Sekilas Jepang Pascaperang dalam From Up on Poppy Hill

Tanggal 15 Agustus 1945 menandakan akhir Perang Dunia II bagi Jepang dengan tersiarnya “Gyokuon-hoso”. The Jewel Voice Broadcast atau Siaran Suara Permata. Untuk kali pertama dalam sejarah, seluruh rakyat Jepang dapat mendengar suara Kaisar. Melalui siaran radio, Kaisar Hirohito membacakan pidato guna menyudahi agresi militer Jepang selama lebih dari tiga tahun. Secara formal, Jepang kemudian menyerah tanpa syarat kepada Sekutu di Kapal Missouri hampir tiga bulan berselang.

Dimulai lah era pendudukan Sekutu di Jepang yang dipimpin oleh Jenderal Douglas MacArthur. Salah satu dampak pendudukan adalah dibentuknya konstitusi baru yang memperkenalkan praktik demokrasi. Memasuki era Perang Dingin, Sekutu menjadikan Jepang sebagai salah satu alat menangkal pengaruh Uni Soviet. Keterlibatan Sekutu dalam Perang Korea awal 1950-an turut menempatkan Jepang di posisi yang penting.

Latar belakang Jepang pascaperang tersebut menjadi plot penting dalam From Up on Poppy Hill. Film yang dirilis 2011 itu menjadi bagian dari serentetan film produksi Studio Ghibli yang ditayangkan Netflix mulai Maret lalu. Total, terdapat 21 film dan From Up on Poppy Hill menjadi salah satu yang layak diprioritaskan. Bukan karena menjadi salah satu masterpiece studio animasi kesohor dunia, tetapi juga bercerita tentang masa remaja, cinta pertama, keluarga, dan budaya Jepang.

Cerita utama From Up on Poppy Hill adalah tentang hubungan dua karakter utamanya, Umi Matsuzaki dan Shun Kazama. Umi tinggal di rumah neneknya yang juga menjadi rumah kosan mahasiswa. Ayahnya meninggal saat Perang Korea dan ibunya belajar di Amerika Serikat. Setiap pagi, di halaman rumah atas bukit yang menghadap pelabuhan Yokohama, Umi mengibarkan bendera yang mengandung pesan, “Semoga selamat dalam perjalanan”.

Di atas kapal ayahnya, Shun membalas pesan tersebut. Bahkan, dia mengirim pesan anonim di pamflet sekolah untuk Umi. Latar belakang Shun yang misterius berperan menjadi antagonis kisah mereka. 

Bagi yang sudah menonton From Up on Poppy Hill, mungkin mendapati masalah Shun terlalu melodramatik. Bahkan bagi sebagian penonton Barat sulit diterima akal sehat. Beberapa menganggap penyelesaian konflik terlalu mudah diprediksi. Tetapi, buat saya, From Up on Poppy Hill kurang lebih memberikan gambaran kekacauan masyarakat pascaperang.

Umi dan Shun kemudian berupaya menyelamatkan sebuah janapada terbengkalai, Quartier Latin, yang menjadi tempat ekstrakulikuler sekolah mereka. Tokyo sedang mempersiapkan Olimpiade 1964 sehingga janapada itu akan dirubuhkan dan dimodernisasi. Ada pro dan kontra di antara pelajar, tetapi Umi dan Shun berupaya untuk menyelamatkan Quartier Latin.

“Jepang sedang menyambut era baru.”

“Kita mesti membangun tatanan baru di atas reruntuhan yang lama!”

“Menghancurkan yang lama sama saja menghancurkan sejarah kita!”

“Tidak ada tempat bagi mereka yang memuja masa depan dan mengabaikan masa lalu.”

Adu pendapat ini menggelegar dalam sebuah adegan debat terbuka yang relevan dengan perjuangan Jepang membangun ulang negara mereka pascaperang. Ini salah satu adegan terbaik di dalam From Up on Poppy Hill. Ketika suasana kian memanas, koor siswa “When the White Flower Blossomed” membahana selayaknya lagu perjuangan yang mempersatukan.

Secara musikal, From Up on Poppy Hill menggunakan pilihan yang memerhatikan detail. Lagu “Ue o Muite Aruko”, atau populer dengan judul “Sukiyaki”, yang dibawakan Kyu Sakamoto masuk menambah nuansa nostalgia. Selain itu ada pula lagu tema film yang lirih dan mengena, “Sayonara no natsu ~Kokuriko-zaka kara~”.

Apalagi detail visual yang sangat diperhatikan. Sutradara Goro Miyazaki memenuhi film dengan beragam detail tentang Yokohama yang menjadi setting lokasi. Bangunan sekolah, rumah, atau pelabuhan seperti ikut berbicara dalam membangun cerita film.

Olimpiade Tokyo 1964 adalah olimpiade ke-18 sekaligus yang pertama digelar di Asia. Penyelenggaraannya terbilang sukses dengan disaksikan lebih dari 2 juta penonton. Selain itu, penyelenggaraan Olimpiade dipandang sebagai katalis kelahiran kembali Jepang setelah Perang Dunia II yang mengorbankan jutaan jiwa dan menghabiskan miliaran yen.

Umi dan Shun adalah representasi generasi pertama Jepang pascaperang. Hidup mereka dipenuhi tragedi, tetapi nasib buruk di masa lalu tidak menghambat mereka untuk mewujudkan masa depan. Saya merasa meluangkan 91 menit benar-benar setimpal dihabiskan untuk menonton film ini.

Klik link ini untuk menontonnya di Netflix

Memahami Arthur Fleck Tanpa Perlu Merasa Bersalah

SPOILER ALERT. Resensi film “Joker” (Todd Phillips, 2019). Lebih baik dibaca setelah menonton.

Komedi sudah mati, terang Todd Phillips dalam sebuah wawancara dengan Vanity Fair beberapa waktu lalu. Hal yang membunuhnya adalah gerakan woke culture yang membuat pelaku komedi ramai-ramai menjauhi materi yang dianggap dapat menyinggung perasaan orang lain.

Kiprah Phillips sebagai sutradara dikenal dengan segudang judul film komedi. Paling terkenal adalah trilogi “The Hangover”, menyusul sejumlah titel lain seperti “Due Date”, “Road Trip”, “Old School”, dan “Starsky and Hutch”. Kesuksesan “The Hangover” membentuk pertemanan Phillips dengan Bradley Cooper. Sejak itu, kolaborasi keduanya sebagai sutradara dan produser secara bergantian melahirkan “War Dogs” (2016) dan “A Star Is Born” (2018). Tahun ini, Phillips meluncurkan karya terbaru, “Joker”, yang turut diproduseri Cooper.

Gagasan membesut “Joker” sudah mendekam lama di dalam pikiran Phillips. Dalam sebuah kesempatan, Phillips mendekati Warner Bros untuk melakukan pitching gagasan tersebut. “Kalau tidak bisa menaklukkan raksasa seperti Marvel,” bilangnya kepada Empire tentang isi pertemuan itu, “lakukan sesuatu yang tidak mungkin bisa mereka lakukan.”

Gagasan kisah orisinil Joker, tokoh villain dalam komik Batman, disambut baik oleh Warner Bros. Gagasan lain, yaitu membentuk semacam entitas baru dengan nama “DC Black”, mungkin ditangguhkan. Tetapi, “Joker” adalah peluang memaksimalkan potensi yang dimiliki DC Universe. Sebuah unique selling proposition yang mungkin tidak pernah bisa disamai oleh Marvel, termasuk oleh “Logan”.

Sejak awal, “Joker” tidak pernah diniatkan sebagai film superhero dengan efek visual bombastis dan anggaran setinggi langit. Setting film terbilang sederhana: Gotham City tahun 1981 ketika jurang kemiskinan merajalela, tingginya angka kriminalitas serta pengangguran, dan ketidakberpihakan pemerintah. Phillips merefleksikan setting kondisi Gotham saat itu dengan New York pada periode waktu yang sama.

Arthur Fleck adalah bujangan yang bekerja serabutan sebagai badut jalanan dan masih tinggal bersama Penny, ibunya yang sakit-sakitan. Penny senantiasa meminta agar Happy, demikian ia memanggil putra tunggalnya, untuk terus berpikiran positif dan berbahagia. Arthur mengidap sindrom pseudobulber yang membuatnya tak bisa mengendalikan tawa saat tertekan.

Karakter Joker merupakan arch-villain atau musuh utama Batman yang pernah dimainkan berbagai aktor. Dimulai dari Cesar Romero yang komikal, sesuai dengan pendekatan serial Batman tahun 1960-an, lalu Jack Nicholson, Mark Hamill selaku pengisi suara dalam serial animasi Batman, hingga Heath Ledger. Sejauh ini, pendekatan karakter yang dilakukan Christopher Nolan dan Heath Ladger dianggap yang paling berhasil, lalu buat apa lagi Warner Bros/DC/Phillips mempersembahkan cerita orisinil Joker?

Meski mengambil setting 1981, banyak kesesuaian isi cerita dengan kondisi kiwari. Sutradara dokumenter merangkap aktivis, Michael Moore, dengan bersemangat mengajak orang menonton “Joker”. “Film ini memberikan alasan kenapa orang-orang tidak mau mencari akar permasalahan,” tulisnya di Facebook, “atau mencoba memahami kenapa orang-orang tak berdosa berubah menjadi Joker ketika mereka tak sanggup lagi menahan diri.”

Menonton “Joker”, saya sendiri dipenuhi perasaan emosional yang berkecamuk. Kesulitan yang dihadapi Arthur dengan mudah memancing rasa iba dan simpati. Tetapi, pijakan moral penonton mulai diuji ketika dia menarik pelatuk pistol yang menewaskan tiga orang di kereta api. Di mana seharusnya penonton berpihak, merasa geram dengan pelanggaran hukum atau justru memaklumi dan bersimpati?

“Komedi adalah sesuatu yang subyektif,” jelas Arthur ketika diundang menghadiri program bincang televisi populer Murray Franklin. Sesuatu yang dianggap lucu belum tentu dianggap sama oleh orang lain. Begitu pula dengan review yang terbelah. Rating review “Joker” terus menurun karena dianggap membenarkan tindakan kekerasan. Padahal, publik Amerika Serikat tengah membangun kesadaran untuk mengendalikan penjualan senjata api menyusul berbagai insiden penembakan di negara adidaya itu.

“Joker” juga dianggap menjadi ajang pembenaran. Seorang kulit putih penyendiri yang membawa-bawa senjata api akan dianggap sebagai pengidap kelainan emosional yang butuh bantuan. Sementara, warga kulit berwarna akan dituduh sebagai teroris.

Buat sang sutradara pribadi, “Joker” merupakan sarana memperkenalkan kemampuannya membesut film di luar genre komedi. Ditambah dengan komentar kontroversial yang menyinggung woke culture, yaitu kesadaran untuk menegakkan keadilan sosial dan rasial), Phillips seolah menjadikan “Joker” untuk menertawakan kehidupan era digital dengan segala macam opini dan persepsi yang bersliweran baik di media mainstream maupun media sosial.

Situasi Amerika Serikat barangkali tak berbeda jauh dengan apa yang terjadi di Indonesia belakangan ini. Demonstrasi massa, ketidakadilan, dan kekerasan kerap menghiasi pemberitaan media maupun lini masa media sosial. “Joker” dapat dengan mudah dipersepsi sebagai simbol perlawanan.

Mirip seperti warga Gotham yang memilih bersimpati kepada Arthur. Setelah bersikeras dipanggil dengan nama Joker ketika diperkenalkan Franklin, dia menarik pelatuk terakhir yang mengambil nyawa sang pembawa acara. Franklin diperankan oleh Robert De Niro, yang secara sengaja dipilih Phillips untuk terlibat dalam film ini. De Niro pernah tampil dalam film bertipe sejenis, seperti “Taxi Driver” dan “King of Comedy”, sehingga tema sociopath kian teresonansi dalam “Joker”.

“Sebelumnya aku menganggap hidupku adalah tragedi. Ternyata aku sadar, hidupku sebenarnya adalah komedi,” ujar Arthur.

Namun, pelatuk terakhir di dalam “Joker” tidak dilakukan oleh sang karakter utama. Ada peluru-peluru lain yang dimuntahkan setelahnya. Korbannya, Thomas dan Martha — orangtua Bruce Wayne. Trauma yang tak terkendalikan hanya akan melahirkan trauma baru. Sebuah butterfly effect.

Saya percaya, reaksi penonton saat klimaks “Joker” akan berbeda-beda mencerminkan persepsi mereka terhadap kehidupan yang sedang dijalani. Perasaan saya bergemuruh ketika Joker bangkit dan dirayakan oleh para pendukungnya. Namun, pada saat bersamaan, Phillips menampilkan scene Bruce kecil berdiri tertegun di atas tubuh kedua orangtuanya yang terbujur kaku.

Detik ini, pijakan moral saya berhasil dikembalikan. Kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan. Meski seperti yang kita semua ketahui dari kelanjutan hidup Bruce Wayne, batas kewarasan dan kegilaan terletak di zona abu-abu.