Memahami Arthur Fleck Tanpa Perlu Merasa Bersalah

SPOILER ALERT. Resensi film “Joker” (Todd Phillips, 2019). Lebih baik dibaca setelah menonton.

Komedi sudah mati, terang Todd Phillips dalam sebuah wawancara dengan Vanity Fair beberapa waktu lalu. Hal yang membunuhnya adalah gerakan woke culture yang membuat pelaku komedi ramai-ramai menjauhi materi yang dianggap dapat menyinggung perasaan orang lain.

Kiprah Phillips sebagai sutradara dikenal dengan segudang judul film komedi. Paling terkenal adalah trilogi “The Hangover”, menyusul sejumlah titel lain seperti “Due Date”, “Road Trip”, “Old School”, dan “Starsky and Hutch”. Kesuksesan “The Hangover” membentuk pertemanan Phillips dengan Bradley Cooper. Sejak itu, kolaborasi keduanya sebagai sutradara dan produser secara bergantian melahirkan “War Dogs” (2016) dan “A Star Is Born” (2018). Tahun ini, Phillips meluncurkan karya terbaru, “Joker”, yang turut diproduseri Cooper.

Gagasan membesut “Joker” sudah mendekam lama di dalam pikiran Phillips. Dalam sebuah kesempatan, Phillips mendekati Warner Bros untuk melakukan pitching gagasan tersebut. “Kalau tidak bisa menaklukkan raksasa seperti Marvel,” bilangnya kepada Empire tentang isi pertemuan itu, “lakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa mereka lakukan.”

Gagasan kisah orisinil Joker, tokoh villain dalam komik Batman, disambut baik oleh Warner Bros. Gagasan lain, yaitu membentuk semacam entitas baru dengan nama “DC Black”, mungkin ditangguhkan. Tetapi, “Joker” adalah peluang memaksimalkan potensi yang dimiliki DC Universe. Sebuah unique selling proposition yang mungkin tidak pernah bisa disamai oleh Marvel, termasuk oleh “Logan”.

Sejak awal, “Joker” tidak pernah diniatkan sebagai film superhero dengan efek visual bombastis dan anggaran setinggi langit. Setting film terbilang sederhana: Gotham City tahun 1981 ketika jurang kemiskinan merajalela, tingginya angka kriminalitas serta pengangguran, dan ketidakberpihakan pemerintah. Phillips merefleksikan setting kondisi Gotham saat itu dengan New York pada periode waktu yang sama.

Arthur Fleck adalah bujangan yang bekerja serabutan sebagai badut jalanan dan masih tinggal bersama Penny, ibunya yang sakit-sakitan. Penny senantiasa meminta agar Happy, demikian ia memanggil putra tunggalnya, untuk terus berpikiran positif dan berbahagia. Arthur mengidap sindrom pseudobulber yang membuatnya tak bisa mengendalikan tawa saat tertekan.

Karakter Joker merupakan arch-villain atau musuh utama Batman yang pernah dimainkan berbagai aktor. Dimulai dari Cesar Romero yang komikal, sesuai dengan pendekatan serial Batman tahun 1960-an, lalu Jack Nicholson, Mark Hamill selaku pengisi suara dalam serial animasi Batman, hingga Heath Ledger. Sejauh ini, pendekatan karakter yang dilakukan Christopher Nolan dan Heath Ladger dianggap yang paling berhasil, lalu buat apa lagi Warner Bros/DC/Phillips mempersembahkan cerita orisinil Joker?

Meski mengambil setting 1981, banyak kesesuaian isi cerita dengan kondisi kiwari. Sutradara dokumenter merangkap aktivis, Michael Moore, dengan bersemangat mengajak orang menonton “Joker”. “Film ini memberikan alasan kenapa orang-orang tidak mau mencari akar permasalahan,” tulisnya di Facebook, “atau mencoba memahami kenapa orang-orang tak berdosa berubah menjadi Joker ketika mereka tak sanggup lagi menahan diri.”

Menonton “Joker”, saya sendiri dipenuhi perasaan emosional yang berkecamuk. Kesulitan yang dihadapi Arthur dengan mudah memancing rasa iba dan simpati. Tetapi, pijakan moral penonton mulai diuji ketika dia menarik pelatuk pistol yang menewaskan tiga orang di kereta api. Di mana seharusnya penonton berpihak, merasa geram dengan pelanggaran hukum atau justru memaklumi dan bersimpati?

“Komedi adalah sesuatu yang subyektif,” jelas Arthur ketika diundang menghadiri program bincang televisi populer Murray Franklin. Sesuatu yang dianggap lucu belum tentu dianggap sama oleh orang lain. Begitu pula dengan review yang terbelah. Rating review “Joker” terus menurun karena dianggap membenarkan tindakan kekerasan. Padahal, publik Amerika Serikat tengah membangun kesadaran untuk mengendalikan penjualan senjata api menyusul berbagai insiden penembakan di negara adidaya itu.

“Joker” juga dianggap menjadi ajang pembenaran. Seorang kulit putih penyendiri yang membawa-bawa senjata api akan dianggap sebagai pengidap kelainan emosional yang butuh bantuan. Sementara, warga kulit berwarna akan dituduh sebagai teroris.

Buat sang sutradara pribadi, “Joker” merupakan sarana memperkenalkan kemampuannya membesut film di luar genre komedi. Ditambah dengan komentar kontroversial yang menyinggung woke culture, yaitu kesadaran untuk menegakkan keadilan sosial dan rasial), Phillips seolah menjadikan “Joker” untuk menertawakan kehidupan era digital dengan segala macam opini dan persepsi yang bersliweran baik di media mainstream maupun media sosial.

Situasi Amerika Serikat barangkali tak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Demonstrasi massa, ketidakadilan, dan kekerasan kerap menghiasi pemberitaan media maupun lini masa media sosial. “Joker” dapat dengan mudah dipersepsi sebagai simbol perlawanan.

Mirip seperti warga Gotham yang memilih bersimpati kepada Arthur. Setelah bersikeras dipanggil dengan nama Joker ketika diperkenalkan Franklin, dia menarik pelatuk terakhir yang mengambil nyawa sang pembawa acara. Franklin diperankan oleh Robert De Niro, yang secara sengaja dipilih Phillips untuk terlibat dalam film ini. De Niro pernah tampil dalam film bertipe sejenis, seperti “Taxi Driver” dan “King of Comedy”, sehingga tema sociopath kian teresonansi dalam “Joker”.

“Sebelumnya aku menganggap hidupku adalah tragedi. Ternyata aku sadar, hidupku sebenarnya adalah komedi,” ujar Arthur.

Namun, pelatuk terakhir di dalam “Joker” tidak dilakukan oleh sang karakter utama. Ada peluru-peluru lain yang dimuntahkan setelahnya. Korbannya, Thomas dan Martha — orangtua Bruce Wayne. Trauma yang tak terkendalikan hanya akan melahirkan trauma baru. Sebuah butterfly effect.

Saya percaya, reaksi penonton saat klimaks “Joker” akan berbeda-beda mencerminkan persepsi mereka terhadap kehidupan yang sedang dijalani. Perasaan saya bergemuruh ketika Joker bangkit dan dirayakan oleh para pendukungnya. Namun, pada saat bersamaan, Phillips menampilkan scene Bruce kecil berdiri tertegun di atas tubuh kedua orangtuanya yang terbujur kaku.

Detik ini, pijakan moral saya berhasil dikembalikan. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Meski seperti yang kita semua ketahui dari kelanjutan hidup Bruce Wayne, batas kewarasan dan kegilaan terletak di zona abu-abu.