Memperkirakan Skuad Oranje untuk #Euro2020

Jumat (14/5) lalu, pelatih Frank de Boer telah mengumumkan skuad bayangan timnas Belanda yang dipersiapkan terjun ke Euro 2020 mulai pertengahan Juni depan. Terdapat 34 nama di dalam skuad itu, minus dua nama pemain senior: Ryan Babel dan Kevin Strootman.

Performa dua pemain itu menurun dalam beberapa tahun terakhir, tapi herannya masih memperoleh tempat di dalam skuad Oranje. Pencoretan mereka menandakan bahwa De Boer mulai memilih pemain sesuai dengan performa yang ditunjukkan di atas lapangan — bukan lagi peran mereka sebagai pemain senior.

Itu juga yang membuat De Boer cepat-cepat menangkis euforia sesaat ketika Arjen Robben menyumbangkan dua assist bagi FC Groningen beberapa hari sebelum pengumuman. Apakah mungkin ada comeback dramatis bagi si penyerang kidal? “Biasanya saya beranggapan, jangan pernah mengatakan tidak pernah,” jawabnya. “Tapi, untuk hal ini, tidak sama sekali.”

Jika dibagi ke setiap sektor, De Boer menyertakan empat nama kiper, 13 bek, delapan gelandang, dan sembilan penyerang ke dalam daftar. UEFA mengizinkan kontestan Euro 2020 mendaftarkan 26 pemain (biasanya 23 pemain, tapi aturan khusus diberlakukan karena dampak pandemi Covid-19). Jadi, akan ada delapan nama yang dicoret dari daftar final skuad Oranje.

Mari menghitung peluang setiap sektor:

Kiper. Jika fit, Jasper Cillessen dapat dipastikan menjadi pilihan utama De Boer. Pemain Valencia itu telah menjadi kiper nomor satu Oranje sejak Piala Dunia 2014. Siapa pilihan kedua? Merujuk pada tiga laga kualifikasi Piala Dunia 2018, Maret lalu, De Boer lebih mempercayakan Tim Krul ketimbang Maarten Stekelenburg atau Marco Bizot. Namun, Krul tidak tampil meyakinkan ketika Belanda tunduk 4-2 dari tuan rumah Turki — tidak sekali pun membuat penyelamatan berarti.

Jika De Boer mendengarkan saran dari eks asisten pelatih Oranje Frans Hoek dan eks kiper Sander Westerveld, Stekelenburg dapat memperoleh kepercayaan lebih. Selain menjadi satu-satunya pemain yang pernah bermain di putaran final Euro di antara 33 pemain lain, Stekelenburg juga tampil lumayan menggantikan peran Andre Onana di Ajax Amsterdam. Klub juara Eredivisie itu pun tak ragu memperpanjang kontraknya.

Praktis, peluang Bizot masuk skuad Euro 2020 lebih kecil daripada nama-nama lain — kecuali jika salah satu kiper mengalami cedera.

Stekelenburg cemerlang sebagai kiper Ajax musim ini

Bek. Sektor yang paling banyak menyertakan nama. Alasannya, Virgil van Dijk memastikan diri absen pada putaran final dan Daley Blind berpacu dengan waktu untuk pulih dari cedera engkel yang didapat saat bermain di Gibraltar, dua bulan lalu. Dua nama hampir dapat dipastikan masuk skuad, yaitu dua jagoan klub Italia, Matthijs de Ligt dan Stefan de Vrij. Mereka sekaligus akan menjadi palang pintu utama Oranje sepanjang Euro 2020. Sementara, di posisi full-back, Owen Wijndal dan Denzel Dumfries punya peluang bagus.

Siapa pelapis mereka? Blind tetap akan disertakan jika pulih. Pemain senior Ajax itu bisa dimainkan di tiga posisi sekaligus: bek tengah, bek kiri, dan gelandang bertahan. Jika dianggap tidak fit, De Boer hanya punya pilihan dua bek kidal: Nathan Ake atau Patrick van Aanholt. Karena sang pelatih tidak menimbang Sven Botman sebagai kandidat serius, Ake juga menjadi bek tengah cadangan. Artinya, jika Blind belum pulih, Van Aanholt otomatis masuk skuad.

Posisi bek kanan lebih menarik. Jika berpijak bahwa Dumfries adalah pilihan utama di posisi ini, De Boer butuh pemain yang tidak seagresif kapten PSV Eindhoven itu. Pilihannya, antara Kenny Tete atau salah satu di antara Joel Veltman, Jerry St. Juste, serta Jurrien Timber. Tiga nama terakhir dapat menjadi bek tengah. Artinya, ada empat nama yang memperebutkan dua tempat. Jika saya yang memilih, Veltman dan Timber yang berangkat. Meski firasat saya De Boer lebih memilih Tete.

Sayangnya, tidak ada tempat untuk Hans Hateboer dan Rick Karsdorp dalam prediksi saya ini meski keduanya bermain sangat baik di Serie A.

De Ligt menjadi palang pertahanan bersama De Vrij

Gelandang. Dua nama otomatis masuk: Georginio Wijnaldum dan Frenkie de Jong. Saya anggap peluang Teun Koopmeiners sangat besar masuk skuad akhir. Selain kemampuan kapten AZ Alkmaar itu bermain sebagai bek tengah (atau jika perlu, bek kiri), kita harus pula mengingat faktor kondisi kebugaran Blind.

Dua dinamo Ajax yang bersinar di paruh kedua musim, Ryan Gravenberch dan Davy Klaassen, juga berpeluang besar. Gravenberch bisa menjadi bek kanan dadakan, seperti waktu melawan Gibraltar. Sementara, pemanggilan Klaassen saya rasa tidak akan menghalangi peluang Donny van de Beek.

De Boer akan tutup mata dengan catatan menit bermain Van de Beek yang minim musim ini. Dalam enam pertandingan internasional terakhir (total 250 menit), pemain Manchester United itu mampu mencetak tiga gol. De Boer juga tidak akan keberatan menyertakan sekaligus tiga pemain dengan karakter bermain yang mirip: Wijnaldum, Klaassen, dan Van de Beek.

Satu nama tersisa adalah Marten de Roon yang bisa berfungsi sebagai “mesin cuci”. Vilhena menjadi satu-satunya gelandang yang tersingkir dari prediksi ini.

Van de Beek cetak tiga gol dalam enam caps terakhir

Penyerang. Memphis Depay sudah pasti masuk. Ada sebuah analisis menarik dari Voetbal International, De Boer mesti mempersiapkan wing man sepadan bagi Memphis seperti halnya yang didapatnya di Olympique Lyon. Jika menghadapi tim besar, Memphis akan dijadikan false nine — sehingga memberikan satu lowongan di sayap kiri. Apakah Donyell Malen dan Steven Bergwijn dapat melakukannya? Barangkali pertimbangan ini pula yang membuat De Boer masih menyertakan Quincy Promes ke dalam skuad bayangan.

Lalu, jika menghadapi tim yang menumpuk banyak pemain bertahan, Memphis akan dimainkan sebagai sayap kiri dan Luuk de Jong ditempatkan sebagai ujung tombak. Ini mengangkat lagi perdebatan penggemar Oranje, lebih pantas siapa yang dimainkan: De Jong atau Wout Weghorst? Keduanya disertakan De Boer ke dalam skuad bayangan dan kenapa tidak sekalian keduanya disertakan, bukan?

Dalam sebuah wawancara menjelang pengumuman skuad bayangan, De Boer memberi sinyal untuk mempercayakan Weghorst. Apalagi striker VfL Wolfsburg itu sangat termotivasi tampil (emosional dalam wawancara pascalaga pekan lalu), dan itu dapat menjadi modal berharga bagi De Boer ketika turnamen berlangsung.

Untuk posisi sayap kanan, kapten Feyenoord Rotterdam Steven Berghuis ada dalam antrean terdepan. Saya memilih Cody Gakpo dan Anwar El Ghazi sebagai pendamping. Keduanya berkaki kanan, tapi bisa dimainkan di banyak posisi di depan sehingga memberikan banyak opsi bagi De Boer.

Motivasi Weghorst menjadi modal berharga De Boer

Silakan menyimak daftar prediksi skuad akhir Oranje dalam bagan berikut ini.

Belanda tergabung dalam Grup C Euro 2020. Laga pertama Oranje menghadapi Ukraina, Minggu 13 Juni; lalu Austria, Jumat 17 Juni; dan Macedonia Utara, Senin 21 Juni. Ketiganya dimainkan di Stadion Johan Cruijff Arena, Amsterdam.

Kalau tertarik, ikuti juga prediksi turnamen di website resmi UEFA melalui link ini.

Prediksi skuad Oranje untuk Euro 2020

Paris Saint-Germain celebrates Hari Kartini with a special artwork made by a female artist

Commemorating Hari Kartini (national women’s empowerment day in Indonesia, celebrated every 21 April), PSG – Paris Saint-Germain Indonesia’s Twitter account posts a special artwork made by Sekar Bestari — a young and aspiring female artist based in Yogyakarta.

The artwork depicting Nadia Nadim, a PSG Féminine player, who inspire football with her story from childhood in Afghanistan until now becomes a Danish football team star player. She wears “kebaya” contains “kutu baru” top and “kain batik” bottom. Sekar interprets wearing “kebaya” as a symbol of women’s strength in all disadvantages they might face.

Nadia holds a ball that symbolizes a dream, in her case is football. The Lotus flower is a symbol of wisdom and education. The spark of light in the background represents the famous line from Kartini’s letter, “Habis Gelap Terbitlah Terang” (“Through Darkness to Light”). They are the spirit that Kartini carries to this day.

Nadia with PSG Féminine faces the Women’s Champions League semi-final against Barcelona this weekend. They are on their way to win the tournament for the first time in history.

Unfortunately, women’s football in Indonesia has been on a hiatus for more than a year.

Check the post here

Rp200 Juta Sehari! – Kehilangan Pemasukan Klub Indonesia Tanpa Kompetisi

DISCLAIMER: Tulisan ini tidak berupaya mempertentangkan aspek mana yang lebih penting antara kesehatan atau ekonomi.

Entah siapa yang tahu kompetisi sepakbola Indonesia kapan dimulai lagi. Sejak dihentikan akibat pandemi Covid-19, Maret 2020, masyarakat Indonesia belum dapat kembali menyaksikan pertandingan sepakbola domestik. Tidak bisa dibantah, kesehatan adalah hal paling utama. Namun, ada banyak orang yang menyandarkan hidup pada sepakbola, terutama para pemain dan keluarga yang harus mereka nafkahi.

Saya mendengar banyak cerita pemain yang kebingungan karena pemasukan utamanya lenyap. Klub-klub mulai angkat tangan. Madura United, Persebaya Surabaya, dan terbaru Persipura Jayapura membubarkan tim karena tak lagi sanggup menanggung beban gaji pemain. Inilah wajah sepakbola Indonesia, yang gegap gempita dipuja para fans setia di stadion maupun media sosial, tapi fondasinya rapuh bak istana pasir.

Mayoritas klub tidak memiliki perencanaan jangka panjang, apalagi menyediakan jaring pengaman guna menghadapi situasi force majeur semacam pandemi ini. PSSI, selaku otoritas sepakbola tertinggi tanah air, hingga tulisan ini dibuat tidak bisa memberikan jaminan kapan liga berputar kembali. Izin penyelenggaraan tergantung izin keamanan yang diberikan Kepolisian RI.

Gegap gempita, tapi fondasi sepakbola Indonesia rapuh bak istana pasir

Lalu, tanpa kompetisi yang bergulir, berapa besar kerugian yang harus ditanggung sebuah klub?

Tidak mudah menyusun perhitungan ini karena hampir tidak ada klub Indonesia yang membuka laporan keuangan secara publik. Satu-satunya yang dapat dijadikan acuan adalah Bali United, klub Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang terjun ke lantai bursa sejak pertengahan Juni 2019.

Berdasarkan laporan keuangan terakhir yang terdaftar di IDX (Bursa Efek Indonesia) per 30 Juni 2019, Bali United memperoleh pemasukan dengan perincian sebagai berikut:

  • Komersil: Rp3.804.102.291
  • Kontribusi: Rp3.050.800.000
  • Pertandingan – bersih: Rp1.669.423.392
  • Sponsorship: Rp41.848.901
  • Live video streaming dan rekaman video: Rp12.587.789.976
  • Lain-lain: Rp9.685.485.023
  • Total: Rp72.646.502.348

Pendapatan komersil adalah pemasukan yang diperoleh klub melalui eksploitasi logo dan foto pemain Bali United melalui perjanjian sponsor dan perjanjian komersial lainnya. Termasuk pula penjualan merchandise klub dan pendapatan tur.

Lalu, pendapatan kontribusi merupakan pembagian pendapatan dari aktivitas komersial kompetisi, termasuk sponsorship dan hak siar, berdasarkan keikutsertaan yang dinegosiasikan secara terpusat oleh PT Liga Indonesia Baru, AFC, dan operator kompetisi domestik lain.

Tidak ada kompetisi mungkin tidak menghilangkan seluruh sektor pemasukan tersebut, tapi tetap saja sebagian besar pendapatan tidak mengalir ke kas klub. Berdasarkan angka total pendapatan di atas, perkiraan hilangnya pemasukan klub adalah Rp6 milyar sebulan. Atau, kira-kira Rp200 juta sehari.

Di luar biaya overhead, klub hilang pemasukan Rp6 milyar sebulan atau Rp200 juta sehari!

Sementara, pengeluaran klub berjuluk Laskar Semeton itu adalah sebesar Rp62.188.301.283. Sejumlah aspek pengeluaran adalah seperti gaji, bonus, medical dan tunjangan, hingga perjalanan dinas, sewa aset dan peralatan, atau pajak PPh 21.

Dengan mengecualikan sejumlah sektor pengeluaran yang bisa dipangkas karena pandemi, seperti biaya promosi dan iklan, perjalanan dinas, serta keamanan; kita tinggal menghitung biaya overhead klub antara lain untuk gaji pemain dan pegawai.

Untuk pos itu saja, Bali merogoh kocek hingga Rp17,1 milyar. Biaya tersebut masih ditambah dengan kebutuhan operasional kantor; telepon, fax, internet; listrik, air, gas; serta perbaikan atau perawatan aset. Kita asumsikan total pengeluaran menjadi Rp20 milyar atau Rp1,6 milyar sebulan.

Artinya, dengan semua asumsi di atas, Bali United harus menanggung kerugian sebesar Rp6 milyar per bulan selama kompetisi tidak diselenggarakan. Mesti dicatat pula, klub harus mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp1,6 milyar sebulan.

Jumlah di atas tentu tergantung dari anggaran masing-masing klub. November lalu, klub peserta Liga 2 seperti Muba Babel United dan Sriwijaya FC menyatakan jumlah kerugian yang mereka alami karena penundaan kompetisi berkisar antara Rp5-6 milyar. Jumlah itu baru mencakup biaya perekrutan pemain di awal musim, akomodasi, serta dana down payment kontrak pemain. Belum termasuk biaya operasional sehari-hari.

Mudah-mudahan segera ada solusi positif bagi mereka yang menyandarkan hidup pada sepakbola domestik.

Tantangan & Kesempatan Kenormalan Baru Sepakbola Indonesia

Ini skenario ideal sepakbola Indonesia menyambut awal dasawarsa baru 2020-an dengan asumsi super-ideal, yakni penerapan dan pemberlakuan kenormalan baru yang konsisten.

Paradoks sepakbola dan politik

Pandemi membuktikan sebuah paradoks. Sepakbola Indonesia masih menjadi alat politik yang diandalkan, tapi ironisnya kebijakan politik tidak bisa menjadi fundamental yang kokoh bagi pengembangan sepakbola. Namun, sepakbola dan politik tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hal yang perlu dilakukan adalah pemisahan kepentingan antara kedua unsur tersebut.

Pentingnya “good governance”

Dari poin di atas, pandemi bisa memberikan kesempatan bagi sepakbola Indonesia untuk berpikir ulang tentang pentingnya melakukan “good governance”. Mulai dari level teratas seperti federasi hingga terbawah seperti grassroots.

Harmoni klub dan otoritas

Dari poin pertama, government relations atau juga relasi dengan otoritas (seperti misalnya Kepolisian RI selaku pemberi izin keamanan) masih sangat vital di luar pentingnya pemasukan kas klub melalui tiket pertandingan dan hak siar. Bagaimana caranya menciptakan jembatan harapan antara klub dan otoritas?

Kembali ke bakat lokal

Pandemi juga memaksa pembatasan perjalanan dari satu negara ke negara lain. Transfer internasional bukan hal yang mustahil, tapi sang pemain harus melengkapi sejumlah persyaratan seperti menjalani tes usap serta karantina sebelum dapat bergabung ke sebuah klub baru. Keterbatasan ini menciptakan peluang bagi pasar transfer liga Indonesia untuk memunculkan lebih banyak pemain berbakat lokal di dalam kompetisi.

Format kompetisi

Pembatasan perjalanan juga dapat mengembalikan format kompetisi tier tertinggi menjadi ke dua atau banyak wilayah. Banyak kota antarpulau mesti dijangkau dengan transportasi udara, yang lagi-lagi menerapkan pula sejumlah persyaratan perjalanan. Penerapan format kompetisi regional ini dapat memberikan peluang untuk mengokohkan kompetisi divisi bawah sebagai fundamental sepakbola nasional.

“Coaching courses”

Periode tanpa sepakbola mendorong sejumlah para pemain yang masih aktif untuk mengambil kursus kepelatihan. Ini semacam berkah tersembunyi karena Indonesia masih kekurangan pelatih sepakbola. Mudah-mudahan makin banyak coaching courses yang diselenggarakan semasa penerapan kenormalan baru.

Berpikir ulang tentang stadion

Ini aspek penting bagi pemasukan klub. Kenormalan baru dapat menjadi momentum untuk menciptakan stadion sebagai tempat yang ramah bagi para penonton untuk menikmati pertandingan dengan aman dan nyaman. Pendeknya, diperlukan perencanaan mitigasi yang baik supaya ke depannya tidak perlu ada korban jiwa yang jatuh di dalam maupun sekitar stadion.

Alokasi anggaran Piala Dunia U-20 2021

Malam Natal lalu, FIFA mengumumkan pembatalan penyelenggaraan Piala Dunia U-20 2021. Meski demikian, FIFA tetap memberikan kesempatan bagi Indonesia menjadi tuan rumah turnamen dua tahun berikutnya. Anggaran Pemerintah, yang memang menjadikan Piala Dunia U-20 sebagai program mercusuar, telah terlanjur disetujui dan digunakan untuk persiapan tim. Seiring pembatalan, sisa anggaran akan kembali ke kas negara. Mungkin kah dana tersebut dapat dialokasikan lagi ke sejumlah sektor pembangunan olahraga seperti pembinaan atlet usia dini, coaching courses, atau mitigasi stadion? Tidak cuma untuk sepakbola, tapi olahraga tanah air secara keseluruhan. Rasanya itu lebih penting daripada mengucurkan seluruhnya untuk menyelenggarakan turnamen internasional salah satu cabang olahraga belaka. Mari menunggu kebijakan Pemerintah untuk hal ini.

Nubuat Berikutnya Jurgen Klopp: Bangun Dinasti Liverpool!

Embed from Getty Images

Liverpool juara dari rumah. Penantian panjang 30 tahun untuk merebut gelar juara liga akhirnya berakhir Kamis (25/6) malam setelah “bantuan” kemenangan 2-1 Chelsea atas pesaing terdekat mereka, Manchester City. Hasil itu sudah ditunggu-tunggu skuad The Reds beserta para pendukung di seluruh dunia. Liverpool unggul 23 poin di atas City dengan menyisakan tujuh pertandingan. Apa lagi hal yang lebih prosais daripada sukses ini?

Awalnya adalah nubuat kedatangan Jurgen Klopp ke Merseyside pada 2015 lalu. Setelah memberikan Borussia Dortmund dua gelar Bundesliga Jerman 2011 dan 2012, satu DFB Pokal 2012, serta ditambah pencapaian final Liga Champions 2013, Klopp datang dengan energi baru. Pada hari pertamanya, dia meminta setiap staf memperkenalkan diri serta menjelaskan tugas masing-masing. “Sukses hanya dapat diraih dengan bersama-sama,” bilangnya. Energi rock and roll yang memberikan Liverpool arah baru.

Tentu sukses tidak selamanya datang dengan mulus. Pada musim pertamanya, Klopp menempatkan Liverpool di peringkat kedelapan klasemen akhir dengan rekor kebobolan 50 gol. Musim berikutnya, empat peringkat lebih baik. Tapi, jumlah kebobolan masih merisaukan, yaitu 42 kali dalam 38 pertandingan.

Taktik gegenpressing seperti bumerang buat pertahanan tim yang berkaki dingin. Solusinya, awal 2018 Klopp menjual Philippe Coutinho guna mendanai transfer Virgil van Dijk. Liverpool perlahan stabil. Jumlah kebobolan menjadi 38 gol dan podium Liga Champions berhasil digapai. Kepingan puzzle berikutnya yang dilengkapi Klopp adalah Alisson yang menggantikan tugas Loris Karius, yang melakukan blunder ganda di final Liga Champions.

Tidak ada yang meragukan daya serang Liverpool yang bertumpu pada trisula Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino. Musim 2018/19, The Reds mengamuk dengan rekor gol 89-22, 97 poin — tapi tetap saja masih gagal juara! Mereka hanya satu centimeter tertinggal dari Manchester City. Ingat penyelamatan garis gawang John Stones yang vital, kawan-kawan?

Setidaknya Klopp mengobati musim Liverpool dengan merebut trofi Liga Champions setelah mengalahkan Tottenham Hotspur di final. Tapi, itu belum cukup. Gelar yang paling dicari-cari adalah trofi liga! Apalagi, sejak era Liga Primer, Liverpool belum pernah sekali pun mencicipi gelar juara.

Tadi malam, Klopp menjawab nubuat lima tahun silam. Liverpool tampil prima sejak musim dimulai dan terus konsisten hingga pandemi Covid-19 memaksa Liga Primer menunda pertandingan selama tiga bulan lamanya. Dua pertandingan setelah Liga Primer kembali berputar, gelar juara liga ke-19 tak terelakkan lagi.

Konsistensi Liverpool selama dua tahun terakhir ini memang mengerikan. Poin maksimal yang dapat diraup The Reds musim ini adalah 107 poin! Wajar jika setelah pesta singkat gelar juara skuad Liverpool akan kembali fokus dalam upaya memecahkan rekor 100 poin milik Manchester City dua musim lalu.

Titel juara Liga Primer tak ubahnya bagai Cawan Suci bagi Liverpool, tapi apa target berikutnya?

Mungkin bukan trofi Liga Champions. Selama 30 tahun terakhir, Liverpool sudah dua kali merebut Si Kuping Lebar (2005 dan 2019). Itu membuat Liverpool menjadi klub Inggris tersukses dengan enam gelar di ajang kompetisi paling bergengsi di Eropa. Ditambah lagi gelar juara Piala UEFA 2001 dan tiga Piala Super (2001, 2015, dan 2019), kejayaan Eropa bukanlah godaan terbesar The Reds.

Sebelum pertandingan melawan Crystal Palace, Klopp menepis pendapat media tentang kemungkinan Liverpool mendominasi liga selama bertahun-tahun lamanya. Seperti yang pernah dilakukan Sir Alex Ferguson bersama Manchester United dengan total 13 gelar juara dalam rentang waktu 1993 hingga 2013.

Menariknya, ucapan Klopp dibantah mantan penyerang Manchester United, Wayne Rooney. “Skuad Liverpool masih muda dan semua pemain kunci mereka terikat kontrak jangka panjang. Mereka berpotensi besar memenangi lebih banyak gelar,” ujarnya. “Sederhana saja buat Liverpool, biarkan Klopp terus berjalan dan berjalan.”

“United bisa mendominasi karena Fergie bertahan begitu lama. Saya rasa jika pelatih berusia 53 tahun seperti Klopp bertahan sepuluh tahun lagi di Liverpool, setidaknya Liverpool bisa lima kali lagi memenangi Liga Primer.”

Jika ingin mendulang sukses berjangka panjang, Klopp mesti meniru managerial skill seperti Sir Alex. Bukan taktik yang membawa Sir Alex berhasil menjuarai begitu banyak gelar selama kiprahnya di United, melainkan lebih pada kemampuannya mengelola personel tim. Man management Sir Alex memang tiada bandingannya di dunia sepakbola. 

Secara kharisma, seperti halnya Sir Alex, Klopp memiliki kedekatan dengan pemain dan mampu memotivasi mereka. Namun, Klopp ditantang mampu mengambil keputusan sulit dengan membuang pemain yang tidak berpenampilan bagus. Keputusan sulit Klopp juga harus diberikan dukungan dari dewan direksi. Klopp mungkin tidak seleluasa Sir Alex karena tidak diuntungkan kebijakan finansial Liverpool yang sangat memerhatikan keseimbangan neraca pemasukan dan pengeluaran. Ini sudah berdampak pada lepasnya incaran Klopp, Timo Werner, ke Chelsea.

Menjaga nyala bara api Liverpool akan menuntut banyak pengorbanan. Selama Klopp merasa bahagia dan memberikan kebahagiaan kepada Liverpool, tampaknya ucapan Rooney tidak hanya sekadar pujian. Melainkan nubuat berikutnya buat Klopp.

Ajax vs Getafe – Apa yang Salah dengan Ajax?

View this post on Instagram

Sorry football fans…⚽️💔 #UEL #ajaget

A post shared by AFC Ajax (@afcajax) on

Sesaat setelah peluit panjang pertandingan berbunyi, akun resmi Ajax Amsterdam mengangkat posting ke media sosial. “Kami tersingkir,” sambil menampilkan skor akhir: 2-1 untuk kemenangan De Godenzonen. Mereka tersingkir dari babak 32 besar Liga Europa karena Getafe unggul agregat 3-2. “Maafkan kami para penggemar sepakbola,” bunyi posting lanjutan.

Sebagai semi-finalis Liga Champions musim lalu, sebenarnya Ajax menjadi salah satu tim unggulan di Liga Europa 2019/20. Bahkan sejatinya banyak orang (termasuk saya) yang menunggu apakah Ajax mampu menyamai pencapaian musim lalu. Mungkin terlalu gila berharap mereka melampauinya, apalagi setelah kepindahan Matthijs de Ligt, Frenkie de Jong, dan Lasse Schone.

Namun, tidak bisa dimungkiri, kehilangan De Ligt dan De Jong sangat terasa pengaruhnya terhadap performa tim. Meski pun Edwin van der Sar dan Marc Overmars sanggup mempertahankan Hakim Ziyech, David Neres, Donny van de Beek, hingga Andre Onana serta mendatangkan calon bintang baru seperti Lisandro Martinez, Edson Alvarez, hingga Razvan Marin; tetap tidak bisa menggantikan keberanian De Ligt dan kreativitas De Jong.

AMSTERDAM, NETHERLANDS – FEBRUARY 27: (L-R) Dakonam Djene of Getafe, Dusan Tadic of Ajax during the UEFA Europa League match between Ajax v Getafe at the Johan Cruijff Arena on February 27, 2020 in Amsterdam Netherlands (Photo by Rico Brouwer/Soccrates/Getty Images)

November lalu, Ajax gagal di fase grup Liga Champions setelah dikalahkan Valencia 1-0. Di kandang sendiri. Padahal bermain di Johan Cruijff ArenA. Padahal jika dibandingkan tim peringkat ketiga grup lain, perolehan poin Ajax adalah yang terbanyak.

Undian Liga Europa mempertemukan mereka dengan Getafe. Tim kuda hitam LaLiga Spanyol yang membangun kekuatan di bawah kepelatihan Jose Bordalas. Klub asal kota Madrid itu tidak boleh diremehkan karena memiliki rekor pertahanan terbaik di kompetisi domestik serta sedang menatap sejarah baru dengan lolos ke Liga Champions musim depan.

Dalam dua pertemuan, Getafe tampil lebih baik. Mereka mencundangi Ajax 2-0 di Colisseum Alfonso Perez lalu mencuri gol cepat saat tandang di Johan Cruijff Arena. Situasi itu menyulitkan Ajax. Meski tuan rumah sukses balik membalas dua gol, tetapi Getafe menciptakan lebih banyak peluang. Tiga kali upaya mereka digagalkan tiang gawang. Ditambah hampir tujuh menit waktu tambahan babak kedua, Ajax tetap tak mampu menambah gol yang dibutuhkan guna menyelamatkan petualangan Eropa mereka.

Apa yang salah? Orang-orang akan dengan mudah menganggap kekalahan Ajax tidak bisa dihindarkan karena mereka melepas banyak pemain bintang. Saya selalu bingung masih ada saja yang menggunakan dalih ini. Melepas pemain bintang dan mendapatkan pemasukan transfer memang merupakan strategi bisnis Ajax — bukan karena terpaksa. Tentunya Van der Sar dan Overmars sudah memiliki strategi: kapan harus menahan pemain dan kapan melepasnya.

Betul, Ajax kehilangan De Ligt yang cepat, nekat, dan kuat saat menghadang serbuan lawan. Komposisi bek yang dimiliki Ajax saat ini tidak ada yang segarang sang mantan kapten. Ajax butuh bek berkarakter seperti ini untuk sukses di Eropa — selain De Ligt, masih ingat Davinson Sanchez yang mengantar mereka ke final Liga Europa 2017?

Kehilangan De Jong mungkin yang paling terasa. Baru sekarang terasa andil besar De Jong dalam keberhasilan Ajax ke semi-final Liga Champions musim lalu. De Jong menjadi fokus permainan tim. Kemampuannya menahan bola, mendistribusikan, dan bergerak vertikal mempermudah Ziyech dan Dusan Tadic berkreasi di area pertahanan lawan. Musim ini, Ziyech lebih sering turun ke belakang dan fans tak tahu ke mana Tadic berada selama 90 menit pertandingan.

Kini, Ajax tinggal mencari gengsi domestik di liga dan piala. Ziyech sudah dipastikan hijrah ke Chelsea musim panas mendatang, sedangkan Van de Beek dikaitkan dengan sejumlah klub tenar Eropa. Ketika Van der Sar dan Overmars mencari pengganti, sebaiknya mereka harus meninjau ulang kebijakan mendatangkan pemain berpengalaman seperti Klaas-Jan Huntelaar atau Ryan Babel. Bukannya memberi tambahan energi saat terjun di Eropa, para pemain itu malah menjadi bintang redup di antara calon bintang muda Ajax yang siap bersinar.

J.League musim 2019 disiarkan di Indonesia

Pemirsa Indonesia kini dapat menyaksikan tiga pertandingan pilihan J.League setiap pekan melalui platform siaran streaming Rakuten Sports.

Ini merupakan bagian dari inisiatif J.League untuk menjangkau pasar Asia Tenggara. Bermitra dengan Lagardere Sports, Rakuten Sports akan menayangkan sisa pertandingan musim 2019 ke 140 negara, termasuk delapan negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Filipina.

Tiga pertandingan setiap pekan dapat dinikmati pemirsa sepakbola tanah air setelah melakukan registrasi ke Rakuten Sports yang dapat dilakukan dengan menggunakan akses Facebook maupun Google.

Tiga pertandingan yang dapat dinikmati pekan ini adalah:

Jumat, 14 Juni | 16:00 WIB | Kawasaki Frontale vs Consadole Sapporo
Sabtu, 15 Juni | 16:00 WIB | FC Tokyo vs Vissel Kobe
Minggu, 16 Juni | 16:00 WIB | Oita Trinita vs Nagoya Grampus

Setelah China memberlakukan pajak pendapatan yang sangat tinggi untuk memproteksi perkembangan pemain muda negara mereka, J.League kembali menjadi liga Asia yang paling bergengsi. Bintang veteran seperti Fernando Torres, David Villa, Lukas Podolski, dan Andres Iniesta memilih untuk berkompetisi di sana. Kehadiran para bintang ini diharapkan mendongkrak popularitas J.League.

Bagaimana popularitas J.League di Indonesia? Fans di Indonesia mengetahui hubungan masa lalu J.League dengan liga Indonesia, tetapi tidak banyak mengikuti perkembangan terkini. Tidak banyak pemain J.League yang dikenal fans Indonesia selain nama-nama para legenda antara lain seperti Kazuyoshi Miura, Ryu Ramos, dan Yasuhito Endo, misalnya.

Belakangan muncul nama baru seperti Takefusa Kubo, yang dijuluki Messi-nya Jepang, tetapi praktis hanya itu yang dikenal fans sepakbola Indonesia.

Padahal, J.League membuka slot khusus bagi pemain Asia di luar kuota pemain asing yang dimiliki setiap klub. Slot khusus ini dimanfaatkan sejumlah klub, baik dari aspek sepakbola maupun komersil. Teerasil Dangda, Teerathon Bunmathan, dan Chanathip Songkrasin menjadi tiga pemain Thailand yang bergabung ke klub Jepang — disusul belakangan oleh Thitipan Puangchan.

Kiprah Songkrasin bahkan menuai pujian, dinilai tak ubahnya seperti Kapten Tsubasa. Pemain yang akrab disapa “Messi Jay” itu bahkan masuk ke dalam susunan tim terbaik J.League musim 2018. Prestasi yang berbanding lurus dengan peningkatan nilai komersil J.League di Thailand.

Songkrasin menjadi primadona. Video latihan pertamanya bersama Consadole menuai 3 juta view. Melebihi populasi kota Sapporo, tempat Consadole bermarkas. Televisi Thailand pun tertarik menayangkan langsung J.League. Hasilnya, pertandingan Consadole melawan Kawasaki Frontale pada 2017 mendulang lebih dari 400.000 pemirsa. Jumlah itu bahkan mengalahkan jumlah pemirsa pertandingan Buriram United.

“Kami tidak hanya ingin menarik minat pemirsa Asia, tetapi juga seluruh dunia. Dengan pemain seperti Chanathip rasanya kami berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan hal itu.”

Mitsuru Murai, chairman J.League, dilansir APNews.

Potensi lebih besar tentu saja ada di Indonesia. Sebagai gambaran besarnya minat audiens Indonesia terhadap sepakbola, pertandingan Liga 1 2018 paling laris adalah Persib Bandung vs Persija Jakarta yang sanggup “mendatangkan” 2,6 juta penonton siaran streaming. Jumlah ini enam kali lipat(!) dari pemirsa siaran terlaris liga Thailand.

Hal itu bukannya tidak disadari petinggi J.League. Dalam berbagai kesempatan, J.League selalu berjuang merangkul pasar Indonesia mulai dari memainkan pertandingan eksebisi (FC Tokyo vs Bhayangkara FC awal 2018) hingga melakukan kerja sama kemitraan dengan PSSI maupun klub Liga 1. Namun, tingkat awareness J.League belum juga meningkat.

Pasalnya, tidak ada pemain Indonesia yang berkiprah di J.League. Seperti Songkrasin dkk, kehadiran pemain tentu dapat mendongkrak minat fans untuk menyaksikan J.League. Sejak Irfan Bachdim bergabung ke Bali United awal 2017, praktis fans tanah air mengabaikan J.League sama sekali. Pemain Indonesia lain yang pernah bertualang di Jepang adalah Stefano Lilipaly.

Diam-diam J.League sedang menggali kemungkinan mengajak bergabung sejumlah pemain muda Indonesia.

Berdasarkan sejumlah informasi yang penulis kumpulkan dari beberapa sumber, klub-klub Jepang tidak pernah menutup kemungkinan untuk mendatangkan pemain Indonesia.

Bisa dibilang, setiap tahun mereka menyusun daftar keinginan yang berisi tiga hingga lima nama pemain muda potensial Indonesia.

Namun, apakah pemain yang dilirik itu bersedia main di Jepang? Apakah mereka memiliki kemauan yang cukup untuk merantau ke sana? Itu pembahasan lain yang dapat dibicarakan dalam tulisan terpisah.

Mengevaluasi penting tidaknya UEFA Nations League

 Embed from Getty Images

Narasinya bisa saja berubah total. Seandainya ujung kaki Jesse Lingard tidak melampaui Denzel Dumfries, mungkin saja ajang UEFA Nations League dipuja-puji oleh media Inggris sebagai ajang inovatif yang menambah bobot laga uji coba internasional. Mungkin saja Inggris berjaya di final dan lantas siapa tahu muncul ide menyematkan satu bintang lagi bersanding dengan bintang juara dunia mereka. Mungkin saja…

Jadi, seberapa penting kah ajang Nations League ini? Inggris menjawabnya dengan 240 menit penuh bonus babak adu penalti dan hanya mencetak satu gol — itupun melalui eksekusi penalti. Hampir sama persis dengan Swiss. Belanda menjawabnya dengan sebuah kenyarisan yang lagi-lagi membuahkan keniscayaan: buat mereka tangga tertinggi hanyalah runner-up — meski ajangnya “sekadar” turnamen uji coba internasional.

Portugal tidak ambil pusing. Mereka tuan rumah dan berhasil menjadi juara. Lihat senyum ganjil Cristiano Ronaldo saat membopong trofi juara. Gelar ini mungkin tidak penting, tapi penting-penting saja karena menjamin nilai dagang dan kebanggaan negara. Apalagi 15 tahun lalu Portugal pernah menangis pilu setelah dikandaskan Yunani di final Euro di depan publik sendiri.

Ajang ini dipandang UEFA sebagai ajang revolusioner. Tidak ada lagi ajang uji coba main-main yang biasanya mengundang protes klub-klub besar setelah para pemain pulang dengan kondisi cedera. Dengan memasukkannya ke kalender resmi, bobot pertandingan pun bertambah sehingga tim peserta bisa berlomba-lomba meningkatkan poin peringkat FIFA mereka.

Bahkan, format ini sedang dipertimbangkan CONCACAF untuk meningkatkan gairah kompetisi asosiasi anggota mereka. AFC kabarnya sempat tertarik, tapi saya ragu setelah melihat begitu luasnya ruang geografis yang harus diliput kompetisi ini. Untuk saat ini, turnamen regional masih menjadi solusi terbaik untuk negara-negara Asia.

Embed from Getty Images

Dari empat pertandingan yang terselenggara, tercipta sembilan gol. Tapi adakah inovasi berarti? Karena hanya diikuti empat tim peserta, tidak banyak variasi taktik yang terjadi. Swiss sempat mengejutkan dengan distribusi bola mereka yang mencengangkan ketika menghadapi Portugal. Tetapi, kapasitas mereka sebatas mengejutkan. Mereka mentok di sepertiga akhir lapangan dan akhirnya lengah sehingga kecolongan gol-gol Cristiano Ronaldo pada pengujung pertandingan. Penampilan Swiss tidak terulang saat menghadapi Inggris di laga perebutan tempat ketiga.

Inggris terpaksa menghadiri pertandingan ini setelah dikalahkan Belanda. Sejatinya pertandingan berakhir 1-1 di waktu normal. Seperti yang dijelaskan di awal, Lingard berhasil membobol gawang Jasper Cillessen pada menit ke-84. Tapi, wasit Clement Turpin yang senantiasa tampil tenang sepanjang laga lantas menganulirnya karena off-side.

Jika Lingard tidak bergerak lebih cepat sepersekian detik saja, narasi berikutnya tidak akan terjadi. Dua kali pemain Inggris lalai dalam membangun serangan dari bawah. Akibatnya, Memphis Depay berhasil menginisiasi dua gol tambahan Belanda di babak perpanjangan waktu. John Stones dan Ross Barkley menjadi pesakitan. Tidak hanya itu, muncul kesangsian apakah Gareth Southgate masih harus mempertahankan taktik build-up play dari belakang.

Embed from Getty Images

Belanda pun lolos ke final menantang tuan rumah Portugal, tim yang paling sulit mereka tundukkan sepanjang sejarah. Oranje pernah menang 3-0 pada laga uji coba di Swiss tahun lalu persis ketika pelatih Ronald Koeman untuk kali terakhir menerapkan formasi 3-5-2. Setelah laga itu, Koeman memakai formasi empat bek dan hasilnya tokcer. Dua juara dunia, Prancis dan Jerman, mampu mereka langkahi untuk melangkah ke final four Nations League.

Namun, rupanya Koeman masih meraba bentuk terbaik timnya. Sang pelatih memakai starting XI yang sama persis di laga puncak. Padahal, sebagian besar pemain baru saja tampil 120 menit dua hari sebelumnya. Tuan rumah Portugal diuntungkan. Selain dukungan publik sendiri, mereka juga hanya bermain 90 menit plus waktu istirahat lebih panjang.

Sungguh disayangkan, di luar jadwal yang padat, empat tim peserta terlihat tidak tampil pada performa puncaknya. Kompetisi Eropa rata-rata sudah selesai tiga pekan sebelumnya. Biasanya sebelum terjun ke turnamen sebesar Euro atau Piala Dunia, tim-tim akan menjalani conditioning plus pertandingan uji coba selama dua pekan.

Embed from Getty Images

Empat tim itu mungkin tidak banyak ambil pusing. Final four Nations League tak ubahnya seperti bonus. Ketika tim-tim lain bertarung memperebutkan tiket ke Euro 2020, posisi mereka sudah terjamin di babak play-off — jika gagal lolos otomatis. Namun, UEFA belum memastikan akan menggelar Nations League sekaligus kualifikasi Piala Dunia 2022 selepas Euro mendatang.

Gol Goncalo Guedes akhirnya membuahkan kemenangan buat Portugal. Gelar juara Nations League melengkapi gelar juara Eropa yang mereka raih tiga tahun silam. Gelar juara ke-31 sepanjang karier profesional Cristiano Ronaldo. Gelar juara yang dirayakan dengan penuh suka cita oleh masyarakat Portugal.

Narasinya bisa saja berubah. Seandainya Swiss sukses mencuri gol di semi-final atau seandainya wasit Alberto Undiano Mallenco* tidak malas meninjau VAR, mungkin saja Nations League sudah luput dari perhatian banyak orang hari ini.

*Wasit senior asal Spanyol yang mengakhiri karier perwasitan pada laga final Nations League