Paris Saint-Germain celebrates Hari Kartini with a special artwork made by a female artist

Commemorating Hari Kartini (national women’s empowerment day in Indonesia, celebrated every 21 April), PSG – Paris Saint-Germain Indonesia’s Twitter account posts a special artwork made by Sekar Bestari — a young and aspiring female artist based in Yogyakarta.

The artwork depicting Nadia Nadim, a PSG Féminine player, who inspire football with her story from childhood in Afghanistan until now becomes a Danish football team star player. She wears “kebaya” contains “kutu baru” top and “kain batik” bottom. Sekar interprets wearing “kebaya” as a symbol of women’s strength in all disadvantages they might face.

Nadia holds a ball that symbolizes a dream, in her case is football. The Lotus flower is a symbol of wisdom and education. The spark of light in the background represents the famous line from Kartini’s letter, “Habis Gelap Terbitlah Terang” (“Through Darkness to Light”). They are the spirit that Kartini carries to this day.

Nadia with PSG Féminine faces the Women’s Champions League semi-final against Barcelona this weekend. They are on their way to win the tournament for the first time in history.

Unfortunately, women’s football in Indonesia has been on a hiatus for more than a year.

Check the post here

Rp200 Juta Sehari! – Kehilangan Pemasukan Klub Indonesia Tanpa Kompetisi

DISCLAIMER: Tulisan ini tidak berupaya mempertentangkan aspek mana yang lebih penting antara kesehatan atau ekonomi.

Entah siapa yang tahu kompetisi sepakbola Indonesia kapan dimulai lagi. Sejak dihentikan akibat pandemi Covid-19, Maret 2020, masyarakat Indonesia belum dapat kembali menyaksikan pertandingan sepakbola domestik. Tidak bisa dibantah, kesehatan adalah hal paling utama. Namun, ada banyak orang yang menyandarkan hidup pada sepakbola, terutama para pemain dan keluarga yang harus mereka nafkahi.

Saya mendengar banyak cerita pemain yang kebingungan karena pemasukan utamanya lenyap. Klub-klub mulai angkat tangan. Madura United, Persebaya Surabaya, dan terbaru Persipura Jayapura membubarkan tim karena tak lagi sanggup menanggung beban gaji pemain. Inilah wajah sepakbola Indonesia, yang gegap gempita dipuja para fans setia di stadion maupun media sosial, tapi fondasinya rapuh bak istana pasir.

Mayoritas klub tidak memiliki perencanaan jangka panjang, apalagi menyediakan jaring pengaman guna menghadapi situasi force majeur semacam pandemi ini. PSSI, selaku otoritas sepakbola tertinggi tanah air, hingga tulisan ini dibuat tidak bisa memberikan jaminan kapan liga berputar kembali. Izin penyelenggaraan tergantung izin keamanan yang diberikan Kepolisian RI.

Gegap gempita, tapi fondasi sepakbola Indonesia rapuh bak istana pasir

Lalu, tanpa kompetisi yang bergulir, berapa besar kerugian yang harus ditanggung sebuah klub?

Tidak mudah menyusun perhitungan ini karena hampir tidak ada klub Indonesia yang membuka laporan keuangan secara publik. Satu-satunya yang dapat dijadikan acuan adalah Bali United, klub Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang terjun ke lantai bursa sejak pertengahan Juni 2019.

Berdasarkan laporan keuangan terakhir yang terdaftar di IDX (Bursa Efek Indonesia) per 30 Juni 2019, Bali United memperoleh pemasukan dengan perincian sebagai berikut:

  • Komersil: Rp3.804.102.291
  • Kontribusi: Rp3.050.800.000
  • Pertandingan – bersih: Rp1.669.423.392
  • Sponsorship: Rp41.848.901
  • Live video streaming dan rekaman video: Rp12.587.789.976
  • Lain-lain: Rp9.685.485.023
  • Total: Rp72.646.502.348

Pendapatan komersil adalah pemasukan yang diperoleh klub melalui eksploitasi logo dan foto pemain Bali United melalui perjanjian sponsor dan perjanjian komersial lainnya. Termasuk pula penjualan merchandise klub dan pendapatan tur.

Lalu, pendapatan kontribusi merupakan pembagian pendapatan dari aktivitas komersial kompetisi, termasuk sponsorship dan hak siar, berdasarkan keikutsertaan yang dinegosiasikan secara terpusat oleh PT Liga Indonesia Baru, AFC, dan operator kompetisi domestik lain.

Tidak ada kompetisi mungkin tidak menghilangkan seluruh sektor pemasukan tersebut, tapi tetap saja sebagian besar pendapatan tidak mengalir ke kas klub. Berdasarkan angka total pendapatan di atas, perkiraan hilangnya pemasukan klub adalah Rp6 milyar sebulan. Atau, kira-kira Rp200 juta sehari.

Di luar biaya overhead, klub hilang pemasukan Rp6 milyar sebulan atau Rp200 juta sehari!

Sementara, pengeluaran klub berjuluk Laskar Semeton itu adalah sebesar Rp62.188.301.283. Sejumlah aspek pengeluaran adalah seperti gaji, bonus, medical dan tunjangan, hingga perjalanan dinas, sewa aset dan peralatan, atau pajak PPh 21.

Dengan mengecualikan sejumlah sektor pengeluaran yang bisa dipangkas karena pandemi, seperti biaya promosi dan iklan, perjalanan dinas, serta keamanan; kita tinggal menghitung biaya overhead klub antara lain untuk gaji pemain dan pegawai.

Untuk pos itu saja, Bali merogoh kocek hingga Rp17,1 milyar. Biaya tersebut masih ditambah dengan kebutuhan operasional kantor; telepon, fax, internet; listrik, air, gas; serta perbaikan atau perawatan aset. Kita asumsikan total pengeluaran menjadi Rp20 milyar atau Rp1,6 milyar sebulan.

Artinya, dengan semua asumsi di atas, Bali United harus menanggung kerugian sebesar Rp6 milyar per bulan selama kompetisi tidak diselenggarakan. Mesti dicatat pula, klub harus mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp1,6 milyar sebulan.

Jumlah di atas tentu tergantung dari anggaran masing-masing klub. November lalu, klub peserta Liga 2 seperti Muba Babel United dan Sriwijaya FC menyatakan jumlah kerugian yang mereka alami karena penundaan kompetisi berkisar antara Rp5-6 milyar. Jumlah itu baru mencakup biaya perekrutan pemain di awal musim, akomodasi, serta dana down payment kontrak pemain. Belum termasuk biaya operasional sehari-hari.

Mudah-mudahan segera ada solusi positif bagi mereka yang menyandarkan hidup pada sepakbola domestik.

Tantangan & Kesempatan Kenormalan Baru Sepakbola Indonesia

Ini skenario ideal sepakbola Indonesia menyambut awal dasawarsa baru 2020-an dengan asumsi super-ideal, yakni penerapan dan pemberlakuan kenormalan baru yang konsisten.

Paradoks sepakbola dan politik

Pandemi membuktikan sebuah paradoks. Sepakbola Indonesia masih menjadi alat politik yang diandalkan, tapi ironisnya kebijakan politik tidak bisa menjadi fundamental yang kokoh bagi pengembangan sepakbola. Namun, sepakbola dan politik tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hal yang perlu dilakukan adalah pemisahan kepentingan antara kedua unsur tersebut.

Pentingnya “good governance”

Dari poin di atas, pandemi bisa memberikan kesempatan bagi sepakbola Indonesia untuk berpikir ulang tentang pentingnya melakukan “good governance”. Mulai dari level teratas seperti federasi hingga terbawah seperti grassroots.

Harmoni klub dan otoritas

Dari poin pertama, government relations atau juga relasi dengan otoritas (seperti misalnya Kepolisian RI selaku pemberi izin keamanan) masih sangat vital di luar pentingnya pemasukan kas klub melalui tiket pertandingan dan hak siar. Bagaimana caranya menciptakan jembatan harapan antara klub dan otoritas?

Kembali ke bakat lokal

Pandemi juga memaksa pembatasan perjalanan dari satu negara ke negara lain. Transfer internasional bukan hal yang mustahil, tapi sang pemain harus melengkapi sejumlah persyaratan seperti menjalani tes usap serta karantina sebelum dapat bergabung ke sebuah klub baru. Keterbatasan ini menciptakan peluang bagi pasar transfer liga Indonesia untuk memunculkan lebih banyak pemain berbakat lokal di dalam kompetisi.

Format kompetisi

Pembatasan perjalanan juga dapat mengembalikan format kompetisi tier tertinggi menjadi ke dua atau banyak wilayah. Banyak kota antarpulau mesti dijangkau dengan transportasi udara, yang lagi-lagi menerapkan pula sejumlah persyaratan perjalanan. Penerapan format kompetisi regional ini dapat memberikan peluang untuk mengokohkan kompetisi divisi bawah sebagai fundamental sepakbola nasional.

“Coaching courses”

Periode tanpa sepakbola mendorong sejumlah para pemain yang masih aktif untuk mengambil kursus kepelatihan. Ini semacam berkah tersembunyi karena Indonesia masih kekurangan pelatih sepakbola. Mudah-mudahan makin banyak coaching courses yang diselenggarakan semasa penerapan kenormalan baru.

Berpikir ulang tentang stadion

Ini aspek penting bagi pemasukan klub. Kenormalan baru dapat menjadi momentum untuk menciptakan stadion sebagai tempat yang ramah bagi para penonton untuk menikmati pertandingan dengan aman dan nyaman. Pendeknya, diperlukan perencanaan mitigasi yang baik supaya ke depannya tidak perlu ada korban jiwa yang jatuh di dalam maupun sekitar stadion.

Alokasi anggaran Piala Dunia U-20 2021

Malam Natal lalu, FIFA mengumumkan pembatalan penyelenggaraan Piala Dunia U-20 2021. Meski demikian, FIFA tetap memberikan kesempatan bagi Indonesia menjadi tuan rumah turnamen dua tahun berikutnya. Anggaran Pemerintah, yang memang menjadikan Piala Dunia U-20 sebagai program mercusuar, telah terlanjur disetujui dan digunakan untuk persiapan tim. Seiring pembatalan, sisa anggaran akan kembali ke kas negara. Mungkin kah dana tersebut dapat dialokasikan lagi ke sejumlah sektor pembangunan olahraga seperti pembinaan atlet usia dini, coaching courses, atau mitigasi stadion? Tidak cuma untuk sepakbola, tapi olahraga tanah air secara keseluruhan. Rasanya itu lebih penting daripada mengucurkan seluruhnya untuk menyelenggarakan turnamen internasional salah satu cabang olahraga belaka. Mari menunggu kebijakan Pemerintah untuk hal ini.

Sinema Indonesia Mesti Angkat Topi Buat “Turah”

Resensi film “Turah” (2016), perwakilan Indonesia ke ajang Academy Award 2018, yang sarat makna sosial.

Kampung Tirang adalah tanah terkutuk. Tanah jahanam. Tanah tak bertuan. Konon dimiliki oleh Juragan Darso. Meski tak jelas juga asal usul kepemilikannya. Jadag bilang, itu tanah timbul sehingga mestinya adalah tanah pemerintah. Tapi, pemerintah pun menghiraukan. Petugas sensus datang menjelang musim pilkada, tetapi listrik dan air bersih yang dijanjikan tak kunjung tiba.

Meski Kampung Tirang adalah tanah terkutuk yang dihiraukan semua orang, Turah memerhatikannya seperti anak sendiri. Anak tetangga yang baru meninggal pernah dibuatkannya layang-layang sampai ayah kandungnya sendiri merasa jengkel. Dia juga merasa iba kepada seorang gadis kecil yang terpaksa menjaga sendirian neneknya yang sakit-sakitan.

Turah bekerja di pelelangan ikan. Mendadak, oleh Juragan Darso dia diminta menjaga tambak sekalian mengawasi kampung. Tugasnya, memerhatikan segala kebutuhan warga dan melaporkan apa-apa yang diperlukan kepada Juragan Darso. “Kalau ada yang sedikit mengeluh, kamu hadapi saja. Langsung. Tapi kalau masalahnya besar, bicara dengan saya,” bilang sang juragan kepadanya.

Karakter utama Turah (kiri), seturut judul film, dan Jadag, yang sangat mencuri perhatian

“Turah” adalah film keluaran 2017 sekaligus menjadi film feature panjang pertama bagi sutradara Wicaksono Wisnu Legowo. Dalam wawancara dengan Metrotvnews, 24 September 2017, Wisnu mengaku sudah lama memendam ide membesut film ini. Termasuk mengambil setting tempat di Kampung Tirang, sebuah perkampungan sungguhan di atas tanah timbul dekat Pelabuhan Tegalsari, Kota Tegal. Selain itu, dialog “Turah” hampir seluruhnya menggunakan bahasa Jawa dialek lokal.

Mayoritas aktor film adalah para pemain Teater RSPD, yang didirikan oleh Yono Daryono — ikut bermain sebagai Juragan Darso dalam film sekaligus ayah kandung Wisnu. Turah diperankan oleh Ubaidillah, sedangkan karakter Jadag yang sangat mencuri perhatian, dimainkan dengan apik oleh Slamet Ambari, aktor teater kawakan yang tutup usia 2019 lalu.

Meski wajah para pemeran asing bagi pemirsa film Indonesia, tapi kualitas akting mereka tidak kalah — malah kalau boleh jujur, otentik dan nyata.

“Turah” diputuskan menjadi film perwakilan Indonesia untuk bertarung di nominasi film berbahasa asing di ajang Academy Award atau Oscar 2018. Kendati statusnya mentereng, tapi film berdurasi 83 menit ini tidak terlalu laku dipasaran. Hanya beredar dua minggu di layar bioskop tanah air dan dipirsa oleh kurang lebih 5.000 orang.

Beruntung lah orang seperti saya yang ketinggalan menyaksikannya di layar lebar, karena film “Turah” dapat disaksikan melalui saluran streaming berlangganan, GoPlay.

(Gambar hasil screenshot, hanya untuk ilustrasi yang mendukung isi resensi serta tidak bertujuan menduplikasi atau melanggar hak cipta film)

Meski baru menyaksikannya sekarang, nyaris tiga tahun setelah beredar, namun “Turah” tetap relevan. Ia begitu dekat, tapi pada saat yang bersamaan, begitu jauh. Lihat foto di atas yang muncul di pengujung film. Betapa pesan kampanye di spanduk yang dipampangkan di latar belakang, bertolak belakang dengan kondisi karakter Jadag, yang SELALU bertelanjang dada sepanjang durasi film.

Sebuah jukstaposisi yang mengagumkan. Ia begitu dekat, tapi pada saat yang bersamaan, begitu jauh. Seperti lokasi Kampung Tirang sendiri yang dekat dengan peradaban modern, tetapi juga terpinggirkan. Seperti pulau yang terisolasi di dalam dunianya sendiri. Orang yang datang ke sana harus menyeberang dengan menggunakan getek. Saat malam tiba, listrik hanya dapat dinyalakan dengan mesin diesel.

Saban beberapa hari, Juragan Darso datang ke kampung mengecek apa saja yang bisa dibantunya. Karakter itu seperti pemilik modal tanpa keterikatan tanggung jawab terhadap orang-orang yang dibantu. Tangan tak terlihat yang menguasai sendi kehidupan warga kampung. Misalnya, kambing yang ada di kandang warga bernama Kandar bukan lah kambing miliknya. Tapi, kambing yang dititipkan Juragan Darso. Jika masuk musim Lebaran Haji, kambing itu dijual Juragan Darso dan Kandar menerima upah pemeliharaan tanpa mengetahui harga jualnya.

Karakter Jadag hadir sebagai pemantik kesadaran. Dia memancing nalar warga kampung kalau mereka tak bisa lepas dari ketergantungan terhadap Juragan Darso. Tapi, tak ada yang mendengarnya. Jadag tak punya integritas. Pemabuk, penjudi, dan kerap mengabaikan anak serta istri yang sedang mengandung.

Turah melawan paradoks, tapi memilih berkompromi. Tidak seperti Jadag.

Satu-satunya karakter yang memiliki integritas cukup dalam mengubah narasi adalah Turah. Namun, sang karakter utama menghadapi konflik sendiri. Di usianya yang sudah setengah abad, Turah tidak punya anak kandung. Istrinya, Kanti, menolak punya keturunan karena merasa akan membebani sang anak dengan kehidupan orangtuanya yang serbakekurangan.

Apalah artinya masa depan jika tidak ada harapan untuk membina masa depan itu sendiri? Turah melawan paradoks, tapi memilih berkompromi dengan masa kini. Termasuk hubungannya dengan Juragan Darso dan Jadag.

Mungkin tak pernah disiratkan secara gamblang, baik di dalam narasi film maupun dalam wawancara sutradara kepada media, bahwa “Turah” membisikkan pesan tentang kemiskinan adalah problem struktural. Taraf kemakmuran masyarakat tidak serta-merta terwujud hanya dengan giat bekerja bertahun-tahun lamanya, tetapi juga memerlukan banyak penunjang, mulai dari akses dan pendidikan.

Sebagai pemantik kesadaran, Jadag berkali-kali tidak menyembunyikan kecemburuannya kepada Pakel, yang baru bekerja tiga tahun untuk Juragan Darso tapi sudah dipercaya sebagai tangan kanan. Bandingkan dengan dirinya yang sudah belasan tahun membanting tulang, keluh Jadag kepada Turah. Pakel menjadi karakter oportunis yang memanfaatkan akses dan privelege pendidikan yang dimilikinya untuk kepentingan ekonomi diri sendiri. Sangat familiar, bukan.

Pada akhirnya, sedikit spoiler, karakter Jadag disingkirkan. Entah siapa yang menyingkirkan. Hanya Turah yang memergoki pelakunya. Tapi, berlawanan dengan kehendak penonton yang menginginkan datangnya keadilan, kesadaran Turah muncul. Tidak akan pernah ada keadilan di tanah terkutuk. Di tengah hujan lebat, dia mengajak istrinya untuk segera angkat kaki.

Tak sampai di situ. Wisnu sengaja memilih penutup yang mengejutkan. Mendadak kamera tergelincir saat merekam langkah kaki anak Jadag, seperti merubuhkan “tembok keempat”. Artinya, sebagai penonton, kita “turut hadir” sepanjang film! Ia begitu dekat, tetapi juga begitu jauh.

Sangat pantas “Turah” pernah menjadi film pewakilan Indonesia untuk Oscar 2018. Akting para pemain dengan monolog yang natural dan penyutradaraan dengan long take menawan seharusnya menjadi bahan refleksi bagi sinema mainstream Indonesia yang masih menjual paras pemain dan setting cerita yang gemerlapan.

Nubuat Berikutnya Jurgen Klopp: Bangun Dinasti Liverpool!

Embed from Getty Images

Liverpool juara dari rumah. Penantian panjang 30 tahun untuk merebut gelar juara liga akhirnya berakhir Kamis (25/6) malam setelah “bantuan” kemenangan 2-1 Chelsea atas pesaing terdekat mereka, Manchester City. Hasil itu sudah ditunggu-tunggu skuad The Reds beserta para pendukung di seluruh dunia. Liverpool unggul 23 poin di atas City dengan menyisakan tujuh pertandingan. Apa lagi hal yang lebih prosais daripada sukses ini?

Awalnya adalah nubuat kedatangan Jurgen Klopp ke Merseyside pada 2015 lalu. Setelah memberikan Borussia Dortmund dua gelar Bundesliga Jerman 2011 dan 2012, satu DFB Pokal 2012, serta ditambah pencapaian final Liga Champions 2013, Klopp datang dengan energi baru. Pada hari pertamanya, dia meminta setiap staf memperkenalkan diri serta menjelaskan tugas masing-masing. “Sukses hanya dapat diraih dengan bersama-sama,” bilangnya. Energi rock and roll yang memberikan Liverpool arah baru.

Tentu sukses tidak selamanya datang dengan mulus. Pada musim pertamanya, Klopp menempatkan Liverpool di peringkat kedelapan klasemen akhir dengan rekor kebobolan 50 gol. Musim berikutnya, empat peringkat lebih baik. Tapi, jumlah kebobolan masih merisaukan, yaitu 42 kali dalam 38 pertandingan.

Taktik gegenpressing seperti bumerang buat pertahanan tim yang berkaki dingin. Solusinya, awal 2018 Klopp menjual Philippe Coutinho guna mendanai transfer Virgil van Dijk. Liverpool perlahan stabil. Jumlah kebobolan menjadi 38 gol dan podium Liga Champions berhasil digapai. Kepingan puzzle berikutnya yang dilengkapi Klopp adalah Alisson yang menggantikan tugas Loris Karius, yang melakukan blunder ganda di final Liga Champions.

Tidak ada yang meragukan daya serang Liverpool yang bertumpu pada trisula Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino. Musim 2018/19, The Reds mengamuk dengan rekor gol 89-22, 97 poin — tapi tetap saja masih gagal juara! Mereka hanya satu centimeter tertinggal dari Manchester City. Ingat penyelamatan garis gawang John Stones yang vital, kawan-kawan?

Setidaknya Klopp mengobati musim Liverpool dengan merebut trofi Liga Champions setelah mengalahkan Tottenham Hotspur di final. Tapi, itu belum cukup. Gelar yang paling dicari-cari adalah trofi liga! Apalagi, sejak era Liga Primer, Liverpool belum pernah sekali pun mencicipi gelar juara.

Tadi malam, Klopp menjawab nubuat lima tahun silam. Liverpool tampil prima sejak musim dimulai dan terus konsisten hingga pandemi Covid-19 memaksa Liga Primer menunda pertandingan selama tiga bulan lamanya. Dua pertandingan setelah Liga Primer kembali berputar, gelar juara liga ke-19 tak terelakkan lagi.

Konsistensi Liverpool selama dua tahun terakhir ini memang mengerikan. Poin maksimal yang dapat diraup The Reds musim ini adalah 107 poin! Wajar jika setelah pesta singkat gelar juara skuad Liverpool akan kembali fokus dalam upaya memecahkan rekor 100 poin milik Manchester City dua musim lalu.

Titel juara Liga Primer tak ubahnya bagai Cawan Suci bagi Liverpool, tapi apa target berikutnya?

Mungkin bukan trofi Liga Champions. Selama 30 tahun terakhir, Liverpool sudah dua kali merebut Si Kuping Lebar (2005 dan 2019). Itu membuat Liverpool menjadi klub Inggris tersukses dengan enam gelar di ajang kompetisi paling bergengsi di Eropa. Ditambah lagi gelar juara Piala UEFA 2001 dan tiga Piala Super (2001, 2015, dan 2019), kejayaan Eropa bukanlah godaan terbesar The Reds.

Sebelum pertandingan melawan Crystal Palace, Klopp menepis pendapat media tentang kemungkinan Liverpool mendominasi liga selama bertahun-tahun lamanya. Seperti yang pernah dilakukan Sir Alex Ferguson bersama Manchester United dengan total 13 gelar juara dalam rentang waktu 1993 hingga 2013.

Menariknya, ucapan Klopp dibantah mantan penyerang Manchester United, Wayne Rooney. “Skuad Liverpool masih muda dan semua pemain kunci mereka terikat kontrak jangka panjang. Mereka berpotensi besar memenangi lebih banyak gelar,” ujarnya. “Sederhana saja buat Liverpool, biarkan Klopp terus berjalan dan berjalan.”

“United bisa mendominasi karena Fergie bertahan begitu lama. Saya rasa jika pelatih berusia 53 tahun seperti Klopp bertahan sepuluh tahun lagi di Liverpool, setidaknya Liverpool bisa lima kali lagi memenangi Liga Primer.”

Jika ingin mendulang sukses berjangka panjang, Klopp mesti meniru managerial skill seperti Sir Alex. Bukan taktik yang membawa Sir Alex berhasil menjuarai begitu banyak gelar selama kiprahnya di United, melainkan lebih pada kemampuannya mengelola personel tim. Man management Sir Alex memang tiada bandingannya di dunia sepakbola. 

Secara kharisma, seperti halnya Sir Alex, Klopp memiliki kedekatan dengan pemain dan mampu memotivasi mereka. Namun, Klopp ditantang mampu mengambil keputusan sulit dengan membuang pemain yang tidak berpenampilan bagus. Keputusan sulit Klopp juga harus diberikan dukungan dari dewan direksi. Klopp mungkin tidak seleluasa Sir Alex karena tidak diuntungkan kebijakan finansial Liverpool yang sangat memerhatikan keseimbangan neraca pemasukan dan pengeluaran. Ini sudah berdampak pada lepasnya incaran Klopp, Timo Werner, ke Chelsea.

Menjaga nyala bara api Liverpool akan menuntut banyak pengorbanan. Selama Klopp merasa bahagia dan memberikan kebahagiaan kepada Liverpool, tampaknya ucapan Rooney tidak hanya sekadar pujian. Melainkan nubuat berikutnya buat Klopp.

Sekilas Jepang Pascaperang dalam From Up on Poppy Hill

Tanggal 15 Agustus 1945 menandakan akhir Perang Dunia II bagi Jepang dengan tersiarnya “Gyokuon-hoso”. The Jewel Voice Broadcast atau Siaran Suara Permata. Untuk kali pertama dalam sejarah, seluruh rakyat Jepang dapat mendengar suara Kaisar. Melalui siaran radio, Kaisar Hirohito membacakan pidato guna menyudahi agresi militer Jepang selama lebih dari tiga tahun. Secara formal, Jepang kemudian menyerah tanpa syarat kepada Sekutu di Kapal Missouri hampir tiga bulan berselang.

Dimulai lah era pendudukan Sekutu di Jepang yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur. Salah satu dampak pendudukan adalah dibentuknya konstitusi baru yang memperkenalkan praktik demokrasi. Memasuki era Perang Dingin, Sekutu menjadikan Jepang sebagai salah satu alat menangkal pengaruh Uni Soviet. Keterlibatan Sekutu dalam Perang Korea awal 1950-an turut menempatkan Jepang di posisi yang penting.

Latar belakang Jepang pascaperang tersebut menjadi plot penting dalam From Up on Poppy Hill. Film yang dirilis 2011 itu menjadi bagian dari serentetan film produksi Studio Ghibli yang ditayangkan Netflix mulai Maret lalu. Total, terdapat 21 film dan From Up on Poppy Hill menjadi salah satu yang layak diprioritaskan. Bukan karena menjadi salah satu masterpiece studio animasi kesohor dunia, tetapi juga bercerita tentang masa remaja, cinta pertama, keluarga, dan budaya Jepang.

Cerita utama From Up on Poppy Hill adalah tentang hubungan dua karakter utamanya, Umi Matsuzaki dan Shun Kazama. Umi tinggal di rumah neneknya yang juga menjadi rumah kosan mahasiswa. Ayahnya meninggal saat Perang Korea dan ibunya belajar di Amerika Serikat. Setiap pagi, di halaman rumah atas bukit yang menghadap pelabuhan Yokohama, Umi mengibarkan bendera yang mengandung pesan, “Semoga selamat dalam perjalanan”.

Di atas kapal ayahnya, Shun membalas pesan tersebut. Bahkan, dia mengirim pesan anonim di pamflet sekolah untuk Umi. Latar belakang Shun yang misterius berperan menjadi antagonis kisah mereka. 

Bagi yang sudah menonton From Up on Poppy Hill, mungkin mendapati masalah Shun terlalu melodramatik. Bahkan bagi sebagian penonton Barat sulit diterima akal sehat. Beberapa menganggap penyelesaian konflik terlalu mudah diprediksi. Tetapi, buat saya, From Up on Poppy Hill kurang lebih memberikan gambaran kekacauan masyarakat pascaperang.

Umi dan Shun kemudian berupaya menyelamatkan sebuah janapada terbengkalai, Quartier Latin, yang menjadi tempat ekstrakulikuler sekolah mereka. Tokyo sedang mempersiapkan Olimpiade 1964 sehingga janapada itu akan dirubuhkan dan dimodernisasi. Ada pro dan kontra di antara pelajar, tetapi Umi dan Shun berupaya untuk menyelamatkan Quartier Latin.

“Jepang sedang menyambut era baru.”

“Kita mesti membangun tatanan baru di atas reruntuhan yang lama!”

“Menghancurkan yang lama sama saja menghancurkan sejarah kita!”

“Tidak ada tempat bagi mereka yang memuja masa depan dan mengabaikan masa lalu.”

Adu pendapat ini menggelegar dalam sebuah adegan debat terbuka yang relevan dengan perjuangan Jepang membangun ulang negara mereka pascaperang. Ini salah satu adegan terbaik di dalam From Up on Poppy Hill. Ketika suasana kian memanas, koor siswa “When the White Flower Blossomed” membahana selayaknya lagu perjuangan yang mempersatukan.

Secara musikal, From Up on Poppy Hill menggunakan pilihan yang memerhatikan detail. Lagu “Ue o Muite Aruko”, atau populer dengan judul “Sukiyaki”, yang dibawakan Kyu Sakamoto masuk menambah nuansa nostalgia. Selain itu ada pula lagu tema film yang lirih dan mengena, “Sayonara no natsu ~Kokuriko-zaka kara~”.

Apalagi detail visual yang sangat diperhatikan. Sutradara Goro Miyazaki memenuhi film dengan beragam detail tentang Yokohama yang menjadi setting lokasi. Bangunan sekolah, rumah, atau pelabuhan seperti ikut berbicara dalam membangun cerita film.

Olimpiade Tokyo 1964 adalah olimpiade ke-18 sekaligus yang pertama digelar di Asia. Penyelenggaraannya terbilang sukses dengan disaksikan lebih dari 2 juta penonton. Selain itu, penyelenggaraan Olimpiade dipandang sebagai katalis kelahiran kembali Jepang setelah Perang Dunia II yang mengorbankan jutaan jiwa dan menghabiskan miliaran yen.

Umi dan Shun adalah representasi generasi pertama Jepang pascaperang. Hidup mereka dipenuhi tragedi, tetapi nasib buruk di masa lalu tidak menghambat mereka untuk mewujudkan masa depan. Saya merasa meluangkan 91 menit benar-benar setimpal dihabiskan untuk menonton film ini.

Klik link ini untuk menontonnya di Netflix

Ajax vs Getafe – Apa yang Salah dengan Ajax?

View this post on Instagram

Sorry football fans…⚽️💔 #UEL #ajaget

A post shared by AFC Ajax (@afcajax) on

Sesaat setelah peluit panjang pertandingan berbunyi, akun resmi Ajax Amsterdam mengangkat posting ke media sosial. “Kami tersingkir,” sambil menampilkan skor akhir: 2-1 untuk kemenangan De Godenzonen. Mereka tersingkir dari babak 32 besar Liga Europa karena Getafe unggul agregat 3-2. “Maafkan kami para penggemar sepakbola,” bunyi posting lanjutan.

Sebagai semi-finalis Liga Champions musim lalu, sebenarnya Ajax menjadi salah satu tim unggulan di Liga Europa 2019/20. Bahkan sejatinya banyak orang (termasuk saya) yang menunggu apakah Ajax mampu menyamai pencapaian musim lalu. Mungkin terlalu gila berharap mereka melampauinya, apalagi setelah kepindahan Matthijs de Ligt, Frenkie de Jong, dan Lasse Schone.

Namun, tidak bisa dimungkiri, kehilangan De Ligt dan De Jong sangat terasa pengaruhnya terhadap performa tim. Meski pun Edwin van der Sar dan Marc Overmars sanggup mempertahankan Hakim Ziyech, David Neres, Donny van de Beek, hingga Andre Onana serta mendatangkan calon bintang baru seperti Lisandro Martinez, Edson Alvarez, hingga Razvan Marin; tetap tidak bisa menggantikan keberanian De Ligt dan kreativitas De Jong.

AMSTERDAM, NETHERLANDS – FEBRUARY 27: (L-R) Dakonam Djene of Getafe, Dusan Tadic of Ajax during the UEFA Europa League match between Ajax v Getafe at the Johan Cruijff Arena on February 27, 2020 in Amsterdam Netherlands (Photo by Rico Brouwer/Soccrates/Getty Images)

November lalu, Ajax gagal di fase grup Liga Champions setelah dikalahkan Valencia 1-0. Di kandang sendiri. Padahal bermain di Johan Cruijff ArenA. Padahal jika dibandingkan tim peringkat ketiga grup lain, perolehan poin Ajax adalah yang terbanyak.

Undian Liga Europa mempertemukan mereka dengan Getafe. Tim kuda hitam LaLiga Spanyol yang membangun kekuatan di bawah kepelatihan Jose Bordalas. Klub asal kota Madrid itu tidak boleh diremehkan karena memiliki rekor pertahanan terbaik di kompetisi domestik serta sedang menatap sejarah baru dengan lolos ke Liga Champions musim depan.

Dalam dua pertemuan, Getafe tampil lebih baik. Mereka mencundangi Ajax 2-0 di Colisseum Alfonso Perez lalu mencuri gol cepat saat tandang di Johan Cruijff Arena. Situasi itu menyulitkan Ajax. Meski tuan rumah sukses balik membalas dua gol, tetapi Getafe menciptakan lebih banyak peluang. Tiga kali upaya mereka digagalkan tiang gawang. Ditambah hampir tujuh menit waktu tambahan babak kedua, Ajax tetap tak mampu menambah gol yang dibutuhkan guna menyelamatkan petualangan Eropa mereka.

Apa yang salah? Orang-orang akan dengan mudah menganggap kekalahan Ajax tidak bisa dihindarkan karena mereka melepas banyak pemain bintang. Saya selalu bingung masih ada saja yang menggunakan dalih ini. Melepas pemain bintang dan mendapatkan pemasukan transfer memang merupakan strategi bisnis Ajax — bukan karena terpaksa. Tentunya Van der Sar dan Overmars sudah memiliki strategi: kapan harus menahan pemain dan kapan melepasnya.

Betul, Ajax kehilangan De Ligt yang cepat, nekat, dan kuat saat menghadang serbuan lawan. Komposisi bek yang dimiliki Ajax saat ini tidak ada yang segarang sang mantan kapten. Ajax butuh bek berkarakter seperti ini untuk sukses di Eropa — selain De Ligt, masih ingat Davinson Sanchez yang mengantar mereka ke final Liga Europa 2017?

Kehilangan De Jong mungkin yang paling terasa. Baru sekarang terasa andil besar De Jong dalam keberhasilan Ajax ke semi-final Liga Champions musim lalu. De Jong menjadi fokus permainan tim. Kemampuannya menahan bola, mendistribusikan, dan bergerak vertikal mempermudah Ziyech dan Dusan Tadic berkreasi di area pertahanan lawan. Musim ini, Ziyech lebih sering turun ke belakang dan fans tak tahu ke mana Tadic berada selama 90 menit pertandingan.

Kini, Ajax tinggal mencari gengsi domestik di liga dan piala. Ziyech sudah dipastikan hijrah ke Chelsea musim panas mendatang, sedangkan Van de Beek dikaitkan dengan sejumlah klub tenar Eropa. Ketika Van der Sar dan Overmars mencari pengganti, sebaiknya mereka harus meninjau ulang kebijakan mendatangkan pemain berpengalaman seperti Klaas-Jan Huntelaar atau Ryan Babel. Bukannya memberi tambahan energi saat terjun di Eropa, para pemain itu malah menjadi bintang redup di antara calon bintang muda Ajax yang siap bersinar.

Cerita menerbitkan buku “100+ Fakta Unik Piala Dunia”

Syahdan, pertengahan 2009, muncul sebuah gagasan. Piala Dunia Afrika Selatan di depan mata, masak sebagai jurnalis sepakbola tidak memanfaatkan momentum itu? Lalu, bersama Asep Ginanjar kami menelurkan kumpulan cerita menarik yang pernah terjadi sepanjang sejarah turnamen yang dijuluki “The Greatest Show On Earth” itu.

Masa itu, berbeda seperti sekarang, media sosial masih jarang. Fungsinya lebih sebagai ajang reuni, senda gurau, atau bahkan memperluas pergaulan sosial. Kami sedari awal sadar, fans sepakbola bukan lah kalangan yang gemar membaca. Tapi, sekali lagi, sebagai jurnalis setidaknya mesti punya semacam tanggung jawab sosial untuk menerbitkan karya dalam bentuk buku.

Kenapa harus menulis buku?

Alasan paling mudah adalah dengan menulis buku kamu menunjukkan kalau apa yang kamu tulis adalah sesuatu yang benar-benar kamu kuasai dan sangat penting buatmu. Apalagi di zaman serbadigital yang penuh dengan hiruk-pikuk informasi, menulis buku berarti menulis informasi yang sifatnya minim kebisingan dan bebas gangguan (distraction).

Selain itu, bagi jurnalis menulis buku jelas menciptakan gengsi tersendiri. Seolah kamu “naik kelas” dari sekadar jurnalis menjadi “penulis”.

(Bahkan membuatmu berhak mengklaim status “author” di Goodreads – jaringan sosial khusus katalogisasi buku. Cek profil saya di sini.)

Singkat cerita, naskah awal berupa abstraksi, daftar isi, dan bab pertama kami susun lantas kami kirimkan e-mail penawaran ke tiga penerbit. Alhamdulillah, dua di antaranya membalas. Pilihan jatuh pada penerbit Serambi yang waktu itu digawangi mas Anton Kurnia, yang kemudian bertindak sebagai penyunting buku berjudul “100+ Fakta Unik Piala Dunia“.

Pemilihan judul dengan sadar mendahulukan nominal di awal kalimat sebagai pemikat calon pembaca. Akhir Januari 2010, buku ini resmi diterbitkan bertepatan dengan hari tur trofi Piala Dunia Coca-Cola (yang juga berkenan menjadi sponsor buku — terima kasih pak Arif Mujahidin, semoga sehat selalu).

Penerbitan buku ini membawa kami ke layar televisi dan diskusi bedah buku di kampus almamater, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, sebagai bagian dari kegiatan promosi.
Kami rasa waktu penerbitan benar-benar pas. Mencuri start. Rasanya belum banyak buku tentang sepakbola yang diterbitkan di tanah air saat itu. Lucunya, beberapa waktu setelah penerbitan, muncul buku sejenis yang mengambil judul “101 Fakta Piala Dunia”.

Betul. Anda tidak salah baca. Pembajakan ide bahkan bisa sebrutal itu. Bagi kami, itu justru semacam pujian tersendiri karena ternyata gagasan kami mampu menciptakan gagasan di kepala orang lain.

Sayangnya, sepuluh tahun berlalu, belum ada buku lanjutan yang saya hasilkan. Asep sendiri sudah setidaknya dua kali menelurkan hasil karya susulan. Saya masih saja sibuk tak tentu arah bergulat mewujudkan apa-apa yang niskala menjadi niscaya.

Simak juga dan ikuti kicauan Asep Ginanjar di akun Twitternya!