Rp200 Juta Sehari! – Kehilangan Pemasukan Klub Indonesia Tanpa Kompetisi

DISCLAIMER: Tulisan ini tidak berupaya mempertentangkan aspek mana yang lebih penting antara kesehatan atau ekonomi.

Entah siapa yang tahu kompetisi sepakbola Indonesia kapan dimulai lagi. Sejak dihentikan akibat pandemi Covid-19, Maret 2020, masyarakat Indonesia belum dapat kembali menyaksikan pertandingan sepakbola domestik. Tidak bisa dibantah, kesehatan adalah hal paling utama. Namun, ada banyak orang yang menyandarkan hidup pada sepakbola, terutama para pemain dan keluarga yang harus mereka nafkahi.

Saya mendengar banyak cerita pemain yang kebingungan karena pemasukan utamanya lenyap. Klub-klub mulai angkat tangan. Madura United, Persebaya Surabaya, dan terbaru Persipura Jayapura membubarkan tim karena tak lagi sanggup menanggung beban gaji pemain. Inilah wajah sepakbola Indonesia, yang gegap gempita dipuja para fans setia di stadion maupun media sosial, tapi fondasinya rapuh bak istana pasir.

Mayoritas klub tidak memiliki perencanaan jangka panjang, apalagi menyediakan jaring pengaman guna menghadapi situasi force majeur semacam pandemi ini. PSSI, selaku otoritas sepakbola tertinggi tanah air, hingga tulisan ini dibuat tidak bisa memberikan jaminan kapan liga berputar kembali. Izin penyelenggaraan tergantung izin keamanan yang diberikan Kepolisian RI.

Gegap gempita, tapi fondasi sepakbola Indonesia rapuh bak istana pasir

Lalu, tanpa kompetisi yang bergulir, berapa besar kerugian yang harus ditanggung sebuah klub?

Tidak mudah menyusun perhitungan ini karena hampir tidak ada klub Indonesia yang membuka laporan keuangan secara publik. Satu-satunya yang dapat dijadikan acuan adalah Bali United, klub Indonesia dan Asia Tenggara pertama yang terjun ke lantai bursa sejak pertengahan Juni 2019.

Berdasarkan laporan keuangan terakhir yang terdaftar di IDX (Bursa Efek Indonesia) per 30 Juni 2019, Bali United memperoleh pemasukan dengan perincian sebagai berikut:

  • Komersil: Rp3.804.102.291
  • Kontribusi: Rp3.050.800.000
  • Pertandingan – bersih: Rp1.669.423.392
  • Sponsorship: Rp41.848.901
  • Live video streaming dan rekaman video: Rp12.587.789.976
  • Lain-lain: Rp9.685.485.023
  • Total: Rp72.646.502.348

Pendapatan komersil adalah pemasukan yang diperoleh klub melalui eksploitasi logo dan foto pemain Bali United melalui perjanjian sponsor dan perjanjian komersial lainnya. Termasuk pula penjualan merchandise klub dan pendapatan tur.

Lalu, pendapatan kontribusi merupakan pembagian pendapatan dari aktivitas komersial kompetisi, termasuk sponsorship dan hak siar, berdasarkan keikutsertaan yang dinegosiasikan secara terpusat oleh PT Liga Indonesia Baru, AFC, dan operator kompetisi domestik lain.

Tidak ada kompetisi mungkin tidak menghilangkan seluruh sektor pemasukan tersebut, tapi tetap saja sebagian besar pendapatan tidak mengalir ke kas klub. Berdasarkan angka total pendapatan di atas, perkiraan hilangnya pemasukan klub adalah Rp6 milyar sebulan. Atau, kira-kira Rp200 juta sehari.

Di luar biaya overhead, klub hilang pemasukan Rp6 milyar sebulan atau Rp200 juta sehari!

Sementara, pengeluaran klub berjuluk Laskar Semeton itu adalah sebesar Rp62.188.301.283. Sejumlah aspek pengeluaran adalah seperti gaji, bonus, medical dan tunjangan, hingga perjalanan dinas, sewa aset dan peralatan, atau pajak PPh 21.

Dengan mengecualikan sejumlah sektor pengeluaran yang bisa dipangkas karena pandemi, seperti biaya promosi dan iklan, perjalanan dinas, serta keamanan; kita tinggal menghitung biaya overhead klub antara lain untuk gaji pemain dan pegawai.

Untuk pos itu saja, Bali merogoh kocek hingga Rp17,1 milyar. Biaya tersebut masih ditambah dengan kebutuhan operasional kantor; telepon, fax, internet; listrik, air, gas; serta perbaikan atau perawatan aset. Kita asumsikan total pengeluaran menjadi Rp20 milyar atau Rp1,6 milyar sebulan.

Artinya, dengan semua asumsi di atas, Bali United harus menanggung kerugian sebesar Rp6 milyar per bulan selama kompetisi tidak diselenggarakan. Mesti dicatat pula, klub harus mengeluarkan biaya operasional sebesar Rp1,6 milyar sebulan.

Jumlah di atas tentu tergantung dari anggaran masing-masing klub. November lalu, klub peserta Liga 2 seperti Muba Babel United dan Sriwijaya FC menyatakan jumlah kerugian yang mereka alami karena penundaan kompetisi berkisar antara Rp5-6 milyar. Jumlah itu baru mencakup biaya perekrutan pemain di awal musim, akomodasi, serta dana down payment kontrak pemain. Belum termasuk biaya operasional sehari-hari.

Mudah-mudahan segera ada solusi positif bagi mereka yang menyandarkan hidup pada sepakbola domestik.

Tantangan & Kesempatan Kenormalan Baru Sepakbola Indonesia

Ini skenario ideal sepakbola Indonesia menyambut awal dasawarsa baru 2020-an dengan asumsi super-ideal, yakni penerapan dan pemberlakuan kenormalan baru yang konsisten.

Paradoks sepakbola dan politik

Pandemi membuktikan sebuah paradoks. Sepakbola Indonesia masih menjadi alat politik yang diandalkan, tapi ironisnya kebijakan politik tidak bisa menjadi fundamental yang kokoh bagi pengembangan sepakbola. Namun, sepakbola dan politik tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hal yang perlu dilakukan adalah pemisahan kepentingan antara kedua unsur tersebut.

Pentingnya “good governance”

Dari poin di atas, pandemi bisa memberikan kesempatan bagi sepakbola Indonesia untuk berpikir ulang tentang pentingnya melakukan “good governance”. Mulai dari level teratas seperti federasi hingga terbawah seperti grassroots.

Harmoni klub dan otoritas

Dari poin pertama, government relations atau juga relasi dengan otoritas (seperti misalnya Kepolisian RI selaku pemberi izin keamanan) masih sangat vital di luar pentingnya pemasukan kas klub melalui tiket pertandingan dan hak siar. Bagaimana caranya menciptakan jembatan harapan antara klub dan otoritas?

Kembali ke bakat lokal

Pandemi juga memaksa pembatasan perjalanan dari satu negara ke negara lain. Transfer internasional bukan hal yang mustahil, tapi sang pemain harus melengkapi sejumlah persyaratan seperti menjalani tes usap serta karantina sebelum dapat bergabung ke sebuah klub baru. Keterbatasan ini menciptakan peluang bagi pasar transfer liga Indonesia untuk memunculkan lebih banyak pemain berbakat lokal di dalam kompetisi.

Format kompetisi

Pembatasan perjalanan juga dapat mengembalikan format kompetisi tier tertinggi menjadi ke dua atau banyak wilayah. Banyak kota antarpulau mesti dijangkau dengan transportasi udara, yang lagi-lagi menerapkan pula sejumlah persyaratan perjalanan. Penerapan format kompetisi regional ini dapat memberikan peluang untuk mengokohkan kompetisi divisi bawah sebagai fundamental sepakbola nasional.

“Coaching courses”

Periode tanpa sepakbola mendorong sejumlah para pemain yang masih aktif untuk mengambil kursus kepelatihan. Ini semacam berkah tersembunyi karena Indonesia masih kekurangan pelatih sepakbola. Mudah-mudahan makin banyak coaching courses yang diselenggarakan semasa penerapan kenormalan baru.

Berpikir ulang tentang stadion

Ini aspek penting bagi pemasukan klub. Kenormalan baru dapat menjadi momentum untuk menciptakan stadion sebagai tempat yang ramah bagi para penonton untuk menikmati pertandingan dengan aman dan nyaman. Pendeknya, diperlukan perencanaan mitigasi yang baik supaya ke depannya tidak perlu ada korban jiwa yang jatuh di dalam maupun sekitar stadion.

Alokasi anggaran Piala Dunia U-20 2021

Malam Natal lalu, FIFA mengumumkan pembatalan penyelenggaraan Piala Dunia U-20 2021. Meski demikian, FIFA tetap memberikan kesempatan bagi Indonesia menjadi tuan rumah turnamen dua tahun berikutnya. Anggaran Pemerintah, yang memang menjadikan Piala Dunia U-20 sebagai program mercusuar, telah terlanjur disetujui dan digunakan untuk persiapan tim. Seiring pembatalan, sisa anggaran akan kembali ke kas negara. Mungkin kah dana tersebut dapat dialokasikan lagi ke sejumlah sektor pembangunan olahraga seperti pembinaan atlet usia dini, coaching courses, atau mitigasi stadion? Tidak cuma untuk sepakbola, tapi olahraga tanah air secara keseluruhan. Rasanya itu lebih penting daripada mengucurkan seluruhnya untuk menyelenggarakan turnamen internasional salah satu cabang olahraga belaka. Mari menunggu kebijakan Pemerintah untuk hal ini.

J.League musim 2019 disiarkan di Indonesia

Pemirsa Indonesia kini dapat menyaksikan tiga pertandingan pilihan J.League setiap pekan melalui platform siaran streaming Rakuten Sports.

Ini merupakan bagian dari inisiatif J.League untuk menjangkau pasar Asia Tenggara. Bermitra dengan Lagardere Sports, Rakuten Sports akan menayangkan sisa pertandingan musim 2019 ke 140 negara, termasuk delapan negara Asia Tenggara, yaitu Indonesia, Singapura, Malaysia, Vietnam, Myanmar, Laos, Kamboja, dan Filipina.

Tiga pertandingan setiap pekan dapat dinikmati pemirsa sepakbola tanah air setelah melakukan registrasi ke Rakuten Sports yang dapat dilakukan dengan menggunakan akses Facebook maupun Google.

Tiga pertandingan yang dapat dinikmati pekan ini adalah:

Jumat, 14 Juni | 16:00 WIB | Kawasaki Frontale vs Consadole Sapporo
Sabtu, 15 Juni | 16:00 WIB | FC Tokyo vs Vissel Kobe
Minggu, 16 Juni | 16:00 WIB | Oita Trinita vs Nagoya Grampus

Setelah China memberlakukan pajak pendapatan yang sangat tinggi untuk memproteksi perkembangan pemain muda negara mereka, J.League kembali menjadi liga Asia yang paling bergengsi. Bintang veteran seperti Fernando Torres, David Villa, Lukas Podolski, dan Andres Iniesta memilih untuk berkompetisi di sana. Kehadiran para bintang ini diharapkan mendongkrak popularitas J.League.

Bagaimana popularitas J.League di Indonesia? Fans di Indonesia mengetahui hubungan masa lalu J.League dengan liga Indonesia, tetapi tidak banyak mengikuti perkembangan terkini. Tidak banyak pemain J.League yang dikenal fans Indonesia selain nama-nama para legenda antara lain seperti Kazuyoshi Miura, Ryu Ramos, dan Yasuhito Endo, misalnya.

Belakangan muncul nama baru seperti Takefusa Kubo, yang dijuluki Messi-nya Jepang, tetapi praktis hanya itu yang dikenal fans sepakbola Indonesia.

Padahal, J.League membuka slot khusus bagi pemain Asia di luar kuota pemain asing yang dimiliki setiap klub. Slot khusus ini dimanfaatkan sejumlah klub, baik dari aspek sepakbola maupun komersil. Teerasil Dangda, Teerathon Bunmathan, dan Chanathip Songkrasin menjadi tiga pemain Thailand yang bergabung ke klub Jepang — disusul belakangan oleh Thitipan Puangchan.

Kiprah Songkrasin bahkan menuai pujian, dinilai tak ubahnya seperti Kapten Tsubasa. Pemain yang akrab disapa “Messi Jay” itu bahkan masuk ke dalam susunan tim terbaik J.League musim 2018. Prestasi yang berbanding lurus dengan peningkatan nilai komersil J.League di Thailand.

Songkrasin menjadi primadona. Video latihan pertamanya bersama Consadole menuai 3 juta view. Melebihi populasi kota Sapporo, tempat Consadole bermarkas. Televisi Thailand pun tertarik menayangkan langsung J.League. Hasilnya, pertandingan Consadole melawan Kawasaki Frontale pada 2017 mendulang lebih dari 400.000 pemirsa. Jumlah itu bahkan mengalahkan jumlah pemirsa pertandingan Buriram United.

“Kami tidak hanya ingin menarik minat pemirsa Asia, tetapi juga seluruh dunia. Dengan pemain seperti Chanathip rasanya kami berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan hal itu.”

Mitsuru Murai, chairman J.League, dilansir APNews.

Potensi lebih besar tentu saja ada di Indonesia. Sebagai gambaran besarnya minat audiens Indonesia terhadap sepakbola, pertandingan Liga 1 2018 paling laris adalah Persib Bandung vs Persija Jakarta yang sanggup “mendatangkan” 2,6 juta penonton siaran streaming. Jumlah ini enam kali lipat(!) dari pemirsa siaran terlaris liga Thailand.

Hal itu bukannya tidak disadari petinggi J.League. Dalam berbagai kesempatan, J.League selalu berjuang merangkul pasar Indonesia mulai dari memainkan pertandingan eksebisi (FC Tokyo vs Bhayangkara FC awal 2018) hingga melakukan kerja sama kemitraan dengan PSSI maupun klub Liga 1. Namun, tingkat awareness J.League belum juga meningkat.

Pasalnya, tidak ada pemain Indonesia yang berkiprah di J.League. Seperti Songkrasin dkk, kehadiran pemain tentu dapat mendongkrak minat fans untuk menyaksikan J.League. Sejak Irfan Bachdim bergabung ke Bali United awal 2017, praktis fans tanah air mengabaikan J.League sama sekali. Pemain Indonesia lain yang pernah bertualang di Jepang adalah Stefano Lilipaly.

Diam-diam J.League sedang menggali kemungkinan mengajak bergabung sejumlah pemain muda Indonesia.

Berdasarkan sejumlah informasi yang penulis kumpulkan dari beberapa sumber, klub-klub Jepang tidak pernah menutup kemungkinan untuk mendatangkan pemain Indonesia.

Bisa dibilang, setiap tahun mereka menyusun daftar keinginan yang berisi tiga hingga lima nama pemain muda potensial Indonesia.

Namun, apakah pemain yang dilirik itu bersedia main di Jepang? Apakah mereka memiliki kemauan yang cukup untuk merantau ke sana? Itu pembahasan lain yang dapat dibicarakan dalam tulisan terpisah.