Close

Review Semi-Final Euro 2020: Ganjaran Permainan Positif Inggris yang Menyesakkan Bagi Denmark

Satu gol bunuh diri dan penalti kontroversial mewarnai kemenangan Inggris atas Denmark di semi-final Euro 2020.

Ringkasan Pertandingan

Inggris berhasil melaju ke final sebuah turnamen besar untuk kali pertama dalam 55 tahun setelah menundukkan perlawanan gigih Denmark 2-1 di semi-final Euro 2020 di Wembley. Gol tendangan bebas Mikkel Damsgaard sempat membungkam penonton tuan rumah, tetapi Inggris menyamakan kedudukan berkat gol bunuh diri kapten lawan, Simon Kjaer. Kemenangan akhirnya ditentukan Harry Kane saat perpanjangan waktu.

Permainan yang Seimbang

Secara umum, ini adalah permainan yang seimbang di antara dua tim yang sama-sama mengandalkan sektor sayap untuk menciptakan peluang di dalam kotak penalti, memainkan tiga penyerang, dan dua gelandang bertahan sebagai pivot.

Inggris tidak melakukan strategi mirroring seperti saat melawan Jerman. Gareth Southgate mempertahankan formasi 4-2-3-1 dengan satu perubahan line up dari pertandingan perempat-final melawan Ukraina. Bukayo Saka pulih dari cedera dan menjadi pemain inti menggeser Jadon Sancho. Saka dimainkan sebagai sayap kanan mendampingi Harry Kane dan Raheem Sterling.

Sementara, Denmark tidak melakukan perubahan line up sama sekali dari pertandingan melawan Republik Ceko dan Kasper Hjulmand tetap memasang formasi 3-4-3. Jika Inggris memainkan lima dari enam pertandingan yang sudah dijalani di London, Denmark harus berpindah-pindah. Tiga laga fase grup dimainkan di Kopenhagen, lalu mereka bertolak ke Amsterdan untuk babak 16 besar dan kemudian Baku untuk perempat-final. Total perjalanan yang ditempuh Denmark adalah 9.631 km — sedangkan Inggris hanya 2.296 km.

Jarak tempuh itu bukan alasan yang bagus untuk diangkat di dalam artikel yang bertujuan membahas pendekatan taktik kedua tim, tapi mau tidak mau mempengaruhi kebugaran para pemain Denmark. Hjulmand harus mengganti Janik Vestergaard, Andreas Christensen, dan Thomas Delaney karena cedera otot. Praktis Denmark berjuang sekuat tenaga untuk tidak kebobolan banyak menghadapi Inggris yang didukung seisi stadion.

“Saya yakin kami akan meraih hasil positif, tapi saya juga sadar akan mengadapi pertempuran yang berbeda dari biasanya. Denmark tidak banyak diperhitungkan secara tim, padahal mereka sangat merepotkan kami.”

Gareth Southgate, usai pertandingan

Southgate Menolak “Bercermin”

Berbeda dengan laga melawan Jerman, Southgate tidak melakukan mirroring taktik sama sekali. Pilihan ini mungkin bisa dipertanyakan sampai mereka menyamakan kedudukan. Dalam formasi 4-2-3-1 melawan 3-4-3, Inggris kalah jumlah pemain di mana-mana. Saat menyerang, mencoba merangsek lewat sayap, dan saat mengadang serbuan Denmark. Peluang bersih sulit dilakukan, begitu pun juga dengan ruang untuk melepas tembakan. Satu-satunya harapan Inggris adalah lewat pergerakan Raheem Sterling, yang condong memotong jalur (cut inside), atau melalui set piece. Posisi yang ditinggalkan Sterling biasanya ditutup oleh Mason Mount.

Sementara, taktik Denmark adalah jalur langsung ke depan karena mereka pun sulit bergerak melalui sayap karena double cover yang dilakukan pemain Inggris. Joakim Maehle harus berhadapan dengan Saka, dan setelahnya Kyle Walker; sedangkan Jens Styger Larsen diadang Sterling atau Mason Mount serta Luke Shaw. Peluang Denmark didapat oleh keterampilan Kasper Dolberg memutar badan sehingga dapat menciptakan ruang dan waktu. Kebolehan itu membuat Mikkel Damsgaard atau Larsen bisa mengincar sisi buta para bek Inggris.

Adu Set Piece

Adu kebolehan set piece juga menjadi kunci pada pertandingan ini. Bukan rahasia lagi kalau baik Inggris maupun Denmark punya menu khusus situasi bola mati dalam sesi latihan masing-masing. Denmark mencetak gol melalui tendangan penjuru ketika mengalahkan Republik Ceko, sedangkan Inggris mengobrak-abrik pertahanan Ukraina dengan menciptakan dua gol melalui skema ini.

Peluang set piece yang didapat kedua tim berimbang. Masing-masing juga terhitung sukses menjaga pertahanan sehingga tidak kebobolan dari tendangan penjuru. Bedanya, menjelang setengah jam pertandingan, Shaw menahan badan Christensen. Peluang tendangan bebas dari jarak 30 meter dimanfaatkan dengan baik oleh Damsgaard. Ini merupakan gol tendangan bebas langsung pertama pada turnamen sekaligus gol pertama yang bersarang di gawang Jordan Pickford.

Positioning Harry Kane

Untuk kali pertama tertinggal sejak turnamen ini digelar, barangkali Southgate berpikiran untuk kembali menerapkan mirroring. Mungkin di babak kedua. Tapi, sang pelatih rupanya teguh dengan rencana awal. Pemain depan Inggris diminta turun membantu lini kedua untuk menciptakan ruang. Kita sudah sering menyaksikan Harry Kane yang kerap turun hingga ke tengah sejak pertandingan pertama Inggris. Pada pertandingan ini, strategi itu membuahkan hasil.

Upaya Kane menjemput bola ke tengah diakhiri umpan terobosan yang memecah kerapatan pertahanan Denmark. Saka berlari merangsek, lalu melepaskan umpan silang mendatar. Kjaer bukannya tidak mencium bahaya ini, tapi upayanya mencegah umpan itu disambar Sterling malah membuat bola bersarang di dalam gawang sendiri. Inggris berhasil menyamakan kedudukan setelah sembilan menit. Mungkin gol ini berbau kemujuran, tapi tercipta berkat konsistensi taktik Southgate dan positioning Kane.

Titik Momentum Inggris

Sebelum sampai pada keputusan wasit Danny Makkelie memberikan penalti pada babak pertama perpanjangan waktu, penting dibahas juga beberapa pergantian pemain yang dilakukan kedua tim.

Hjulmand melakukan pergantian tiga pemain sekaligus pada menit ke-67. Damsgaard, Dolberg, dan Larsen digantikan dengan Youssouf Poulsen, Christian Norgaard, dan Daniel Wass. Ini membuat Denmark beralih ke formasi 3-5-2, tetapi berdampak besar. Menarik keluar Dolberg sama saja dengan menghilangkan sumber kreativitas di lini depan. Poulsen dan Braithwaite praktis hanya bisa berlari dan berlari, tanpa dapat menahan bola atau mengarahkan serangan tim.

Southgate mengganti Saka dengan Jack Grealish, yang langsung diposisikan ke sayap kiri. Sektor itu menjadi lebih berbahaya sejak masuknya Grealish dan Shaw lebih rajin untuk masuk dari lini kedua. Sementara, Sterling digeser ke kanan. Pada akhirnya, switching sayap ini berujung akselarasi Sterling yang “dihentikan” Maehle. Makkelie menghitungnya sebagai pelanggaran. Eksekusi penalti Kane dihentikan Kasper Schmeichel, tapi bola muntah kembali disambar sang kapten.

Kontroversial? Iya. Bukan pelanggaran? Sangat mungkin. Tapi, keputusan wasit mutlak. Inggris pun melaju ke final Euro untuk kali pertama dalam sejarah.

“Kalah memang hal yang biasa dalam pertandingan, tapi kalah seperti ini sungguh mengecewakan. Para pemain sudah berjuang sekuat tenaga. Benar-benar menyakitkan.”

Kasper Hjulmand, usai pertandingan

Penutup

Pergantian tiga pemain tadi menjadi keputusan krusial bagi Hjulmand karena Denmark tak mampu memberikan solusi untuk kreasi peluang. Bahkan jatah pergantian tersisa terpaksa digunakan Hjulmand karena Vestergaard dan Christensen tidak dapat melanjutkan pertandingan karena masalah otot. Tak mampu merusak ritme lawan, Denmark seperti berharap pertandingan diselesaikan lewat adu penalti. Mereka bertahan dengan tujuh pemain berdiri di belakang bola.

Inggris mendapatkan momentum sejak menit 67 dan mempertahankan permainan positif meski pertandingan berlanjut hingga 120 menit. Ketenangan Walker, Harry Maguire, dan John Stones di lini belakang harus diacungi jempol. Bisa dibilang mereka tidak pernah membuat keputusan salah sepanjang pertandingan.

Pertandingan ini bukan lah suguhan taktik yang spektakuler atau tontonan permainan terbuka dengan banyak gol. Ditambah hasil semi-final Italia vs Spanyol sehari sebelumnya, pertandingan ini membuktikan anggapan bahwa sebuah turnamen akan memiliki wajah yang berbeda begitu menginjak fase gugur. Sepakbola atraktif atau bahkan filosofi bisa dipinggirkan dulu karena yang lebih utama adalah hasil.

Review Semi-Final Euro 2020: False Nine Bikin Spanyol Dominan, Tapi Italia Unggul Mentalitas

Strategi Luis Enrique menerapkan false nine menghambat permainan Italia di semi-final Euro 2020, sayangnya Spanyol gagal membongkar pragmatisme Roberto Mancini.

Ringkasan Pertandingan

Spanyol terpaksa menyerah lewat adu penalti kala menghadapi Italia pada pertandingan semi-final Euro 2020, Selasa malam atau Rabu (7/7) dini hari WIB. Pertandingan berjalan imbang 1-1 sepanjang 120 menit. Gol Federico Chiesa pada menit ke-60 mampu dibalas rekan setimnya di Juventus, Alvaro Morata, 20 menit berselang. Sebenarnya saat adu penalti Spanyol sempat di atas angin setelah Unai Simon menangkis eksekusi Manuel Locatelli. Namun, kegagalan Dani Olmo dan Morata membalikkan keadaan. Jorginho pun dengan dingin menyelesaikan penalti penentu guna membawa Italia ke babak puncak.

False Nine Hambat “Tikitalia”

Tulisan ini hendak menyoroti pilihan taktik yang dilakukan pelatih Spanyol, Luis Enrique. Berbeda dari lima pertandingan yang sudah dijalani, kali ini Enrique memilih menerapkan taktik false nine atau “striker palsu” yang tugas utamanya bukan lah mencetak gol, melainkan untuk membuka permainan. Taktik itu sengaja dipakai guna meredam permainan Italia.

Saat turnamen dimulai, Italia menampilkan permainan memikat yang dijuluki “Tikitalia”. Berbeda dari stereotipe mereka yang bermain bertahan dan mengandalkan serangan balik, Italia di bawah Roberto Mancini mengubah wajah menjadi lebih proaktif dan agresif. Kombinasi operan tim bertumpu pada sektor kiri. Sayangnya, Italia kehilangan bek kiri andalan Leonardo Spinazzola yang mengalami putus urat tendon Achilles pada laga perempat-final melawan Belgia.

Menariknya, Italia bertemu dengan Spanyol, yang dianggap sebagai asal usul permainan “tiki-taka” atau operan-operan pendek antarpemain. Pertandingan seperti membuktikan siapa yang lebih fasih dalam menerapkan taktik tersebut. Mengecualikan babak adu penalti, Enrique mampu mengungguli Roberto Mancini secara taktik.

“Mereka punya gaya main tersendiri, diciptakan oleh mereka, itu telah membawa mereka meraih berbagai kesuksesan dan mereka terus memainkan gaya yang sama. Tapi pendekatan kami berbeda. Kami adalah Italia dan kami tidak dapat menjadi Spanyol. Kami mencoba memainkan sepakbola kami sendiri.”

Roberto Mancini, usai pertandingan.

Pilihan Starter Enrique

Enrique menampilkan Mikel Oyarzabal sebagai starter menggantikan tempat Alvaro Morata. Pemain Real Sociedad itu diapit Dani Olmo dan Ferran Torres. Pada praktiknya, ketiga pemain terdepan Spanyol itu tidak bergerak statis. Mereka terus berupaya mencari half space di antara empat bek Italia. Peluang yang didapat Oyarzabal pada menit keempat membuktikan penerapan taktik ini, sayang sentuhan pertamanya tidak sempurna.

Enrique mengandalkan kecepatan tiga pemain depannya dalam mengoper bola dan mengambil posisi untuk membongkar kekompakan duet Giorgio Chiellini dan Leonardo Bonucci. Taktik false nine ini membuat Olmo beberapa kali turun ke lini kedua – entah itu untuk membantu pressing tim ataupun untuk menerima operan.

Perang Lini Tengah

Lini tengah dan belakang Spanyol turut menopang dengan melancarkan pressing tinggi sehingga duet gelandang Italia, Jorginho dan Marco Verratti, tak berkutik. Ketika Italia membangun serangan dari bawah, para pemain Spanyol memblokir jalur operan menuju dua gelandang pengatur serangan itu. Imbasnya, Italia banyak melakukan umpan by-pass ke depan.

Sasaran utamanya adalah Lorenzo Insigne atau Ciro Immobile. Namun, dua pemain depan itu tidak cakap dalam mengambil posisi dan tidak mampu menjaga penguasaan bola. Federico Chiesa praktis menjadi kartu mati sehingga Mancini tampak hendak menggantikannya dengan Domenico Berardi saat pertandingan baru berjalan setengah jam. Praktis Italia sama sekali tidak mampu mengancam gawang Unai Simon sepanjang babak pertama.

Italia sebenarnya menerapkan taktik pressing yang sama seperti Spanyol. Para pemain depan mereka sering mengganggu upaya build up play yang dilakukan Unai Simon. Namun, para pemain Spanyol lebih cerdik menemukan ruang. Apalagi Sergio Busquets dan Pedri seperti sangat terlatih tampil di bawah pressing lawan. Beberapa kali pula pemain Spanyol mampu menemukan celah berkat kemauan trio penyerangnya turun ke bawah.

Pemain Italia tampaknya tidak memiliki skill set yang memadai untuk keluar dari situasi serupa.

Peta operan Italia pada babak pertama

Konversi Peluang

Rencana awal Enrique berjalan lancar. Masalahnya, Spanyol tidak mampu mengonversi peluang yang didapat. Kalau saja sentuhan pertama Oyarzabal sempurna, mungkin mereka sudah unggul dua gol sebelum turun minum. Akibatnya, fatal. Italia mencuri keunggulan pada menit ke-60.

Dari sebuah serangan cepat menyusul tendangan penjuru yang gagal, para pemain Spanyol gugup membuang bola. Chiesa, yang masih dipertahankan di atas lapangan oleh Mancini, menguasai bola sebelum melepaskan tembakan terukur ke pojok gawang Unai Simon.

Spanyol tersentak.

Pergantian Pemain Enrique

Enrique lantas menganulir taktik false nine dan mengembalikan striker murni ke lapangan. Morata masuk sesaat setelah terjadinya gol untuk menggantikan Ferran Torres. Belum cukup menggoyahkan pertahanan Italia, Gerard Moreno dikirim pada menit ke-74. Formasi menjadi 4-3-1-2 dengan Olmo bertindak sebagai penghubung antarlini.

Menit 80, perubahan itu mendatangkan hasil. Morata melakukan pertukaran operan dengan Olmo. Bonucci lengah melakukan pengawalan karena tidak menyangka Morata terus berlari menyambut laju operan. Dengan ruang tembak yang begitu bebas, Morata memperdaya Gigi Donnarumma untuk mencetak golnya yang ketiga sepanjang turnamen.

“Kami pulang dengan kesadaran kami mampu bersaing dan menjadi salah satu tim terbaik di kompetisi ini. Berbulan-bulan lalu sudah kami katakan seperti apa rencana bermain kami di Euro dan para pemain mewujudkannya. Saya tak punya keluhan. Kami membuktikan diri tampil baik sebagai tim dan kami akan terus melanjutkannya.”

Luis Enrique, usai pertandingan.
Dani Olmo mencuri perhatian

Perang Mental

Mancini terlihat terlambat melakukan pergantian pemain (ketika skor masih 0-0) dan terlalu cepat mengganti pemain (ketika sudah unggul 1-0). Pergantian pertama dilakukan dengan menarik Immobile untuk digantikan dengan Berardi. Kemudian, Emerson dan Verratti digantikan Rafael Toloi dan Matteo Pessina.

Pergantian itu tidak dilakukan Mancini untuk mengubah pendekatan strategi. Malah seperti sudah puas dengan keunggulan satu gol serta mempertahankannya dengan memanfaatkan rasa frustrasi pemain Spanyol. Italia tetap memainkan bola-bola panjang. Berardi, atau belakangan Andrea Belotti yang dimasukkan, tak ubahnya upaya putus asa Mancini untuk mengais ruang di depan atau di belakang para bek Spanyol.

Pendekatan pasif ini setidaknya mencegah Italia kebobolan lagi. Mereka juga membutuhkan kaki-kaki segar untuk menandingi para pemain Spanyol yang terus melakukan pressing. Pada akhirnya, pertandingan berubah menjadi perang mental. Chiellini dengan santai mengajak Jordi Alba bergurau saat undian koin adu penalti. Italia akhirnya melaju ke final menunggu pemenang pertandingan Inggris versus Denmark.

Penutup

Dalam situasi krusial seperti pertandingan babak gugur, Mancini lebih memilih langkah pragmatis ketimbang memegang teguh filosofi awal. Bukan pendekatan yang salah. Namun, ini membuat “Tikitalia” masih sebatas wacana yang seksi dipasarkan dan diberitakan — belum menjadi revolusi sepakbola Italia secara luas.

Kemenangan Italia adalah keunggulan karakter, keunggulan pragmatis, tapi bukan keunggulan taktik. Italia menjadi Italia.

Tantangan & Kesempatan Kenormalan Baru Sepakbola Indonesia

Ini skenario ideal sepakbola Indonesia menyambut awal dasawarsa baru 2020-an dengan asumsi super-ideal, yakni penerapan dan pemberlakuan kenormalan baru yang konsisten.

Paradoks sepakbola dan politik

Pandemi membuktikan sebuah paradoks. Sepakbola Indonesia masih menjadi alat politik yang diandalkan, tapi ironisnya kebijakan politik tidak bisa menjadi fundamental yang kokoh bagi pengembangan sepakbola. Namun, sepakbola dan politik tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Hal yang perlu dilakukan adalah pemisahan kepentingan antara kedua unsur tersebut.

Pentingnya “good governance”

Dari poin di atas, pandemi bisa memberikan kesempatan bagi sepakbola Indonesia untuk berpikir ulang tentang pentingnya melakukan β€œgood governance”. Mulai dari level teratas seperti federasi hingga terbawah seperti grassroots.

Harmoni klub dan otoritas

Dari poin pertama, government relations atau juga relasi dengan otoritas (seperti misalnya Kepolisian RI selaku pemberi izin keamanan) masih sangat vital di luar pentingnya pemasukan kas klub melalui tiket pertandingan dan hak siar. Bagaimana caranya menciptakan jembatan harapan antara klub dan otoritas?

Kembali ke bakat lokal

Pandemi juga memaksa pembatasan perjalanan dari satu negara ke negara lain. Transfer internasional bukan hal yang mustahil, tapi sang pemain harus melengkapi sejumlah persyaratan seperti menjalani tes usap serta karantina sebelum dapat bergabung ke sebuah klub baru. Keterbatasan ini menciptakan peluang bagi pasar transfer liga Indonesia untuk memunculkan lebih banyak pemain berbakat lokal di dalam kompetisi.

Format kompetisi

Pembatasan perjalanan juga dapat mengembalikan format kompetisi tier tertinggi menjadi ke dua atau banyak wilayah. Banyak kota antarpulau mesti dijangkau dengan transportasi udara, yang lagi-lagi menerapkan pula sejumlah persyaratan perjalanan. Penerapan format kompetisi regional ini dapat memberikan peluang untuk mengokohkan kompetisi divisi bawah sebagai fundamental sepakbola nasional.

“Coaching courses”

Periode tanpa sepakbola mendorong sejumlah para pemain yang masih aktif untuk mengambil kursus kepelatihan. Ini semacam berkah tersembunyi karena Indonesia masih kekurangan pelatih sepakbola. Mudah-mudahan makin banyak coaching courses yang diselenggarakan semasa penerapan kenormalan baru.

Berpikir ulang tentang stadion

Ini aspek penting bagi pemasukan klub. Kenormalan baru dapat menjadi momentum untuk menciptakan stadion sebagai tempat yang ramah bagi para penonton untuk menikmati pertandingan dengan aman dan nyaman. Pendeknya, diperlukan perencanaan mitigasi yang baik supaya ke depannya tidak perlu ada korban jiwa yang jatuh di dalam maupun sekitar stadion.

Alokasi anggaran Piala Dunia U-20 2021

Malam Natal lalu, FIFA mengumumkan pembatalan penyelenggaraan Piala Dunia U-20 2021. Meski demikian, FIFA tetap memberikan kesempatan bagi Indonesia menjadi tuan rumah turnamen dua tahun berikutnya. Anggaran Pemerintah, yang memang menjadikan Piala Dunia U-20 sebagai program mercusuar, telah terlanjur disetujui dan digunakan untuk persiapan tim. Seiring pembatalan, sisa anggaran akan kembali ke kas negara. Mungkin kah dana tersebut dapat dialokasikan lagi ke sejumlah sektor pembangunan olahraga seperti pembinaan atlet usia dini, coaching courses, atau mitigasi stadion? Tidak cuma untuk sepakbola, tapi olahraga tanah air secara keseluruhan. Rasanya itu lebih penting daripada mengucurkan seluruhnya untuk menyelenggarakan turnamen internasional salah satu cabang olahraga belaka. Mari menunggu kebijakan Pemerintah untuk hal ini.

Jackie Groenen, Lahirnya Idola Baru

Pernah mencoba menonton film di bioskop tanpa lebih dahulu menyaksikan trailer, preview atau review, kecuali hanya tahu bintang utama film tersebut? Sejauh yang saya ingat, saya melakukannya ketika memilih menonton Collateral. Saya hanya tahu Tom Cruise menjadi aktor utama film keluaran 2004 lalu; saya bahkan tidak sadar Michael Mann menjadi sutradaranya. Hasilnya, jika kamu menemukan film yang tepat, adalah sebuah keseruan yang murni.

Situasi hampir serupa saya alami tiga pekan lalu. Saya menyaksikan Euro Wanita 2017 semata-mata karena timnas Belanda berpartisipasi di turnamen empat tahunan itu. Oranjeleeuwinnen sekaligus menjadi tim tuan rumah. Pada laga perdana yang saya tonton, Belanda menghadapi Norwegia yang lebih berpengalaman.

Saya tidak membekali diri dengan informasi yang cukup saat menyaksikannya. Saya tidak tahu sebagian besar para pemain Belanda (apalagi Norwegia), kecuali misalnya yang sudah populer seperti Vivianne Miedema. Atau Lieke Martens yang baru saja meresmikan transfer ke Barcelona sebelum turnamen dimulai.

Pada laga itu, Belanda memiliki kelemahan yang mencolok di sektor belakang. Beruntung, Norwegia tidak memiliki lini ofensif yang mumpuni kecuali mengandalkan kemampuan Ada Hegerberg (satu-satunya nama pemain Norwegia yang sering saya dengar). Shanice van de Sanden memecah kebuntuan pada menit ke-66 setelah menyongsong umpan silang Martens dengan sundulan kepala terarah. Belanda menang 1-0.

Tapi, bukan Van de Sanden, Miedema, atau Martens yang berhasil memukau perhatian saya, melainkan gelandang energik bernomor punggung 14. Langkah-langkah kakinya begitu ringan saat mengolah bola. Dia memutar badan dengan keanggunan bak Johan Cruyff. Operan-operan dari kakinya berkali-kali menjadi awal serangan Belanda. Jika saya seorang fans pemula yang baru mengikuti sepakbola saat Euro Wanita 2017 digelar, dia sudah pasti menjadi idola pertama saya. Namanya Jackie Groenen, usianya 22 tahun.

***

Embed from Getty Images

Groenen bermain untuk klub top Bundesliga Jerman, FFC Frankfurt. Di sana, Groenen bermain sebagai gelandang serang. Namun, di timnas Belanda, dia diberi peran lebih bertahan oleh pelatih Sarina Wiegman dalam formasi andalan 4-3-3. Fungsi itu dijalaninya dengan sangat baik. Groenen berhasil mencuri hati masyarakat Belanda, meski tidak pernah tampil di kompetisi dalam negeri dan baru menghuni skuat Oranjeleeuwinnen selama setahun belakangan.

Peran orang tua sangat besar dalam perkembangan karier Groenen. Sang ayah, Jack, melatih sendiri kemampuan Jackie kecil dan kakaknya, Merel, di halaman rumah mereka. Jack membuat gawang kecil lengkap dengan jaringnya dan saban sore menghabiskan waktu mengolah si kulit bulat.

“Saya sadar anak seusia mereka, antara lima hingga sepuluh tahun, butuh banyak latihan. Tidak hanya satu setengah jam setiap pekan, tetapi lima sampai sepuluh jam setiap pekan. Mereka dalam usia optimal untuk belajar,” terang Jack kepada Michiel de Hoog dari De Correspondent.

Ketika Jackie dan Merel mendapat kesempatan bergabung dengan SG Essen di Jerman, Jack rela mengantar mereka jauh-jauh dari kota domisili mereka di Tilburg dengan berkendara mobil. Di bangku belakang, Jackie kerap dengan tekun menyimak rekaman video penampilan Dennis Bergkamp dan Johan Cruyff.

“Di rumah, ayah saya selalu memberi contoh permainan Cruyff. Saya selalu menyaksikan video permainannya di mana pun berada. Terkadang bahkan di bangku belakang mobil,” ceritanya kepada Frankfurter Rundschau, yang tak ragu menjulukinya “Cruyff wanita”. Tidak heran jika ini menjadi alasan Groenen memilih mengenakan nomor punggung 14.

Seperti halnya kutipan tenar Cruyff, di dalam ketidakuntungan ada keuntungan. Tubuh mungil Groenen (bertinggi badan hanya 1,63 meter) bukan halangan baginya dalam menjawab keraguan. Saat membela Chelsea pada 2014 hingga 2015, dia dijuluki “Si Semut” karena kemampuannya dalam menggerakkan lini tengah seakan dengan kekuatan dua pemain sekaligus.

“Masalahnya bukan terletak pada postur, tapi perhitungan. Kapan seharusnya saya mencegat bola? Kapan saya harus menghalangi lawan? Terkadang saya membiarkan lawan mendapatkan bola dan kemudian setelahnya saya rebut. Kalau harus berkonfrontasi, peluang saya lebih kecil daripada pemain lain yang bertinggi badan 1,8 meter,” bebernya kepada Metronieuws.

Embed from Getty Images

Keluwesan Groenen di lapangan hijau terbantu berkat cabang olahraga lain yang ditekuninya, yaitu judo. Dia bahkan pernah tiga kali menjuarai kejuaraan judo kelompok usia di bawah 15 tahun di Belanda. Pada 2010, Groenen merebut medali perunggu kejuaraan di bawah usia 17 tahun Eropa.

“Saya banyak belajar dari judo. Mengambil waktu yang tepat, keseimbangan yang tepat. Saya tahu kapan harus melompat menghindari tekel supaya tidak melukai diri sendiri,” ujarnya dilansir FFussball.

Karier judo Groenen terhenti saat berusia 17 tahun karena klubnya saat itu, FCR Duisburg, keberatan akibat pemain mereka mengalami cedera pinggul sehari sebelum pertandingan. Sepakbola lantas menjadi pilihan utama Groenen.

“Kedua olahraga itu saling mengisi, tapi pada akhirnya judo terlalu berisiko. Saya harus memilih dan sepakbola selalu menjadi cinta pertama saya,” bilangnya seperti dikutip Trouw.

***

Penampilan Groenen terus meningkat sepanjang turnamen. Groenen tampil sangat dominan pada laga ketiga menghadapi Belgia. Itu merupakan laga penuh ironi bagi Groenen. Dia hampir saja membela timnas Belgia ketika ada masalah antara orang tuanya dan KNVB. Namun, berkat campur tangan FIFA, Groenen tidak dapat berpindah timnas karena tidak memegang paspor Belgia saat memperkuat timnas junior Belanda. Akhirnya, Groenen memutuskan tetap berseragam jingga.

Tinggal di Tilburg yang dekat dengan perbatasan Belgia, Groenen memiliki banyak kerabat di negara tetangga itu. Keluarga dan teman datang menyaksikan pertandingan pamungkas Grup A yang kebetulan pula diselenggarakan di Stadion Willem II, Tilburg. Groenen tampil impresif malam itu.

Groenen berkontribusi pada seluruh gol yang memenangkan Belanda, 2-1. Pada menit ke-26, akselarasinya di kotak penalti dijegal oleh Maud Coutereels. Hadiah penalti pun sukses dimanfaatkan kapten Sherida Spitse. Belgia sempat menyamakan kedudukan, tetapi Groenen kembali mengubah keadaan. Umpan panjangnya diterima Lieke Martens, yang kemudian menendang bola membentur Heleen Jaques sehingga kiper Justien Odeurs terpedaya.

Belanda maju ke perempat-final. Groenen dapat merasakan, atensi publik kian tumbuh termasuk kepada dirinya. Kini dirinya kian dikenal luas oleh media maupun penggemar sepakbola Belanda. Groenen menjadi idola baru yang selalu mendapat prioritas dalam publikasi. Sebelum turnamen digelar, majalah Voetbal International memasang wajahnya sebagai sampul bersama dengan Vivianne Miedema, Jill Roord, dan Shanice van de Sanden.

Embed from Getty Images

Media juga penasaran dengan hobinya di luar sepakbola. Salah satu episode “Oranje Taxi”, sebuah program dalam kanal OnsOranje, secara khusus menampilkan sosok Groenen. Lalu, kepada Metronieuws misalnya, Groenen membeberkan selera musiknya. Ketimbang musik kontemporer, dia lebih suka mendengarkan Ray Charles, Fleetwood Mac, Stevie Wonder, dan Michael Jackson dari piringan hitam. “Selera musik saya bukan selera yang lazim,” selorohnya.

“Antusiasme di Belanda makin besar [terhadap sepakbola wanita], tapi bagi saya itu bukan sesuatu yang baru. Saya sudah enam tahun di Bundesliga Jerman dan ribuan orang datang menonton setiap pekan. Saya juga terbiasa diwawancara secara reguler,” katanya kepada Metronieuws.

Namun, mahasiswi Fakultas Hukum Universitas Tilburg ini tidak melupakan fokus di atas lapangan. Selain ingin menikmati turnamen, Groenen berkeinginan “menghadapi Jerman di final dan menang 2-1”. Keinginan itu tidak terwujud setelah Jerman ditumbangkan Denmark pada perempat-final. Denmark pula yang menjadi lawan Belanda di final Euro Wanita 2017, Minggu (6/8).

Sebelum laga puncak, Belanda lebih dahulu menyingkirkan Swedia dan Inggris secara berturut-turut pada perempat dan semi-final. Pada dua pertandingan itu, Belanda melesakkan lima gol dan tidak kebobolan. Lagi-lagi Groenen berperan penting.

Lini tengah Belanda begitu dinamis dengan kehadiran Groenen. Kegigihannya terbayar pada pertandingan melawan Swedia. Gol kedua Belanda melalui kaki Miedema diawali upaya Groenen mencuri penguasaan bola lawan. Tim Studi Teknik UEFA pun mengganjar penampilan Groenen dengan penghargaan pemain terbaik pertandingan.

Begitu juga saat menghadapi Inggris. Groenen berada di banyak tempat dan seolah tak tertandingi. Dia memberikan assist yang memudahkan Miedema membuka keunggulan Belanda. Dominasi lini tengah menjadi kunci kemenangan Belanda untuk menembus final Euro Wanita pertama dalam sejarah.

***

Sejarah baru lahir pada final Euro Wanita 2017. Lahir juara baru setelah kejuaraan terus menerus didominasi Jerman selama 22 tahun terakhir. Kedua finalis, Denmark dan Belanda, menjadi negara keenam dan ketujuh yang mampu tampil di babak puncak. Belanda, yang menaklukkan Denmark 4-2 lewat laga yang berjalan seru, tampil sebagai juara keempat dalam sejarah turnamen setelah Jerman, Norwegia, dan Swedia.

Groenen menjadi bagian dari sejarah itu. Ketika Belanda tertinggal setelah Nadia Nadim sukses mengeksekusi penalti ke gawang Sari van Veenendaal pada menit keenam, Groenen menginisiasi sebuah serangan balik. Kombinasi visi dan akurasi umpan Groenen memberikan Van de Sanden ruang yang dibutuhkan untuk mendobrak pertahanan Denmark. Umpan silang yang disodorkan Van de Sanden dimaksimalkan Miedema menjadi gol balasan.

Berkat penampilannya yang mencerahkan turnamen, UEFA tak ragu memasukkan Groenen ke dalam susunan tim terbaik Euro Wanita 2017.

Laga final yang seru itu melahirkan harapan besar atas berkembangnya sepakbola wanita. Laga final Euro Wanita 2017 mencetak rekor jumlah rata-rata 4 juta pemirsa televisi Belanda. Negara Tulip itu juga menjadi tuan rumah Euro Wanita pertama yang selalu menjual habis tiket pertandingan sepanjang turnamen berlangsung.

“Saya pikir tugas penting yang baru saja kami capai adalah memberi inspirasi kepada para anak wanita untuk menekuni sepakbola,” ujar Groenen dilansir FCUpdate.

Sepakbola tidak hanya menjadi milik kaum pria. Sukses Euro Wanita 2017 memberikan anak-anak Belanda, pria dan wanita, idola baru. Akan banyak orang tua yang ingin agar anaknya menjadi Groenen, Miedema, Van de Sanden, dan lain-lain. Jumlah pemain wanita Belanda pun diprediksi bakal meningkat dari catatan musim 2016/17, yaitu 153.001 orang. Hanya Inggris dan Jerman yang memiliki jumlah pemain wanita lebih banyak daripada Belanda.

Meski hanya menikmati dari jauh, pengalaman menyaksikan penampilan Belanda selama Euro Wanita 2017 telah memberikan saya keseruan yang murni dan seorang idola baru.

Embed from Getty Images

Ke Mana Wesley Sneijder Menyambung Karier?

Wesley Sneijder telah resmi memutus kontrak kerja sama dengan Galatasaray 14 Juli lalu, tapi hingga hampir dua pekan berjalan belum diketahui klub tujuan berikutnya gelandang internasional Belanda 33 tahun itu.

Sneijder jelas membutuhkan klub baru yang kompetitif mengingat tahun depan adalah tahun Piala Dunia. Meski timnas Belanda masih terseok-seok di babak kualifikasi, namun Sneijder masih menjadi andalan. Jika Oranje lolos ke Rusia, mereka pasti membutuhkan tenaga sang pengukir rekor caps internasional sepanjang masa.

Lalu, apa saja opsi yang dimiliki Sneijder saat ini?

Bertahan Di Eropa

Mengingat Piala Dunia ada di depan mata, niat awal Sneijder adalah bertahan di Eropa. Serie A Italia menjadi salah satu pertimbangan tujuan. Namun, di antara banyak klub Italia, hanya Sampdoria yang mengajaknya bergabung. Itu pun gagal lantaran pelatih Marco Giampaolo lebih tertarik merekrut Josip Ilicic dari Fiorentina. Meski transfer itu pun gagal terlaksana.

Sempat muncul rumor pendekatan dengan AC Milan, yang sedang giat membangun kekuatan pada pergantian musim ini. Namun, Milan tidak tertarik menjadikan Sneijder sebagai pemain inti. Rumor itu pun menguap begitu saja.

Kembali Ke Eredivisie

FC Utrecht menjadi klub Eredivisie yang paling berminat mendapatkan Sneijder. Untuk diketahui, Utrecht adalah kota kelahiran Sneijder. Menambah kekuatan dengan mendatangkan pemain berpengalaman seperti Sneijder sangat penting karena Utrecht juga berkompetisi di Liga Europa musim 2017/18.

Sementara, mantan klub sang pemain, Ajax Amsterdam bereaksi dingin. Mungkin karena pelatih Marcel Keizer sudah memiliki Hakim Ziyech untuk berperan di posisi bermain Sneijder. Belum lagi memperhitungkan Frenkie de Jong yang siap unjuk gigi musim 2017/18. Sebenarnya ada slot tersedia di dalam skuat Ajax setelah musibah yang menimpa Abdelhak Nouri, tapi tampaknya Keizer memilih mengakomodasi stok yang dimilikinya, termasuk para pemain muda yang ada di skuat Jong Ajax.

Namun, setelah sempat dikabarkan melakukan pendekatan serius, Utrecht kini tampaknya tak lagi menjadi klub terdepan dalam antrean tanda tangan Sneijder. Seperti yang dilansir Voetbal International, presiden Frans van Seumeren menyatakan nilai gaji Sneijder terlalu tinggi buat Utrecht. Di Galatasaray saja, Sneijder menerima bayaran €14 juta per tahun.

MLS

Liga utama Amerika Serikat ini diyakini menjadi tujuan sesungguhnya Sneijder. Bukan hanya karena rumor yang mengaitkannya dengan Montreal Impact atau Los Angeles FC (LAFC), tetapi ada pula faktor keinginan sang istri. Yolanthe Cabau, seorang model jelita, ingin merintis karier di dunia hiburan Amerika Serikat. Tentu niat itu akan kesampaian jika Sneijder setuju menjadi salah satu designated player MLS.

Montreal sudah mengajukan tawaran bergabung kepada Sneijder. Jurnalis beIN SPORTS, Tancredi Palmeri, pernah menyiratkan kemungkinan Sneijder bergabung lebih dahulu dengan klub saudari Montreal di Serie A, Bologna, sebelum akhirnya pindah sepenuhnya ke MLS.

Los Angeles diyakini menjadi tempat yang paling diinginkan Sneijder (dan istri) jika pindah ke Amerika Serikat, tetapi LAFC baru akan aktif di MLS musim 2018.

Liga Tiongkok

Sneijder pernah menampik godaan wah dari Jiangsu Suning tahun lalu, tetapi terbuka kemungkinan dia berpikir lagi jika ada tawaran serupa dari klub-klub liga Tiongkok yang beberapa tahun terakhir dikenal royal dalam belanja pemain. Meski ada penerapan aturan baru yang memperketat transfer pemain asing di Tiongkok, setidaknya status bebas transfer meringankan langkah klub peminat untuk mendapatkan Sneijder. Dengan usia yang sudah tidak muda, tentu tidak banyak kesempatan bagi Sneijder mencari klub yang bersedia menganggarkan gaji mahal untuknya.

Back to top