keluh Jadag kepada Turah. Pakel menjadi karakter oportunis yang memanfaatkan akses dan privelege pendidikan yang dimilikinya untuk kepentingan ekonomi diri sendiri. Sangat familiar, bukan.

Pada akhirnya, sedikit spoiler, karakter Jadag disingkirkan. Entah siapa yang menyingkirkan. Hanya Turah yang memergoki pelakunya. Tapi, berlawanan dengan kehendak penonton yang menginginkan datangnya keadilan, kesadaran Turah muncul. Tidak akan pernah ada keadilan di tanah terkutuk. Di tengah hujan lebat, dia mengajak istrinya untuk segera angkat kaki.

Tak sampai di situ. Wisnu sengaja memilih penutup yang mengejutkan. Mendadak kamera tergelincir saat merekam langkah kaki anak Jadag, seperti merubuhkan “tembok keempat”. Artinya, sebagai penonton, kita “turut hadir” sepanjang film! Ia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh.

Sangat pantas “Turah” pernah menjadi film pewakilan Indonesia untuk Oscar 2018. Akting para pemain dengan monolog yang natural dan penyutradaraan dengan long take menawan seharusnya menjadi bahan refleksi bagi sinema mainstream Indonesia yang masih menjual paras pemain dan setting cerita yang gemerlapan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s