Review Semi-Final Euro 2020: False Nine Bikin Spanyol Dominan, Tapi Italia Unggul Mentalitas

Strategi Luis Enrique menerapkan false nine menghambat permainan Italia di semi-final Euro 2020, sayangnya Spanyol gagal membongkar pragmatisme Roberto Mancini.

Ringkasan Pertandingan

Spanyol terpaksa menyerah lewat adu penalti kala menghadapi Italia pada pertandingan semi-final Euro 2020, Selasa malam atau Rabu (7/7) dini hari WIB. Pertandingan berjalan imbang 1-1 sepanjang 120 menit. Gol Federico Chiesa pada menit ke-60 mampu dibalas rekan setimnya di Juventus, Alvaro Morata, 20 menit berselang. Sebenarnya saat adu penalti Spanyol sempat di atas angin setelah Unai Simon menangkis eksekusi Manuel Locatelli. Namun, kegagalan Dani Olmo dan Morata membalikkan keadaan. Jorginho pun dengan dingin menyelesaikan penalti penentu guna membawa Italia ke babak puncak.

False Nine Hambat “Tikitalia”

Tulisan ini hendak menyoroti pilihan taktik yang dilakukan pelatih Spanyol, Luis Enrique. Berbeda dari lima pertandingan yang sudah dijalani, kali ini Enrique memilih menerapkan taktik false nine atau “striker palsu” yang tugas utamanya bukan lah mencetak gol, melainkan untuk membuka permainan. Taktik itu sengaja dipakai guna meredam permainan Italia.

Saat turnamen dimulai, Italia menampilkan permainan memikat yang dijuluki “Tikitalia”. Berbeda dari stereotipe mereka yang bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik, Italia di bawah Roberto Mancini mengubah wajah menjadi lebih proaktif dan agresif. Kombinasi operan tim bertumpu pada sektor kiri. Sayangnya, Italia kehilangan bek kiri andalan Leonardo Spinazzola yang mengalami putus urat tendon Achilles pada laga perempat-final melawan Belgia.

Menariknya, Italia bertemu dengan Spanyol, yang dianggap sebagai asal usul permainan “tiki-taka” atau operan-operan pendek antarpemain. Pertandingan seperti membuktikan siapa yang lebih fasih dalam menerapkan taktik tersebut. Mengecualikan babak adu penalti, Enrique mampu mengungguli Roberto Mancini secara taktik.

“Mereka punya gaya main tersendiri, diciptakan oleh mereka, itu telah membawa mereka meraih berbagai kesuksesan dan mereka terus memainkan gaya yang sama. Tapi pendekatan kami berbeda. Kami adalah Italia dan kami tidak dapat menjadi Spanyol. Kami mencoba memainkan sepakbola kami sendiri.”

Roberto Mancini, usai pertandingan.

Pilihan Starter Enrique

Enrique menampilkan Mikel Oyarzabal sebagai starter menggantikan tempat Alvaro Morata. Pemain Real Sociedad itu diapit Dani Olmo dan Ferran Torres. Pada praktiknya, ketiga pemain terdepan Spanyol itu tidak bergerak statis. Mereka terus berupaya mencari half space di antara empat bek Italia. Peluang yang didapat Oyarzabal pada menit keempat membuktikan penerapan taktik ini, sayang sentuhan pertamanya tidak sempurna.

Enrique mengandalkan kecepatan tiga pemain depannya dalam mengoper bola dan mengambil posisi untuk membongkar kekompakan duet Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci. Taktik false nine ini membuat Olmo beberapa kali turun ke lini kedua – entah itu untuk membantu pressing tim ataupun untuk menerima operan.

Perang Lini Tengah

Lini tengah dan belakang Spanyol turut menopang dengan melancarkan pressing tinggi sehingga duet gelandang Italia, Jorginho dan Marco Verratti, tak berkutik. Ketika Italia membangun serangan dari bawah, para pemain Spanyol memblokir jalur operan menuju dua gelandang pengatur serangan itu. Imbasnya, Italia banyak melakukan umpan by-pass ke depan.

Sasaran utamanya adalah Lorenzo Insigne atau Ciro Immobile. Namun, dua pemain depan itu tidak cakap dalam mengambil posisi dan tidak mampu menjaga penguasaan bola. Federico Chiesa praktis menjadi kartu mati sehingga Mancini tampak hendak menggantikannya dengan Domenico Berardi saat pertandingan baru berjalan setengah jam. Praktis Italia sama sekali tidak mampu mengancam gawang Unai Simon sepanjang babak pertama.

Italia sebenarnya menerapkan taktik pressing yang sama seperti Spanyol. Para pemain depan mereka sering mengganggu upaya build up play yang dilakukan Unai Simon. Namun, para pemain Spanyol lebih cerdik menemukan ruang. Apalagi Sergio Busquets dan Pedri seperti sangat terlatih tampil di bawah pressing lawan. Beberapa kali pula pemain Spanyol mampu menemukan celah berkat kemauan trio penyerangnya turun ke bawah.

Pemain Italia tampaknya tidak memiliki skill set yang memadai untuk keluar dari situasi serupa.

Peta operan Italia pada babak pertama

Konversi Peluang

Rencana awal Enrique berjalan lancar. Masalahnya, Spanyol tidak mampu mengonversi peluang yang didapat. Kalau saja sentuhan pertama Oyarzabal sempurna, mungkin mereka sudah unggul dua gol sebelum turun minum. Akibatnya, fatal. Italia mencuri keunggulan pada menit ke-60.

Dari sebuah serangan cepat menyusul tendangan penjuru yang gagal, para pemain Spanyol gugup membuang bola. Chiesa, yang masih dipertahankan di atas lapangan oleh Mancini, menguasai bola sebelum melepaskan tembakan terukur ke pojok gawang Unai Simon.

Spanyol tersentak.

Pergantian Pemain Enrique

Enrique lantas menganulir taktik false nine dan mengembalikan striker murni ke lapangan. Morata masuk sesaat setelah terjadinya gol untuk menggantikan Ferran Torres. Belum cukup menggoyahkan pertahanan Italia, Gerard Moreno dikirim pada menit ke-74. Formasi menjadi 4-3-1-2 dengan Olmo bertindak sebagai penghubung antarlini.

Menit 80, perubahan itu mendatangkan hasil. Morata melakukan pertukaran operan dengan Olmo. Bonucci lengah melakukan pengawalan karena tidak menyangka Morata terus berlari menyambut laju operan. Dengan ruang tembak yang begitu bebas, Morata memperdaya Gigi Donnarumma untuk mencetak golnya yang ketiga sepanjang turnamen.

“Kami pulang dengan kesadaran kami mampu bersaing dan menjadi salah satu tim terbaik di kompetisi ini. Berbulan-bulan lalu sudah kami katakan seperti apa rencana bermain kami di Euro dan para pemain mewujudkannya. Saya tak punya keluhan. Kami membuktikan diri tampil baik sebagai tim dan kami akan terus melanjutkannya.”

Luis Enrique, usai pertandingan.
Dani Olmo mencuri perhatian

Perang Mental

Mancini terlihat terlambat melakukan pergantian pemain (ketika skor masih 0-0) dan terlalu cepat mengganti pemain (ketika sudah unggul 1-0). Pergantian pertama dilakukan dengan menarik Immobile untuk digantikan dengan Berardi. Kemudian, Emerson dan Verratti digantikan Rafael Toloi dan Matteo Pessina.

Pergantian itu tidak dilakukan Mancini untuk mengubah pendekatan strategi. Malah seperti sudah puas dengan keunggulan satu gol serta mempertahankannya dengan memanfaatkan rasa frustrasi pemain Spanyol. Italia tetap memainkan bola-bola panjang. Berardi, atau belakangan Andrea Belotti yang dimasukkan, tak ubahnya upaya putus asa Mancini untuk mengais ruang di depan atau di belakang para bek Spanyol.

Pendekatan pasif ini setidaknya mencegah Italia kebobolan lagi. Mereka juga membutuhkan kaki-kaki segar untuk menandingi para pemain Spanyol yang terus melakukan pressing. Pada akhirnya, pertandingan berubah menjadi perang mental. Chiellini dengan santai mengajak Jordi Alba bergurau saat undian koin adu penalti. Italia akhirnya melaju ke final menunggu pemenang pertandingan Inggris versus Denmark.

Penutup

Dalam situasi krusial seperti pertandingan babak gugur, Mancini lebih memilih langkah pragmatis ketimbang memegang teguh filosofi awal. Bukan pendekatan yang salah. Namun, ini membuat “Tikitalia” masih sebatas wacana yang seksi dipasarkan dan diberitakan — belum menjadi revolusi sepakbola Italia secara luas.

Kemenangan Italia adalah keunggulan karakter, keunggulan pragmatis, tapi bukan keunggulan taktik. Italia menjadi Italia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s