Nubuat Berikutnya Jurgen Klopp: Bangun Dinasti Liverpool!

Embed from Getty Images

Liverpool juara dari rumah. Penantian panjang 30 tahun untuk merebut gelar juara liga akhirnya berakhir Kamis (25/6) malam setelah “bantuan” kemenangan 2-1 Chelsea atas pesaing terdekat mereka, Manchester City. Hasil itu sudah ditunggu-tunggu skuad The Reds beserta para pendukung di seluruh dunia. Liverpool unggul 23 poin di atas City dengan menyisakan tujuh pertandingan. Apa lagi hal yang lebih prosais daripada sukses ini?

Awalnya adalah nubuat kedatangan Jurgen Klopp ke Merseyside pada 2015 lalu. Setelah memberikan Borussia Dortmund dua gelar Bundesliga Jerman 2011 dan 2012, satu DFB Pokal 2012, serta ditambah pencapaian final Liga Champions 2013, Klopp datang dengan energi baru. Pada hari pertamanya, dia meminta setiap staf memperkenalkan diri serta menjelaskan tugas masing-masing. “Sukses hanya dapat diraih dengan bersama-sama,” bilangnya. Energi rock and roll yang memberikan Liverpool arah baru.

Tentu sukses tidak selamanya datang dengan mulus. Pada musim pertamanya, Klopp menempatkan Liverpool di peringkat kedelapan klasemen akhir dengan rekor kebobolan 50 gol. Musim berikutnya, empat peringkat lebih baik. Tapi, jumlah kebobolan masih merisaukan, yaitu 42 kali dalam 38 pertandingan.

Taktik gegenpressing seperti bumerang buat pertahanan tim yang berkaki dingin. Solusinya, awal 2018 Klopp menjual Philippe Coutinho guna mendanai transfer Virgil van Dijk. Liverpool perlahan stabil. Jumlah kebobolan menjadi 38 gol dan podium Liga Champions berhasil digapai. Kepingan puzzle berikutnya yang dilengkapi Klopp adalah Alisson yang menggantikan tugas Loris Karius, yang melakukan blunder ganda di final Liga Champions.

Tidak ada yang meragukan daya serang Liverpool yang bertumpu pada trisula Mohamed Salah, Sadio Mane, dan Roberto Firmino. Musim 2018/19, The Reds mengamuk dengan rekor gol 89-22, 97 poin — tapi tetap saja masih gagal juara! Mereka hanya satu centimeter tertinggal dari Manchester City. Ingat penyelamatan garis gawang John Stones yang vital, kawan-kawan?

Setidaknya Klopp mengobati musim Liverpool dengan merebut trofi Liga Champions setelah mengalahkan Tottenham Hotspur di final. Tapi, itu belum cukup. Gelar yang paling dicari-cari adalah trofi liga! Apalagi, sejak era Liga Primer, Liverpool belum pernah sekali pun mencicipi gelar juara.

Tadi malam, Klopp menjawab nubuat lima tahun silam. Liverpool tampil prima sejak musim dimulai dan terus konsisten hingga pandemi Covid-19 memaksa Liga Primer menunda pertandingan selama tiga bulan lamanya. Dua pertandingan setelah Liga Primer kembali berputar, gelar juara liga ke-19 tak terelakkan lagi.

Konsistensi Liverpool selama dua tahun terakhir ini memang mengerikan. Poin maksimal yang dapat diraup The Reds musim ini adalah 107 poin! Wajar jika setelah pesta singkat gelar juara skuad Liverpool akan kembali fokus dalam upaya memecahkan rekor 100 poin milik Manchester City dua musim lalu.

Titel juara Liga Primer tak ubahnya bagai Cawan Suci bagi Liverpool, tapi apa target berikutnya?

Mungkin bukan trofi Liga Champions. Selama 30 tahun terakhir, Liverpool sudah dua kali merebut Si Kuping Lebar (2005 dan 2019). Itu membuat Liverpool menjadi klub Inggris tersukses dengan enam gelar di ajang kompetisi paling bergengsi di Eropa. Ditambah lagi gelar juara Piala UEFA 2001 dan tiga Piala Super (2001, 2015, dan 2019), kejayaan Eropa bukanlah godaan terbesar The Reds.

Sebelum pertandingan melawan Crystal Palace, Klopp menepis pendapat media tentang kemungkinan Liverpool mendominasi liga selama bertahun-tahun lamanya. Seperti yang pernah dilakukan Sir Alex Ferguson bersama Manchester United dengan total 13 gelar juara dalam rentang waktu 1993 hingga 2013.

Menariknya, ucapan Klopp dibantah mantan penyerang Manchester United, Wayne Rooney. “Skuad Liverpool masih muda dan semua pemain kunci mereka terikat kontrak jangka panjang. Mereka berpotensi besar memenangi lebih banyak gelar,” ujarnya. “Sederhana saja buat Liverpool, biarkan Klopp terus berjalan dan berjalan.”

“United bisa mendominasi karena Fergie bertahan begitu lama. Saya rasa jika pelatih berusia 53 tahun seperti Klopp bertahan sepuluh tahun lagi di Liverpool, setidaknya Liverpool bisa lima kali lagi memenangi Liga Primer.”

Jika ingin mendulang sukses berjangka panjang, Klopp mesti meniru managerial skill seperti Sir Alex. Bukan taktik yang membawa Sir Alex berhasil menjuarai begitu banyak gelar selama kiprahnya di United, melainkan lebih pada kemampuannya mengelola personel tim. Man management Sir Alex memang tiada bandingannya di dunia sepakbola. 

Secara kharisma, seperti halnya Sir Alex, Klopp memiliki kedekatan dengan pemain dan mampu memotivasi mereka. Namun, Klopp ditantang mampu mengambil keputusan sulit dengan membuang pemain yang tidak berpenampilan bagus. Keputusan sulit Klopp juga harus diberikan dukungan dari dewan direksi. Klopp mungkin tidak seleluasa Sir Alex karena tidak diuntungkan kebijakan finansial Liverpool yang sangat memerhatikan keseimbangan neraca pemasukan dan pengeluaran. Ini sudah berdampak pada lepasnya incaran Klopp, Timo Werner, ke Chelsea.

Menjaga nyala bara api Liverpool akan menuntut banyak pengorbanan. Selama Klopp merasa bahagia dan memberikan kebahagiaan kepada Liverpool, tampaknya ucapan Rooney tidak hanya sekadar pujian. Melainkan nubuat berikutnya buat Klopp.

All English Final di Liga Champions dan Liga Europa, Big Bang Fase 2 Liga Primer Inggris

All England Final

Musim 2018/19 adalah musim pertama final Liga Champions tanpa Cristiano Ronaldo atau Lionel Messi sejak 2013. Musim ini juga musim pertama dalam sejarah ketika Liga Champions dan Liga Europa menampilkan seluruh finalis asal Inggris. Sebuah kebetulan sekaligus paradoks.

Madrid, 6 Juli 2009. Sebanyak 80.000 orang memenuhi Stadion Santiago Bernabeu bukan untuk menonton pertandingan. Mereka datang guna menyambut seorang megabintang yang baru saja didatangkan Real Madrid dengan rekor transfer £80 juta dan kontrak enam tahun. Kepindahan Cristiano Ronaldo ke klub top LaLiga Spanyol itu merupakan pukulan telak bagi Liga Primer Inggris yang mengklaim diri sebagai liga sepakbola terbaik dunia.

Selama hampir sepuluh tahun lamanya Liga Primer tidak memiliki megabintang yang bisa dijadikan senjata marketing mumpuni. Sejak 2009 pula, mereka juga tidak mampu memunculkan (dan juga membeli) pemain nominator Ballon d’Or. Bayangkan, liga dengan perputaran uang paling besar serta nilai hak siar tertinggi di dunia, tetapi malah tidak menampilkan deretan pemain terbaik?

Musim ini, keberhasilan empat klub Inggris menembus babak puncak Liga Champions dan Liga Europa dapat membalikkan keadaan. Dalam rentang waktu tiga hari, Liverpool dan Tottenham Hotspur menyegel tiket final Liga Champions; disusul Arsenal dan Chelsea di final Liga Europa. Pernahkah terjadi liga kompetisi sepakbola Eropa dikuasai satu negara saja? Tidak pernah. Bagi liga-liga top Eropa lain, skema ini hanya bisa terjadi di dalam mimpi terliar mereka.

Ini adalah kemenangan Liga Primer. Kemenangan yang mereka dambakan sejak 22 tim berkumpul di sebuah hotel London merundingkan deal hak siar televisi yang baru, 1992 silam. Tidak hanya deal baru yang mereka dapatkan, tetapi juga sebuah breakaway league yang membuka tirai era komersialisasi sepakbola modern. Sebuah big bang, cetus media massa Inggris.

Sejak pertemuan di Royal Lancaster Hotel itu, Liga Primer melakukan rebranding sepakbola Inggris yang penuh hooliganisme menjadi wajah yang lebih modern, terstruktur, dan ramah marketing. Padahal, tujuh tahun sebelumnya, klub Inggris dipermalukan dengan sanksi memalukan dari UEFA menyusul Tragedi Heysel. Selama lima tahun lamanya mereka dilarang mengikuti kompetisi antarklub Eropa mana pun.

Dekrit Bosman dan penyelenggaraan Euro 1996 menjadi momentum dalam mendorong klub-klub peserta untuk berlomba-lomba mendatangkan pemain asing. Mereka sudah mengantungi jutaan pounds hasil pemasukan hak siar televisi domestik maupun internasional. Tidak perlu risau, sepanjang nama si pemain sulit diucapkan kebanyakan fans Inggris, mereka sudah memiliki daya tarik yang cukup.

broadcast rights

Mungkin bukan kebetulan jika mulai musim depan Liga Primer memasuki siklus baru hak siar internasional mereka. Biasanya, jangka waktu kontrak ini berlangsung selama setiap tiga tahun. Valuasi siklus baru 2019-2022 untuk kali pertama menembus angka £4,5 milyar. Tanpa harus menjual tiket pertandingan musim baru, klub Liga Primer dimungkinkan sudah mengantungi keuntungan sebelum dikurangi pajak. Fantastis.

Bandingkan dengan LaLiga. Satu hari setelah Tottenham dan Liverpool memastikan tempat di final Liga Champions, LaLiga melansir kenaikan pemasukan sebesar 20,6 persen untuk musim 2017/18. Secara total, LaLiga menangguk €4,4 milyar (setara £3,7 milyar) yang merupakan rekor pendapatan mereka sepanjang sejarah. Jumlah itu merupakan akumulasi antara lain deal sponsor, hak siar televisi, dan transfer pemain.

Itu saja belum mampu menandingi pemasukan hak siar internasional Liga Primer. Catat, hanya hak siar internasional. Ditambah hak siar domestik, Liga Primer berpotensi meraup lebih dari £9 milyar untuk periode 2019-2022.

Selamat datang di big bang Liga Primer fase kedua. Kita berada di ambang dasawarsa baru 2020-an yang masih akan diwarnai hegemoni sepakbola Inggris. Pertanyaannya sekarang, apakah Liga Primer masih membutuhkan Liga Champions dan Liga Europa? Tentu saja masih. Keberhasilan klub mencapai final kejuaraan internasional akan meningkatkan valuasi serta daya tawar mereka saat merundingkan banyak deal baru.

Di sisi lain, para klub elite berpikiran lebih jauh. European Club Association (ECA) pernah menggulirkan gagasan sebuah liga super yang hanya diikuti jajaran klub elite Eropa. Gagasan itu sulit mendapatkan restu UEFA yang masih memandang sepakbola adalah milik segala lapisan.

Kini, gagasan baru ECA adalah menerapkan aturan promosi dan degradasi mulai Liga Champions musim 2024/25. Sekilas aturan ini tampak kompetitif, tetapi masih berpandangan elitis karena klub bisa mengikuti Liga Champions terlepas dari posisi mereka di klasemen akhir kompetisi domestik masing-masing.

stadion baru tottenham

Tantangan lain bagi Liga Primer, mungkin kedengaran janggal, adalah memenuhi stadion dengan penonton. Nilai hak siar dan deal marketing internasional akan terus menjulang selama audiens mendapatkan atmosfer stadion yang mereka inginkan, salah satunya adalah stadion yang terisi penuh.

Persoalannya, bagi klub Liga Primer yang dimanjakan dengan pendapatan hak siar tinggi, penjualan tiket pertandingan bukan lagi sumber utama pemasukan. Kehadiran fans tandang juga dipandang penting. Liga Primer menerapkan batasan harga tertinggi £30 untuk setiap lembar tiket yang dialokasikan untuk pendukung tim tamu. Aturan itu diterapkan mulai musim 2017/18.

Tantangan berikutnya adalah pemain bintang. Jika sepakbola modern adalah bisnis hiburan, Liga Primer membutuhkan megabintang untuk mengisi sorotan utama. Ronaldo dan Messi sudah berusia 30-an tahun dan sudah saatnya mencari idola baru. Sanksi larangan transfer yang dijatuhkan FIFA kepada Chelsea berlangsung hingga Januari 2020. Ketika sanksi itu berakhir, semestinya Chelsea sudah memiliki rasa lapar yang besar untuk memburu pemain bernama besar.

Tidak ada klub Inggris yang lebih bahagia dengan situasi terkini selain Tottenham. Mereka baru saja pindah ke stadion baru akhir Maret lalu dan paket layanan matchday hospitality mereka sangat nyaman, yang diklaim mampu mendatangkan pemasukan mencapai £800 ribu hanya dalam sekali pertandingan kandang.

Final Liga Champions adalah pencapaian luar biasa bagi klub yang menahan nafsu tidak berbelanja pemain selama jendela transfer musim panas lalu. Hat-trick Lucas Moura ke gawang Ajax Amsterdam lebih dari sekadar gol-gol kemenangan, tetapi juga dapat membuka lembaran sejarah baru. Siapa tahu salah satu klub yang getol mengampanyekan ide Liga Primer pada 1992 silam ini lah yang akan mendominasi top tier sepakbola Inggris era 2020-an.