Review Semi-Final Euro 2020: Ganjaran Permainan Positif Inggris yang Menyesakkan Bagi Denmark

Satu gol bunuh diri dan penalti kontroversial mewarnai kemenangan Inggris atas Denmark di semi-final Euro 2020.

Ringkasan Pertandingan

Inggris berhasil melaju ke final sebuah turnamen besar untuk kali pertama dalam 55 tahun setelah menundukkan perlawanan gigih Denmark 2-1 di semi-final Euro 2020 di Wembley. Gol tendangan bebas Mikkel Damsgaard sempat membungkam penonton tuan rumah, tetapi Inggris menyamakan kedudukan berkat gol bunuh diri kapten lawan, Simon Kjaer. Kemenangan akhirnya ditentukan Harry Kane saat perpanjangan waktu.

Permainan yang Seimbang

Secara umum, ini adalah permainan yang seimbang di antara dua tim yang sama-sama mengandalkan sektor sayap untuk menciptakan peluang di dalam kotak penalti, memainkan tiga penyerang, dan dua gelandang bertahan sebagai pivot.

Inggris tidak melakukan strategi mirroring seperti saat melawan Jerman. Gareth Southgate mempertahankan formasi 4-2-3-1 dengan satu perubahan line up dari pertandingan perempat-final melawan Ukraina. Bukayo Saka pulih dari cedera dan menjadi pemain inti menggeser Jadon Sancho. Saka dimainkan sebagai sayap kanan mendampingi Harry Kane dan Raheem Sterling.

Sementara, Denmark tidak melakukan perubahan line up sama sekali dari pertandingan melawan Republik Ceko dan Kasper Hjulmand tetap memasang formasi 3-4-3. Jika Inggris memainkan lima dari enam pertandingan yang sudah dijalani di London, Denmark harus berpindah-pindah. Tiga laga fase grup dimainkan di Kopenhagen, lalu mereka bertolak ke Amsterdan untuk babak 16 besar dan kemudian Baku untuk perempat-final. Total perjalanan yang ditempuh Denmark adalah 9.631 km — sedangkan Inggris hanya 2.296 km.

Jarak tempuh itu bukan alasan yang bagus untuk diangkat di dalam artikel yang bertujuan membahas pendekatan taktik kedua tim, tapi mau tidak mau mempengaruhi kebugaran para pemain Denmark. Hjulmand harus mengganti Janik Vestergaard, Andreas Christensen, dan Thomas Delaney karena cedera otot. Praktis Denmark berjuang sekuat tenaga untuk tidak kebobolan banyak menghadapi Inggris yang didukung seisi stadion.

“Saya yakin kami akan meraih hasil positif, tapi saya juga sadar akan mengadapi pertempuran yang berbeda dari biasanya. Denmark tidak banyak diperhitungkan secara tim, padahal mereka sangat merepotkan kami.”

Gareth Southgate, usai pertandingan

Southgate Menolak “Bercermin”

Berbeda dengan laga melawan Jerman, Southgate tidak melakukan mirroring taktik sama sekali. Pilihan ini mungkin bisa dipertanyakan sampai mereka menyamakan kedudukan. Dalam formasi 4-2-3-1 melawan 3-4-3, Inggris kalah jumlah pemain di mana-mana. Saat menyerang, mencoba merangsek lewat sayap, dan saat mengadang serbuan Denmark. Peluang bersih sulit dilakukan, begitu pun juga dengan ruang untuk melepas tembakan. Satu-satunya harapan Inggris adalah lewat pergerakan Raheem Sterling, yang condong memotong jalur (cut inside), atau melalui set piece. Posisi yang ditinggalkan Sterling biasanya ditutup oleh Mason Mount.

Sementara, taktik Denmark adalah jalur langsung ke depan karena mereka pun sulit bergerak melalui sayap karena double cover yang dilakukan pemain Inggris. Joakim Maehle harus berhadapan dengan Saka, dan setelahnya Kyle Walker; sedangkan Jens Styger Larsen diadang Sterling atau Mason Mount serta Luke Shaw. Peluang Denmark didapat oleh keterampilan Kasper Dolberg memutar badan sehingga dapat menciptakan ruang dan waktu. Kebolehan itu membuat Mikkel Damsgaard atau Larsen bisa mengincar sisi buta para bek Inggris.

Adu Set Piece

Adu kebolehan set piece juga menjadi kunci pada pertandingan ini. Bukan rahasia lagi kalau baik Inggris maupun Denmark punya menu khusus situasi bola mati dalam sesi latihan masing-masing. Denmark mencetak gol melalui tendangan penjuru ketika mengalahkan Republik Ceko, sedangkan Inggris mengobrak-abrik pertahanan Ukraina dengan menciptakan dua gol melalui skema ini.

Peluang set piece yang didapat kedua tim berimbang. Masing-masing juga terhitung sukses menjaga pertahanan sehingga tidak kebobolan dari tendangan penjuru. Bedanya, menjelang setengah jam pertandingan, Shaw menahan badan Christensen. Peluang tendangan bebas dari jarak 30 meter dimanfaatkan dengan baik oleh Damsgaard. Ini merupakan gol tendangan bebas langsung pertama pada turnamen sekaligus gol pertama yang bersarang di gawang Jordan Pickford.

Positioning Harry Kane

Untuk kali pertama tertinggal sejak turnamen ini digelar, barangkali Southgate berpikiran untuk kembali menerapkan mirroring. Mungkin di babak kedua. Tapi, sang pelatih rupanya teguh dengan rencana awal. Pemain depan Inggris diminta turun membantu lini kedua untuk menciptakan ruang. Kita sudah sering menyaksikan Harry Kane yang kerap turun hingga ke tengah sejak pertandingan pertama Inggris. Pada pertandingan ini, strategi itu membuahkan hasil.

Upaya Kane menjemput bola ke tengah diakhiri umpan terobosan yang memecah kerapatan pertahanan Denmark. Saka berlari merangsek, lalu melepaskan umpan silang mendatar. Kjaer bukannya tidak mencium bahaya ini, tapi upayanya mencegah umpan itu disambar Sterling malah membuat bola bersarang di dalam gawang sendiri. Inggris berhasil menyamakan kedudukan setelah sembilan menit. Mungkin gol ini berbau kemujuran, tapi tercipta berkat konsistensi taktik Southgate dan positioning Kane.

Titik Momentum Inggris

Sebelum sampai pada keputusan wasit Danny Makkelie memberikan penalti pada babak pertama perpanjangan waktu, penting dibahas juga beberapa pergantian pemain yang dilakukan kedua tim.

Hjulmand melakukan pergantian tiga pemain sekaligus pada menit ke-67. Damsgaard, Dolberg, dan Larsen digantikan dengan Youssouf Poulsen, Christian Norgaard, dan Daniel Wass. Ini membuat Denmark beralih ke formasi 3-5-2, tetapi berdampak besar. Menarik keluar Dolberg sama saja dengan menghilangkan sumber kreativitas di lini depan. Poulsen dan Braithwaite praktis hanya bisa berlari dan berlari, tanpa dapat menahan bola atau mengarahkan serangan tim.

Southgate mengganti Saka dengan Jack Grealish, yang langsung diposisikan ke sayap kiri. Sektor itu menjadi lebih berbahaya sejak masuknya Grealish dan Shaw lebih rajin untuk masuk dari lini kedua. Sementara, Sterling digeser ke kanan. Pada akhirnya, switching sayap ini berujung akselarasi Sterling yang “dihentikan” Maehle. Makkelie menghitungnya sebagai pelanggaran. Eksekusi penalti Kane dihentikan Kasper Schmeichel, tapi bola muntah kembali disambar sang kapten.

Kontroversial? Iya. Bukan pelanggaran? Sangat mungkin. Tapi, keputusan wasit mutlak. Inggris pun melaju ke final Euro untuk kali pertama dalam sejarah.

“Kalah memang hal yang biasa dalam pertandingan, tapi kalah seperti ini sungguh mengecewakan. Para pemain sudah berjuang sekuat tenaga. Benar-benar menyakitkan.”

Kasper Hjulmand, usai pertandingan

Penutup

Pergantian tiga pemain tadi menjadi keputusan krusial bagi Hjulmand karena Denmark tak mampu memberikan solusi untuk kreasi peluang. Bahkan jatah pergantian tersisa terpaksa digunakan Hjulmand karena Vestergaard dan Christensen tidak dapat melanjutkan pertandingan karena masalah otot. Tak mampu merusak ritme lawan, Denmark seperti berharap pertandingan diselesaikan lewat adu penalti. Mereka bertahan dengan tujuh pemain berdiri di belakang bola.

Inggris mendapatkan momentum sejak menit 67 dan mempertahankan permainan positif meski pertandingan berlanjut hingga 120 menit. Ketenangan Walker, Harry Maguire, dan John Stones di lini belakang harus diacungi jempol. Bisa dibilang mereka tidak pernah membuat keputusan salah sepanjang pertandingan.

Pertandingan ini bukan lah suguhan taktik yang spektakuler atau tontonan permainan terbuka dengan banyak gol. Ditambah hasil semi-final Italia vs Spanyol sehari sebelumnya, pertandingan ini membuktikan anggapan bahwa sebuah turnamen akan memiliki wajah yang berbeda begitu menginjak fase gugur. Sepakbola atraktif atau bahkan filosofi bisa dipinggirkan dulu karena yang lebih utama adalah hasil.

Skenario Lolos Grup D Euro 2020

Mau keluar Grup D Euro 2020 dari jalur mana saja, Inggris siap-siap bertemu lawan berat di babak 16 besar!

Poin sama, bagaimana menentukan peringkat akhir?

Tentu saja pemeringkatan grup berdasarkan perolehan poin terbanyak. Kemenangan diganjar tiga poin, sedangkan hasil imbang hanya satu poin. Kalah, tidak mendapat poin sama sekali.

Namun, jika terdapat dua atau lebih tim yang memperoleh poin sama, hasil head-to-head digunakan sebagai penentu peringkat akhir. Menurut manual pertandingan UEFA, berikut cara menentukan peringkat akhir (tie-breaker):

  • Jumlah poin yang diperoleh hasil pertandingan di antara tim tersebut;
  • Selisih gol hasil pertandingan di antara tim tersebut;
  • Jumlah gol yang dicetak pada pertandingan di antara tim tersebut;Jika masih ada tim dengan posisi yang seimbang, tiga kriteria di atas dipakai lagi khusus untuk tim-tim dengan poin yang sama. Jika tetap sama, kriteria berikut berlaku;
  • Selisih gol total dari seluruh pertandingan grup;
  • Jumlah gol yang dicetak dari seluruh pertandingan grup;
  • Jumlah kemenangan dari seluruh pertandingan grup;
  • Poin kedisiplinan dari seluruh pertandingan grup, kartu kuning dihitung satu poin dan kartu merah (termasuk dua kartu kuning dalam satu laga) tiga poin;
  • Posisi dalam peringkat kualifikasi Euro.

Klasemen sementara Grup D

Jadwal pertandingan Grup D

Ceko vs Inggris

Kroasia vs Skotlandia

Rabu, 23 Juni 2021. Kick-off 02:00 WIB

Cek jadwal pertandingan dan link nonton Euro 2020 di Mola TV

Siapa yang bakal lolos?

Skenario lolos Grup D

Mengevaluasi penting tidaknya UEFA Nations League

 Embed from Getty Images

Narasinya bisa saja berubah total. Seandainya ujung kaki Jesse Lingard tidak melampaui Denzel Dumfries, mungkin saja ajang UEFA Nations League dipuja-puji oleh media Inggris sebagai ajang inovatif yang menambah bobot laga uji coba internasional. Mungkin saja Inggris berjaya di final dan lantas siapa tahu muncul ide menyematkan satu bintang lagi bersanding dengan bintang juara dunia mereka. Mungkin saja…

Jadi, seberapa penting kah ajang Nations League ini? Inggris menjawabnya dengan 240 menit penuh bonus babak adu penalti dan hanya mencetak satu gol — itupun melalui eksekusi penalti. Hampir sama persis dengan Swiss. Belanda menjawabnya dengan sebuah kenyarisan yang lagi-lagi membuahkan keniscayaan: buat mereka tangga tertinggi hanyalah runner-up — meski ajangnya “sekadar” turnamen uji coba internasional.

Portugal tidak ambil pusing. Mereka tuan rumah dan berhasil menjadi juara. Lihat senyum ganjil Cristiano Ronaldo saat membopong trofi juara. Gelar ini mungkin tidak penting, tapi penting-penting saja karena menjamin nilai dagang dan kebanggaan negara. Apalagi 15 tahun lalu Portugal pernah menangis pilu setelah dikandaskan Yunani di final Euro di depan publik sendiri.

Ajang ini dipandang UEFA sebagai ajang revolusioner. Tidak ada lagi ajang uji coba main-main yang biasanya mengundang protes klub-klub besar setelah para pemain pulang dengan kondisi cedera. Dengan memasukkannya ke kalender resmi, bobot pertandingan pun bertambah sehingga tim peserta bisa berlomba-lomba meningkatkan poin peringkat FIFA mereka.

Bahkan, format ini sedang dipertimbangkan CONCACAF untuk meningkatkan gairah kompetisi asosiasi anggota mereka. AFC kabarnya sempat tertarik, tapi saya ragu setelah melihat begitu luasnya ruang geografis yang harus diliput kompetisi ini. Untuk saat ini, turnamen regional masih menjadi solusi terbaik untuk negara-negara Asia.

Embed from Getty Images

Dari empat pertandingan yang terselenggara, tercipta sembilan gol. Tapi adakah inovasi berarti? Karena hanya diikuti empat tim peserta, tidak banyak variasi taktik yang terjadi. Swiss sempat mengejutkan dengan distribusi bola mereka yang mencengangkan ketika menghadapi Portugal. Tetapi, kapasitas mereka sebatas mengejutkan. Mereka mentok di sepertiga akhir lapangan dan akhirnya lengah sehingga kecolongan gol-gol Cristiano Ronaldo pada pengujung pertandingan. Penampilan Swiss tidak terulang saat menghadapi Inggris di laga perebutan tempat ketiga.

Inggris terpaksa menghadiri pertandingan ini setelah dikalahkan Belanda. Sejatinya pertandingan berakhir 1-1 di waktu normal. Seperti yang dijelaskan di awal, Lingard berhasil membobol gawang Jasper Cillessen pada menit ke-84. Tapi, wasit Clement Turpin yang senantiasa tampil tenang sepanjang laga lantas menganulirnya karena off-side.

Jika Lingard tidak bergerak lebih cepat sepersekian detik saja, narasi berikutnya tidak akan terjadi. Dua kali pemain Inggris lalai dalam membangun serangan dari bawah. Akibatnya, Memphis Depay berhasil menginisiasi dua gol tambahan Belanda di babak perpanjangan waktu. John Stones dan Ross Barkley menjadi pesakitan. Tidak hanya itu, muncul kesangsian apakah Gareth Southgate masih harus mempertahankan taktik build-up play dari belakang.

Embed from Getty Images

Belanda pun lolos ke final menantang tuan rumah Portugal, tim yang paling sulit mereka tundukkan sepanjang sejarah. Oranje pernah menang 3-0 pada laga uji coba di Swiss tahun lalu persis ketika pelatih Ronald Koeman untuk kali terakhir menerapkan formasi 3-5-2. Setelah laga itu, Koeman memakai formasi empat bek dan hasilnya tokcer. Dua juara dunia, Prancis dan Jerman, mampu mereka langkahi untuk melangkah ke final four Nations League.

Namun, rupanya Koeman masih meraba bentuk terbaik timnya. Sang pelatih memakai starting XI yang sama persis di laga puncak. Padahal, sebagian besar pemain baru saja tampil 120 menit dua hari sebelumnya. Tuan rumah Portugal diuntungkan. Selain dukungan publik sendiri, mereka juga hanya bermain 90 menit plus waktu istirahat lebih panjang.

Sungguh disayangkan, di luar jadwal yang padat, empat tim peserta terlihat tidak tampil pada performa puncaknya. Kompetisi Eropa rata-rata sudah selesai tiga pekan sebelumnya. Biasanya sebelum terjun ke turnamen sebesar Euro atau Piala Dunia, tim-tim akan menjalani conditioning plus pertandingan uji coba selama dua pekan.

Embed from Getty Images

Empat tim itu mungkin tidak banyak ambil pusing. Final four Nations League tak ubahnya seperti bonus. Ketika tim-tim lain bertarung memperebutkan tiket ke Euro 2020, posisi mereka sudah terjamin di babak play-off — jika gagal lolos otomatis. Namun, UEFA belum memastikan akan menggelar Nations League sekaligus kualifikasi Piala Dunia 2022 selepas Euro mendatang.

Gol Goncalo Guedes akhirnya membuahkan kemenangan buat Portugal. Gelar juara Nations League melengkapi gelar juara Eropa yang mereka raih tiga tahun silam. Gelar juara ke-31 sepanjang karier profesional Cristiano Ronaldo. Gelar juara yang dirayakan dengan penuh suka cita oleh masyarakat Portugal.

Narasinya bisa saja berubah. Seandainya Swiss sukses mencuri gol di semi-final atau seandainya wasit Alberto Undiano Mallenco* tidak malas meninjau VAR, mungkin saja Nations League sudah luput dari perhatian banyak orang hari ini.

*Wasit senior asal Spanyol yang mengakhiri karier perwasitan pada laga final Nations League