Tantangan & Kesempatan Kenormalan Baru Sepakbola Indonesia

Ini skenario ideal sepakbola Indonesia menyambut awal dasawarsa baru 2020-an dengan asumsi super-ideal, yakni penerapan dan pemberlakuan kenormalan baru yang konsisten.

Paradoks sepakbola dan politik

Pandemi membuktikan sebuah paradoks. Sepakbola Indonesia masih menjadi alat politik yang diandalkan, tapi ironisnya kebijakan politik tidak bisa menjadi fundamental yang kokoh bagi pengembangan sepakbola. Namun, sepakbola dan politik tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hal yang perlu dilakukan adalah pemisahan kepentingan antara kedua unsur tersebut.

Pentingnya “good governance”

Dari poin di atas, pandemi bisa memberikan kesempatan bagi sepakbola Indonesia untuk berpikir ulang tentang pentingnya melakukan “good governance”. Mulai dari level teratas seperti federasi hingga terbawah seperti grassroots.

Harmoni klub dan otoritas

Dari poin pertama, government relations atau juga relasi dengan otoritas (seperti misalnya Kepolisian RI selaku pemberi izin keamanan) masih sangat vital di luar pentingnya pemasukan kas klub melalui tiket pertandingan dan hak siar. Bagaimana caranya menciptakan jembatan harapan antara klub dan otoritas?

Kembali ke bakat lokal

Pandemi juga memaksa pembatasan perjalanan dari satu negara ke negara lain. Transfer internasional bukan hal yang mustahil, tapi sang pemain harus melengkapi sejumlah persyaratan seperti menjalani tes usap serta karantina sebelum dapat bergabung ke sebuah klub baru. Keterbatasan ini menciptakan peluang bagi pasar transfer liga Indonesia untuk memunculkan lebih banyak pemain berbakat lokal di dalam kompetisi.

Format kompetisi

Pembatasan perjalanan juga dapat mengembalikan format kompetisi tier tertinggi menjadi ke dua atau banyak wilayah. Banyak kota antarpulau mesti dijangkau dengan transportasi udara, yang lagi-lagi menerapkan pula sejumlah persyaratan perjalanan. Penerapan format kompetisi regional ini dapat memberikan peluang untuk mengokohkan kompetisi divisi bawah sebagai fundamental sepakbola nasional.

“Coaching courses”

Periode tanpa sepakbola mendorong sejumlah para pemain yang masih aktif untuk mengambil kursus kepelatihan. Ini semacam berkah tersembunyi karena Indonesia masih kekurangan pelatih sepakbola. Mudah-mudahan makin banyak coaching courses yang diselenggarakan semasa penerapan kenormalan baru.

Berpikir ulang tentang stadion

Ini aspek penting bagi pemasukan klub. Kenormalan baru dapat menjadi momentum untuk menciptakan stadion sebagai tempat yang ramah bagi para penonton untuk menikmati pertandingan dengan aman dan nyaman. Pendeknya, diperlukan perencanaan mitigasi yang baik supaya ke depannya tidak perlu ada korban jiwa yang jatuh di dalam maupun sekitar stadion.

Alokasi anggaran Piala Dunia U-20 2021

Malam Natal lalu, FIFA mengumumkan pembatalan penyelenggaraan Piala Dunia U-20 2021. Meski demikian, FIFA tetap memberikan kesempatan bagi Indonesia menjadi tuan rumah turnamen dua tahun berikutnya. Anggaran Pemerintah, yang memang menjadikan Piala Dunia U-20 sebagai program mercusuar, telah terlanjur disetujui dan digunakan untuk persiapan tim. Seiring pembatalan, sisa anggaran akan kembali ke kas negara. Mungkin kah dana tersebut dapat dialokasikan lagi ke sejumlah sektor pembangunan olahraga seperti pembinaan atlet usia dini, coaching courses, atau mitigasi stadion? Tidak cuma untuk sepakbola, tapi olahraga tanah air secara keseluruhan. Rasanya itu lebih penting daripada mengucurkan seluruhnya untuk menyelenggarakan turnamen internasional salah satu cabang olahraga belaka. Mari menunggu kebijakan Pemerintah untuk hal ini.

Sepakbola Indonesia perlu VAR?

Embed from Getty Images

VAR atau tidak VAR. Inilah pertanyaan emas yang menghiasi sepakbola Indonesia beberapa kurun waktu terakhir. Terutama setelah Liga 1 Indonesia 2019 baru berjalan dua pekan saja. VAR dianggap mampu mengenyahkan kontroversi dalam sepakbola.

Sebagai informasi, kalau kebetulan kalian bukan penggemar sepakbola, VAR adalah kosa kata baru yang menyeruak masuk kamus si kulit bulat. VAR merupakan kependekan dari Video Assistant Referee (VAR). Seperti apa operasional VAR dalam sepakbola? Mungkin lebih baik lihat cuplikannya di sini.

Kemajuan teknologi mendorong sepakbola beradaptasi. Dalam sidang IFAB 2018, VAR mulai dipakai luas oleh kompetisi sepakbola berbagai negara. Panggung utamanya adalah Piala Dunia 2018 Rusia. Di final, VAR bahkan membantu Prancis mendapat penalti setelah wasit Nestor Pitana dibisiki bahwa Ivan Perisic melakukan handball di area terlarang.

Setelah pertandingan PSS Sleman vs Semen Padang yang kontroversial, raungan menggunakan VAR kembali bergaung di Indonesia. Bukankah VAR juga digunakan di liga Thailand? Kalau negara tetangga sudah menggunakan, kenapa Indonesia selalu ketinggalan? Kapan majunya sepakbola kita?

Apakah sudah saatnya sepakbola Indonesia menerapkan VAR? Mari menganalisisnya dengan tiga pertanyaan kunci: apakah sudah perlu, mampu, dan siap?

Perlu – Hampir tidak ada yang menyangsikan, VAR memang diperlukan jika melihat keadaan sepakbola tanah air kiwari. Wasit membuat kesalahan di sana-sini, kepercayaan publik rendah, apalagi setelah pecahnya skandal pengaturan skor pertandingan. Kalau seperti ini, teknologi VAR menjadi solusi.

Sepertinya komite eksekutif PSSI juga setuju, teknologi VAR bisa menjawab kebutuhan sepakbola Indonesia dan Liga 1 akan menerapkan VAR. Tapi, jangan senang dulu… Syarat dan ketentuan berlaku.

Embed from Getty Images

Mampu – Untuk memasang seperangkat teknologi VAR biayanya tidak lah murah. Tahun lalu, Serie A Brasil sempat mencetuskan gagasan penerapan VAR, tetapi begitu mengetahui biaya yang dibutuhkan memakan hingga US$6,2 juta (setara Rp89 miliar) semusim, klub-klub mundur teratur.

Sementara, A-League Australia merupakan kompetisi pertama di dunia yang menerapkan VAR dan setiap klub harus merogoh kocek sedalam AU$500 ribu (setara Rp4,9 miliar) untuk memasang teknologi itu di kandang masing-masing.

Apakah ada klub Indonesia yang mau mengeluarkan Rp5 miliar untuk memasang VAR? Tapi, kata Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, biaya VAR tidak semahal yang dibayangkan.

“Ternyata VAR murah, hanya 25 juta, tetapi akurasinya membuat tingkat kepercayaan semua pihak terhadap putusan wasit sangat tinggi, saatnya semua liga di Indonesia pakai VAR,” kata Imam.

Sumber: Indosport

Semangat nasionalisme Imam layak dipuji, apalagi memanfaatkan hasil teknologi negeri sendiri, tapi… Mari saya jelaskan pandangan saya dengan masuk ke aspek berikutnya.

Embed from Getty Images

Siap – Ini pertanyaan paling penting, apakah kita siap? Pada dasarnya, VAR hanya lah perangkat teknologi yang sifatnya membantu para wasit dalam mengambil keputusan. Jadi, VAR bukan lah keputusan itu sendiri. Pengambil keputusan tentang kejadian apa pun yang terjadi di atas lapangan tetap berada di tangan wasit.

Menurut saya, kualitas perwasitan yang semestinya menjadi sorotan utama dalam memperbaiki sepakbola tanah air. Memasang VAR tidak lantas menyelesaikan problem. Malah bisa jadi memperparah. Anggap saja Liga 1 telah menerapkan VAR di setiap pertandingan. Apa sudah menjadi jaminan tidak ada lagi protes yang berlebihan kepada wasit? Apalagi jika wasit itu tidak mau mengambil keputusan berdasarkan VAR? (Pada praktiknya, wasit berhak melakukan tinjauan VAR atau sebaliknya).

Kericuhan macam apa lagi yang akan terjadi?

Ketaatan dan kepatuhan adalah kunci. Selama pemain, pelatih, manajer, penonton, serta pegiat mana pun memahami dan memegang teguh Laws of the Game, sepakbola akan berjalan dengan baik.

Kalimat itu terdengar sangat klise. Tapi, tidak pernah diimplementasikan dengan sebenar-benarnya. Kita seperti bangsa yang dilahirkan untuk tidak siap kalah. Terkadang kita mesti berbesar hati mengakui keunggulan orang lain. Lalu, untuk mencapai level supremasi itu, diperlukan kerja keras dan ketekunan luar biasa.

Bukan dengan semata-mata memasang VAR. Sebelum memasang VAR pun kita semua harus tahu prosedur sertifikasi dari FIFA/AFC yang harus dijalani sebelum teknologi itu benar-benar diterapkan di dalam pertandingan. Tentu ada standar yang dipasang FIFA/AFC agar penerapan VAR di Indonesia dan Vanuatu, misalnya, sama derajatnya.

Belum lagi pelatihan untuk wasit operator VAR. Delapan bulan sebelum Piala Dunia 2018 digelar, FIFA sibuk mengumpulkan wasit andalan dari lima benua untuk menggelar pelatihan. Dari pelatihan ini bermunculan wasit-wasit dengan spesialisasi operator VAR. Lalu, sebanyak 13 orang wasit VAR ditugasi FIFA untuk memelototi monitor pertandingan sepanjang turnamen digelar.

Pertanyaannya, berapa jumlah wasit VAR bersertifikat FIFA/AFC di Indonesia? Jumlah wasit FIFA asal Indonesia saja hanya tiga.

Presiden FIFA Gianni Infantino berujar, dengan VAR sepakbola menjadi “bersih”. Sayangnya, harus berani diakui Indonesia belum sampai level itu. Sekadar Laws of the Game atau pedoman kompetisi saja masih kerap kita langgar…